Aku Ingin Berhenti, Tapi…

maukah kau

Sekelebatan, aku menyadari bahwa aku sedang memilih sebuah misi mustahil.

Aku membiarkan Allah menentukan ke mana arah perjalananku kali ini. Beberapa waktu lalu, supir busku mengatakan bahwa seluruh penumpang akan dialihkan ke bus lain karena ada kerusakan mesin. Semua menggerutu. Termasuk aku. Tetapi semua pun bersyukur karena setidaknya kami semua selamat daripada memaksakan diri tetap ada di bus yang sama.

Aku sempat bingung di pinggir jalan. Aku harus ke mana? Menunggu bus jurusan yang sama? Tetiba aku berpikir akan naik bus pertama yang datang, untuk tujuan yang sama. Tak perlu menunggu lama. Aku cukup terdiam sejenak ketika bus itu datang. Aku mengenalnya. Aku memutuskan untuk naik dan memilih duduk di dekat jendela.

Perjalanannya menyenangkan sekaligus menenangkan. Allah tahu aku cukup lelah karena bus sebelumnya berputar tak jelas dan terlalu banyak berhenti tanpa alasan. Membuang banyak waktu dan tenagaku, meski akhirnya aku menyadari bahwa ini bagian dari skenario-Nya yang luar biasa. Seperti biasa.

Di dalam bus ini, aku menemukan kehangatan yang ditawarkan tanpa perlu kuminta. Banyak hiburan dan celoteh riang para penumpangnya. Tanpa sadar, aku sering tersenyum menikmatinya. Semoga bus kali ini bisa membawaku menuju terminal akhir tepat waktu hingga kamu tak perlu menunggu terlalu lama.

(tulisan ke enampuluh dari beberapa tulisan)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s