#TemuRelawanAAC : Sesuatu yang Baru

Seru. Kata pertama untuk pertemuan sebuah pre event yang bakalan luar biasa. Per sepuluh tahun, para pemimpin negara yang dulu bergabung dalam Konferensi Asia Afrika akan berkumpul di Bandung. (orasi Kang Ridwan Kamil, walikota Bandung, di Alun-alun, 12 April, sekitar pukul 11.30 WIB). Jadi, kalau tahun ini aku ikut, 10 tahun lagi… Euh… *mikir

Jadi, semua tuh berawal ketika aku sedang menikmati berita di linimasa Twitter. Tetiba ada pemberitahuan bahwa kegiatan internasional KAA yang akan diselenggarakan tahun ini di Jakarta dan Bandung, membutuhkan banyak relawan. Aku tahunya yang menjadi panitia inti adalah Sandy (@djonk_) Makanya aku bertanya lumayan bawel ke dia😀 Setelah aku membuka informasi pendaftarannya, tanpa pikir panjang lagi, aku menyatakan ikut serta ambil bagian. Khas Aries banget, mikirnya belakangan😀

selesai acara, sebelum bubaran.
selesai acara, sebelum bubaran.

Singkatnya, setelah rada rusuh sana sini berhari-hari… Tanggal 11 April pukul 8 malam, aku baru mendapat info bahwa acara Temu Relawan AAC akan mulai dilakukan pada pukul 07.15 WIB. Maka seluruh relawan yang sudah mendaftar ulang diharapkan hadir pukul 06.20 WIB. NYENGIR! Doh… Pegimane ceritanya ini? Ada enam titik kumpul Dari Cibiru pukul berapa? Mana ada perintah bawa kuas untuk mengecat pun. Blah!

Tapi setelah pikiran rada tenang… Aku mikir. Kayaknya gak bakalan ada acara mengecat nih😛 Aku mencoba mencari info tambahan hingga tengah malam di page dan grup FB juga linimasa Twitter. Setelah merasa tak ada yang perlu dicari, akunya gak tenang untuk tidur. Kebiasaan jelek banget. Sepuluh menit sebelum subuh, langsung bangun dengan kliyengan😦

Selesai memasak, aku langsung berangkat ke Balaikota, titik kumpul yang kupilih, dengan dresscode hijau, my favorite color. Tapi berhubung masih pagi, supir angkotnya slow motion begitu. Hadeh! Ditambah lagi, aku ketiduran di angkot kedua. Sadar bangun… Sudah dekat arah Kebon Kalapa! Hastagah! Kaget, lari-lari ke arah Balaikota karena tak sempat berpikir untuk cari angkot, ojek, atau apalah.

12 April 2015. 07.15 sharp. Sampai di alun-alun, sudah banyak yang berkumpul dan mendapat kelompok. Aku bengong bego deh. Tanya ke panitia, harus absen dan baris di mana? Akhirnya aku masuk di kelompok 4 dengan ketua Talia. Semua tim hijau di Balaikota disebut batalyon 2. Aku yakin, aku adalah anggota paling muda di kelompokku. *ngakak koprol😀

Setelah wasting time hampir 2 jam di Balaikota teu puguh (and yes, as I said last night! gak jadi kan, ngecatnya?😛 ) Kami berjalan kaki ke Alun-alun saat menjelang tengah hari dengan kondisi batere hape aku dying dong.  Lumayanlah, aku masih bisa mengimbangi langkah anak-anak muda itu. Jalan cepat😀 Hakhakhak (((ANAK MUDA))) Kampret😛

Sampai di Alun-alun sudah terik dan kaki langsung terbakar karena telanjang menginjak rumput sintetis. Kacaulah. Pakai jaket salah, pakai payung salah. Bawa seliter air nyaris habis. Beuh ah. Tim Talia (dan mostly tim hijau lainnya) bergerak cepat mencari tempat yang oke untuk tampil eksis. Halah! Dan… yang tak terduga sekaligus mengejutkan adalah acara joged di siang hari. Panitia giling semuara! So-called flash mob ini dilakukan dengan kondisi perut kosong dan ruang gerak yang sangat sempit. Sekitar 20 menitan (lebih keknya sih) bergerak lumayan bikin pusing tapi seru! Asli heboh! Jujur, aku mulai kewalahan di sini. Apa hanya aku yang kepayahan mengikuti gerakan panitia untuk gerak? Gak juga. Beberapa kulihat juga makin berantakan gerakannya.

Saat yang dinanti tiba. Orasi Kang Emil (Ridwan Kamil). Dengan khas banyolan dan semangatnya (plus suara serak-serak sember becek😛 ), beliau menyemangati para relawan dan berterima kasih plus takjub ada yang datang dari luar kota. Segala keistimewaan Bandung menjadi bagian dari sejarah dunia harus diingat juga dengan, “Kita adalah generasi turun tangan, bukan tunjuk tangan, ” ujar Kang Emil.

di mana pun, narsis itu wajib :D
di mana pun, narsis itu wajib😀 hanya saja, bagian sepatu yang menginjak rumput😦

Acara hari ini ditutup dengan botram bersama. Ramai sekali. Kelemahanku berikutnya adalah gak bisa melihat banyak orang. Apalagi hampir menutupi Alun-alun. Kepala langsung berdenyut. Sudahlah, mari makan! Selesai makan, lanjut shalat dhuhur dan kembali ke Balaikota. Lalu bubar pulang!

Terima kasih yaa Allah, atas pengalaman seru hari ini♥ Serunya masih terasa. Plus pegalnya. Hehehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s