Katanya, Aku Harus Melupakanmu

Seminggu terakhir, ada yang aneh dengan perasaanku. Aku tahu siapa penyebabnya. Tak harus menunggu lama, aku menangis sejadi-jadinya. Kenangan itu muncul ke permukaan tanpa kuminta.

Tak sanggup menanggungnya sendirian, aku mencurahkannya kepada seorang teman yang sangat baik dan mengenal kami berdua cukup baik. Ya, aku dan kamu, pria yang membuatku tersentak tibatiba itu.

Aku berkata padanya, “Aku kangen dia. Banget. Gatau kenapa. Sakit hati banget kalo inget…”

“Ngerti, An. Tapi kamu harus bisa melepaskannya. Melupakannya. Dia bukan jodohmu,” jawab temanku menenangkan.

“Masih gak rela. Masih shock meski ini masuk tahun kedua.” Aku gemetar. Ah, menyebalkan sekali perasaan ini!

“Dia sudah ada yang punya, An,” temanku masih berusaha menyadarkan.

Ah, entahlah. Perasaan itu muncul lagi. Menghangatkan rinduku lagi. Semua kenangan itu berlomba muncul menarik perhatianku.

Membayangkan kamu mengajakku keliling dunia, mencicipi kuliner khas tempat yang kita kunjungi. Ceritamu yang penuh semangat tentang mimpi-mimpi dan saat ini, sepertinya mulai terwujud ya?

Aku ingat doa seorang temanku ketika dia menjengukku di Bandung. “Mudah-mudahan jodoh ya, An.” Dua bulan kemudian kamu menikah. Tak ada yang lebih lara dari segala kelabuku saat itu.

Detik ini, aku sedang ingin menikmatinya. Sendirian. Sedikit berharap, kamu pun merasakan hal yang sama. Sejenak saja. Hanya untuk mengurai kusut di pikiran dan menenangkan gemuruh yang berisik di hati.

Temani aku. Sebentar saja.

(brought to you by my mobile)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s