Mendidik Warga Kota Bandung Tak Semudah Dibayangkan

Membaca sebuah tautan di Twitter: Dicari! Perusak Bunga Hingga Nama Negara di Monumen Asia Afrika

Kemudian aku membaca twit Kang Sodiq tanggal 26 April:

“Warga Bandungnya belum siap jadi modern. Sebagus apapun walikotanya.”

Kalau aku menyadari hal ini dari beberapa foto di grup relawan formasi Indonesia, yang kemudian dibuatkan caption oleh tim Asian African Carnival 2015 seperti ini:

KAA-Fasilitas Publik-Batu 2 KAA-Fasilitas Publik-Kursi KAA-Fasilitas Publik-Pot Bunga

Ini yang ketahuan dan segera dibereskan oleh pekerja dari pemkot, seperti dalam twitnya Kang Emil , walikotaku tersayang tanggal 27 April:

“Bunga, bangku, bola, trotoar sudah dirapihkan dan dibersihkan lagi. Awas kalo dirusak dan dikotori lagi ya.”

pembersihan trotoar AA

Mungkin benar, secanggih apapun rencana kota dari sang pemimpin, jika tidak disertai oleh kesadaran dari warganya, hal sia-sia inilah yang akan terjadi. Pasti tahu kan tulisan D A G O yang ada di Cikapayang? Lihatlah ke sana, betapa ‘bersih’ semua huruf yang berdiri tegak. Yeah, tangan-tangan pemilik otak vandal dan barbar itulah yang menyebabkan keindahan kota Bandung tercemar.

Kemudian, Kang Deni mengumpulkan tiga tersangka perusakan yang menyebalkan dari sekitar lokasi yang sama:perusak kota bandung Kata Kang Emil: Kehedz Mind. ROTFL. Plis atuhlah…

Oh satu lagi deh :

KAA-Fasilitas Publik-Pot Bunga 2
ini sih jelas keliatan alay banget dah!

Nah, jadi, ada apa dengan warga Bandung? Eits, apa benar mereka semua itu warga Bandung? Harus diselidiki toh? Siapa pun, jelas, telah menghancurkan apa yang telah dipersiapkan, diperbaiki, dan ditata dengan baik oleh pemerintah kota Bandung.

Bandung someah? Iya. Tetapi jika akhirnya dinodai oleh hal-hal primitif seperti foto di atas, mau jadi apa? Kapan warga Bandung benar-benar mau belajar menjadi dewasa dan modern? Apakah sekarang tengah terjadi gagap budaya? Culture shock tingkat semesta?

Laporan rusaknya tempat sampah umum, terbengkalainya halte bus, dan pembuangan sampah sembarangan itu merupakan rendahnya integritas kita sebagai manusia yang katanya beradab. Tak heran, meski plastik sampah hitam yang ditempatkan di setiap sudut saat ada acara atau kegiatan sudah terlihat jelas, tangan dan kaki pemalas enggan mendekat dan akhirnya memilih untuk menjatuhkan sampahnya sembarangan. Halte bus dicoret, kacanya dipecahkan, dan ubinnya dicongkel… Pintar yah? Hebat lah.

Benarkah warga Bandung belum siap modern? Tak perlu jauh lah melihat ke sudut Cibaduyut atau Cigadung atau Cihampelas… Dengan mata kepalaku sendiri, yang rumahnya dekat denganku, membuang sampah dengan santainya di sembarang tempat. Halaman rumahku salah satu sasarannya. Mau gak mau, aku menegur mereka (teman-teman anakku) mulai dari suara pelan dan bahasa baik sampai dengan nada jengkel jika orangnya dia lagi, dia lagi. “Tolong ya, sampahnya dibuang jangan sembarangan.” Sampai, “Kamu ambil lagi sampahnya dan cari tempat sampah terdekat. Kalau gak ketemu, taruh di kantong celana.” Akhirnya, “Rumah saya bukan tempat sampah umum. Kamu diajarin gak sama orangtua dan guru, gimana caranya buang sampah?” *tanduk setannya keluar😛

Dimulai dari diri sendiri. Bahkan terkadang, dalam rangka mengetes, akulah yang ditegur anak, “Eh, Bunda! Simpen aja dulu tuh plastiknya. Ntar kalo nemu tong sampah, baru buang.”🙂

Tugas ini memang tak mudah. Kamu bisa menjadi bagian dari solusi atau masalah, terserah pilihanmu.  ;)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s