Déjà vu In An Hour

Rute: Pasar Rebo – Depok. Kendaraan: Angkot T19. Waktu: Tengah hari.

Ada yang aneh ketika aku melewatkan sekitar empat angkot jurusan yang sama di depan lampu merah Pasar Rebo di dekat halte TransJakarta itu. Aku selalu memikirkan sebuah kejutan kecil dariNya. Mungkin juga kali ini. Entah. Aku bahkan sedang tak ingin berpikir tentang apapun.

Sebuah angkot berwarna merah berhenti persis di bawah lampu merah. Aku berlari kecil mendekat. Terlihat hanya di sebelah supir yang kosong. Di belakang, sudah 2/3 terisi. Coincidence. I think not. Baru duduk dan bersandar di pintu, seseorang membukanya tanpa mengucap permisi. Jengkel. Tapi akhirnya aku bergeser ke tengah.

Seorang pemuda jangkung berkaus lengan panjang warna merah bata dan berkaca mata, membawa daypack hitam, dan bercelana jeans hitam. Jemarinya lentik. Kukunya agak panjang namun bersih dan rapi. Dia sibuk dengan ponsel Android-nya dan aku juga meneruskan membaca buku meski akhirnya tak benar-benar khusyuk membaca.

Ya. Ada yang aneh.

Lengan kanannya menempel di depan lengan kiriku. Mungkin harusnya biasa. Toh aku juga sudah jutaan kali duduk di sebelah pria dengan beragam tipe di bus atau angkot. Aku menangkap ada sesuatu yang beda. Berulang kali aku ingin melihat seperti apa wajahnya. Aku hanya berhasil melihat tulang rahang sebelah kanan. Wajahnya biasa. Tak tampan. Dia juga bukan penyuka parfum sepertinya. Untungnya, dia tak memiliki bau badan yang kukhawatirkan 😛

Siapa cowok ini? Sepanjang perjalanan, auranya beda dengan makhluk Mars asing lain yang selama ini duduk di sampingku di angkutan umum. Aku tak tahan untuk tersenyum setiap kali merasakan sesuatu dalam dirinya ‘mengajak berbincang’. Sepertinya aku mengenal dia seumur hidupku. Tapi ketemu juga baru di angkot itu!

Perasaan aneh dan penuh drama itu pun mulai merasuk. Nyaman dan aman bersama dia. Rasa yang pernah ada sebelumnya. Entah kapan dan di mana. Was it him? Dunno. I just got blank. Selama sejam bersamanya, tak ada rasa gelisah atau asing atau apalah.

Ketika dia memasukkan ponselnya ke dalam tas saat angkot melewati Jalan Sawo, aku tahu kebersamaanku dengannya segera berakhir. Aku menebak-nebak… Kober? Ah, bukan. Satu tebakan lagi. Kapuk. Ya, benar. Ketika dia turun, kesempatanku melihat wajahnya hanya sekali. Kuberanikan diri saat dia hendak menyeberang. Cukup tiga detik. Saat angkot kembali melaju, aku merasa setengah jiwaku melayang. Norak ya? Entahlah.

Kutebak usianya sekitar 25 tahun. Mungkin mahasiswa S2.

Terima kasih, siapa pun kamu. Sudah sukses membuatku merasa terlempar ke masa yang entah kapan. Benarkah kita pernah bertemu sebelumnya?

(tulisan ke limapuluhtujuh dari beberapa tulisan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s