Jangan Pernah Penasaran… Dan Aku Pun Menyesal

Kata orang, kalau kita kepo (penasaran tingkat galaksi bima sakti), biasanya berujung dengan dongkol dan jengkel dalam hati.

Sebelum aku menulis postingan ini, tentu saja karena diawali oleh kekepoan terhadap sebuah akun di Facebook yang tak sengaja kutemukan sebelumnya.

Oh ya, ini sekadar OOT.
Kepo = Knowing Every Particular Object (ingin tahu setiap urusan orang lain).
Jadi, kata kepo itu berasal dari kata keypo yang merupakan bahasa Hokkian (bahasa yang digunakan oleh komunitas Tionghoa di Medan, Pekanbaru, dan Palembang), yang memiliki arti:
Ke = Bertanya, Po (Apo) = Nenek-nenek
Jadi artinya nenek-nenek yg suka bertanya. Tapi arti dari kata keypo ini bisa diartikan juga yaitu ingin tahu atau penasaran, dan kata ini memiliki konteks yang sama sekali tidak negatif.

Kemudian seiring berjalannya waktu, kata teresebut lama-lama menjadi kata serapan di bahasa Singlish (Singaporean English), lalu lahirlah kata kaypoh. Kaypoh berarti busybody atau “to act as a busybody”. Busybody sendiri artinya adalah orang yang suka campur tangan dalam urusan orang lain.

Kembali ke persoalan kenapa saat ini aku agak manyun. Karena justru sebenarnya karena tidak sengaja membaca sebuah kata sederhana di Facebook dan berujung nelangsa. (*jiah, gue bisa gitu nelangsa? ngik!) Lantas tetiba saja aku menyadari satu hal. Pria itu sering menyebut sebuah kota di setiap obrolan dunia maya kami. My Lord! Jadi sebenarnya, karena ada lobster di balik rempeyek, makanya candaan dia selalu menjurus ke kota itu?

Ah, aku sedih. Tapi gak bisa apa-apa juga sih 🙂 Da aku mah apa atuh… 😛

Bukan sekali ini saja aku kepo terhadap sesuatu hal berkaitan dengan seseorang. Prosentasenya, dari 10 kali kepo, 8 kali berakhir dengan gondok maksimal. Sisanya bikin senyum. Yaelah!

Bukan hanya soal lawan jenis. Kalau penasaran terhadap suatu peristiwa, atau gosip perempuan, atau apalah, kadang berakhir misuh-misuh. “Tau gini gue gak usah baca deh!” Hahahaha 😀 Jadi ingat ketika menonton salah satu episode Chibi Maruko (versi pemeran manusia, bukan kartun). Maruko dan kakaknya bergumam menyesal karena kepo dengan kenangan masa lalu orangtuanya. “Jadi mereka dekat karena kotoran anjing? Duh!” “Tau begitu, tadi seharusnya tak bertanya.”

Aku salah menafsirkan candaan pria itu, setiap kali dia menyebut satu nama kota. Kupikir dia benar meledekku. Sejatinya, dia sedang menikmati bahagianya sendiri karena perempuan yang ada di hatinya, tinggal di kota tersebut. Waduh… Combo nih betenya. Kepo berakibat patah hati dan menyesal sudah baca.

Tapi rasanya justru ada sesuatu yang menggerakkan tanganku hingga jemari ini mengklik halaman Facebook dia. Memang harus terbaca. Memang harus ketahuan. Memang harus langsung sadar… Bahwa aku sudah bermimpi terlalu tinggi. Saatnya turun ke bumi, menyadari kenyataan, dan tentu saja melupakannya.

Nah, kepo tak selamanya buruk sih. Mungkin saja itu cara Allah ingin menunjukkan siapa dirinya, agar aku tak larut dalam mimpi hingga susah bangun 🙂

Begitu saja.

(tulisan ke limapuluhdelapan dari beberapa tulisan)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s