Ingatan yang Semakin Memudar dan Singkat

Bukan bermaksud lebay. Bukan juga mencari pembenaran. Entah masuk kategori pikiran dan perasaan yang mudah panik seperti apa kali ini, namun aku merasa ada yang janggal dan menakutkan.

Aku orangnya memang ceroboh binti teledor. Kelemahanku sejak kecil. Ada saja yang terlupa atau terlewat dikerjakan. Tetapi kemudian, seperti biasa, aku mudah menyelesaikan dan memperbaiki semuanya dengan baik.

Hingga aku menyadari setahun terakhir ini ada yang tak biasa dari diriku sendiri. Aku mulai mudah sekali lupa. Bahkan beberapa kali, benar-benar lupa apa yang pernah kukerjakan, kutulis, atau kuucap. Bukan sengaja. Aku sampai sesak napas bingung harus menjelaskannya seperti apa. Aku ketakutan dianggap mencari pembenaran, defensif, mencari kambing hitam atau apalah.

Aku juga semakin sering terbata dan belepotan ketika berbicara dengan orang lain. Aku semakin sering salah ketika menulis. Semuanya bermuara pada… Semakin singkatnya ingatanku. Umar juga kadang protes, “Masa sih, Bunda lupa?” Salman juga kesal, “Ah, Bunda gimana sih bisa gak inget?” Berulang kali aku meminta maaf kepada mereka, berharap mereka mengerti…

Aku pun mulai sering meminta maaf bila lupa nama orang yang baru kukenal. Aku hanya bisa ingat wajahnya tanpa bisa mengingat namanya. Kemudian, aku tak lagi bisa mengingat hal-hal kecil yang biasanya dengan mudah menempel di benakku. Sebentar saja aku telat menuliskan sesuatu yang kuingat, blas lupa semuanya. Aku memang pelupa. Itu sebabnya aku memilih menjadi penulis. Tapi sekarang, apa yang mau kutulis saja, sudah lenyap menguap entah ke mana…

Terakhir adalah sebulan ini, aku merasa ada yang ganjil dan harus kukerjakan dengan baik. Aku menuliskannya. Ternyata apa yang diterima dan dicerna otakku, berbeda dengan apa yang seharusnya kukerjakan. Aku merasa seperti orang tolol. Aku terperangah ketika harus dijelaskan kembali yang kesekian kalinya. “Lu ngerti gak? Lu paham gak? Lu inget gak?” Aku hanya bisa menelan ludah. Semuanya blank.

Jujur, aku ketakutan. Aku tak mengerti mengapa kepalaku bisa seperti ini. Tapi satu hal yang aku sadari penuh, sekitar 5 tahun belakangan ini, kepalaku mudah nyeri tak tertahankan meski hanya jeda semenitan setiap terasa. Aku merasa baik-baik saja. Tapi ternyata tidak.

Bagaimana kalau aku tak lagi bisa mengenali kedua anakku? Bagaimana aku bisa memenuhi hak hidup mereka jika aku tak bisa bekerja dengan baik? Bagaimana jika aku benar-benar kehilangan ingatan, apakah aku bisa mengenali Allah yang tak berwujud? Bagaimana aku bisa yakin aku kembali pada-Nya dalam keadaan Islam?

Aku berharap ini hanya selintas ketakutan yang tak memiliki makna, lalu terlupa, kemudian tak pernah terjadi sama sekali.

Entahlah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s