Taushiyah Singkat Ustadz Salim A. Fillah

Mencoba mengumpulkan lagi kumpulan taushiyah menenangkan jiwa dan ruhani dari Ustadz Salim. Semoga bermanfaat🙂

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

A.

1) Kekufuran, kejahatan, & maksiat di dunia terasa ramai, penuh kawan, bahkan beperlindungan. Tapi di akhirat; ia kesendirian bersesalan.

2) Hakikat ini termaktub dalam firmanNya; “Maka kami tidak mempunyai pemberi syafa’at. Dan tidak pula teman yang akrab.” {QS26:100-101}

3) Segala kemesraan dunia kan putus di akhirat, “Para kekasih pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain..” {QS 43: 67}

4) “..Kecuali orang-orang bertaqwa.” {QS43:67}, yang saling cinta karena Allah, dengan cara nan diridhai Allah, demi mencari ridha Allah.

5) Terdengar jerit insan yang tak taqwa dalam cinta, “Aduhai binasa & celaka aku, andai tak kuambil Fulan sebagai kekasihku..” {QS25:28}

6) Adapun iman, taat, & kebajikan; walau terasa sunyi & sendiri; ia ikatan yang meriah & indah. Tersambung kita melintasi tempat & zaman.

7) Kemesraan yang kan abadi itu ialah; “Wahai Rabb kami, ampunilah kami & SAUDARA-SAUDARA yang MENDAHULUI kami dengan iman..” {QS59:10}

8) Dan kita mohon pada Allah agar menjaga kebersihannya, “Dan jangan jadikan di hati kami sesak dendam kepada sesama mukmin..” {QS59:10}

9) Sungguh kebersamaan dalam taqwa tidaklah mudah tuk hawa nafsu kita yang cenderung pada suka-suka, enak-enak, lalai, & menunda taatnya.

10) Kemesraan ukhrawi di dunia jadi berat sebab penuh nasehat; kawan taqwa takkan segan meluruskan yang bengkok, membetulkan yang keliru.

11) Maka “Sabarlah pada dirimu membersamai orang-orang yang menyeru pada Rabbnya pada pagi & petang semata mengharap ridhaNya.” {QS18:28}

12) Ukhuwah memang tak meniadakan masalah; ia mendampinginya agar indah. “Hanyasanya mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah..” {QS49:10}

13) Inilah cara menjaga diri dalam kebaikan, “Hai insan-insan beriman, bertaqwalah pada Allah & bersamailah orang-orang benar.” {QS9:119}

14) Demikian bedanya kemesraan semu nan berujung sesal & seteru; dengan kebersamaan taqwa yang meski berkendala, kan sampai jua ke surga.

15) Ia mimbar cahaya, dicemburui Nabi & syuhada’. Bahkan walau di dunia sempat dicekam dendam, iman kelak mempertemukan dalam kenikmatan.

16) Yakni “Dan Kami cabut segala dendam di hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara, duduk berhadapan di atas dipan-dipan.” {QS15:47}

17) Hakikat maksiat sunyi, sesal, & seteru, walau kini mesra, semarak, & syahdu. Taat itu nikmat & hangat nanti, walau kini gerah & sepi.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

B.

1) “Tidakkah kau perhatikan, bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti misal pohon yang baik..

2) “..Akarnya teguh & cecabangnya menggapai langit. Pohon itu memberikan buah pada tiap musim dengan izin Rabbnya..” {QS14:24-25}

3) “Dan umpama kalimat buruk seperti pohon yang buruk, yang telah tercerabut dari permukaan bumi, tiada bertetap sedikitpun..” {QS14:26}

4) Betapa indah pohon thayyibah; ia bersih, penampilannya menarik, kekuatannya dahsyat, kerindangannya sejuk, harum bunganya disukai.

5) Bersebab akar yang kukuh menopang lagi menjaminkan air & makanan, tegak pokoknya menjulangi langit, jadi penjuru nan tampak dari jauh.

6) Ia bahkan memberi buah, bukan cuma “tsamarat”, tapi “ukul”. Jika buah dilempar kena muka orang, ia masih disebut “tu’ti tsamarataha”.

7) Tapi “tu’ti ukul” bermakna, pilihkan buah terlembut, terharum, termanis; kupas hati-hati, iris kecil-kecil, tempatkan di wadah indah..

8) Kemudian sajikan dengan terhias, tusuk dengan garpu, & suapkan pada mereka yang lapar disertai senyum termanis yang disaksikan jagat.

9) Demikian seyogyanya iman; ‘aqidah kukuh menggerakkan ‘ibadah yang menggapai langit, menjemput dariNya akhlaq yang manis merasuk diri.

10) Hingga jadi saranaNya menebar maslahat bagi sesama; bukan hanya memberi; tapi akhlaq jelita dalam berbagi mengilhamkan semesta bakti.

11) “Buah di tiap musim”; akhlaq kokoh tak terpengaruh keadaan; kaya atau miskin, lapang atau sempit, nikmat atau musibah; tetap manis.

12) Lalu kalimat buruk? Memang jarang ada keburukan yang murni; maka Allah membuat umpama yang baik maupun buruk sama-sama sebagai pohon.

13) Hanya saja; pohon yang satu kokoh berakar, menjulang mekar, & buahnya bertebar. Pohon yang lain pokoknya tercerabut, menanti dibakar.

14) Kebaikan yang mengakar itu takkan mati; meski keburukan menerpanya, atau tergilas di jalanan; dalam runduk, akarnya tetap menggemuk.

15) Pun; keburukan itu tidaklah hidup kecuali sekedar menghabiskan serpih sisa kebaikan yang melekatinya, lalu kejahatannya menyempurna.

16) Saat itulah Allah mencerabutnya dari hati semesta, tiada lagi pendukungnya, lalu ia binasa; berpindah alam jadi bahan bakar neraka.

17) Adapun pohon yang baik telah menggapai langit. Semua hamba menuju Rabb setelah matinya; sedang ia mewajah Allah sejak dalam hidupnya.

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s