Don’t Make Me Confuse Like This, Lord

Aku marah pada Tuhan. Sekali lagi, manjaku berujung pada perih dan sesak di dada. Aku benar-benar tak memahami humor-Nya kali ini. Tak terduga. Tak meninggalkan sebuah petunjuk. Apapun itu. Aku bahkan tak mengerti jalan pikiranku sendiri.

Aku meminta dengan permohonan yang belum pernah kuajukan sebelumnya pada-Nya.  Vei, Fira, dan Bang Gaw tahu dengan sangat apa yang kubutuhkan. “Kamu yang angkuh, kamu yang keras, kamu yang kepala batu, kamu yang terlalu mandiri. Sampai kapan, An?”Pertanyaan retorik itu selalu ditanyakan di setiap kesempatan mereka ingat dengan kondisiku yang menikmati saat sendiri seperti ini. Egois. Iya. Aku melihat krucil pun sudah menyerah lelah menghadapi kekakuanku. Sejak pindah ke Bandung, Umar selalu berkata yang sama setiap hari, “Aku berdoa supaya aku punya ayah baru. Kita punya keluarga deh.” Salman berbisik, “Aku mau punya adik perempuan.” Sepertinya mereka ingin rumah lebih ramai…

Sejak akhir tahun lalu, tak kudengar lagi doa yang sama. Karena setiap mereka melaporkan hasil doa setelah shalatnya, jawabanku selalu sama. Bertanya retorik, “Emangnya kalau kita bertiga aja, kenapa gitu?” Tak ada lagi pertanyaan, “Bun, kapan nikah?” dari mulut Umar. Dia akan melanjutkannya dengan, “Karena aku gak mau lihat Bunda pusing lagi.” Sementara Salman kadang enggan shalat Jumat hanya karena, “Maunya shalat sama ayah.”

Kini, setelah permintaan mereka tak lagi sampai ke telingaku, kupikir mereka sudah terbiasa dengan kondisi kami yang selalu bertiga. Namun aku lupa… Mereka tetap butuh sosok pria dewasa yang bisa mencontohkan bagamana menjadi seorang lelaki.

Oh, aku terlalu manja ya pemikirannya? Lantas, akan ada yang menyodorkan kisah para ibu single parent dengan banyak anak dan tak menikah lagi hingga wafatnya. Begini, kalau aku masih sulit berdamai dengan diri sendiri dan inginnya tetap sendiri. Kalau berniat menikah lagi, pikiran orang sudah jelek duluan. Nikah untuk apa? Seks semata? No way. Kalau aku mau, aku toh bisa menunjuk pria mana pun dan get laid kapan pun tanpa ikatan sah secara agama. Cangkemmu!

Traumaku berbuah humor dari Tuhan. Aku justru selalu dipertemukan dengan pria beristri atau bujang yang sudah bertunangan atau punya pacar. Maksudnya apa? Aku menertawakan diri sendiri. Cukuplah ya hal itu sebagai pelajaran? Benar? Good 🙂

Ironis, ketika aku meminta dalam kepasrahan yang berada di titik nadir, mengapa Tuhan justru menyodorkan seseorang yang sama sekali di luar dugaanku untuk membenturkan semua yang berlarian di kepalaku selama empat tahun ini?

Membaca tulisannya membuatku menangis sesak napas. Sambil menyusuri kalimatnya, aku bertanya hal yang sama berulang kali pada Tuhan, “Mengapa harus dia? Dia bahkan bukan sesiapa bagiku. Seseorang yang harusnya melakukan itu padaku adalah yang kuminta menjadi imamku. Bukan dia!”

Seseorang yang bahkan milik orang lain, bisa-bisanya Tuhan kirimkan untuk menulis hal-hal tersebut dan ditujukan kepadaku.

If it is not coincidence, then what? Why? How come? Kecuali jika melaluinya aku bisa bertemu dengan siapa yang akan kupanggil dengan, “Ayahnya anak-anak.” Oh ya, ini drama selanjutnya. Aku masih menikmati skenario-Nya. Entah sampai episode berapa…

Aku lelah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s