Hidup Terlalu Singkat Untuk Dipikirkan

Aku sangat terkejut ketika menyadari usia adikku sudah memasuki angka 32. Pun terenyak menerima kenyataan bahwa lima tahun lagi aku…

Lantas aku mencoba mengingat, sudah melakukan apa saja yang bisa membuat bangga orangtuaku? Semakin aku mengingat, semakin lemas dengkul menyadari, nyaris siasia hidupku selama ini.
Di usia sekarang, aku sudah bisa apa? Sudah berbuat apa yang berguna bagi orang lain? Sudah menanam kebaikan apa yang bisa menghasilkan tiket ke jannah? Semakin aku mengingatnya, semakin ciut nyaliku.

Bisakah aku pulang nanti dengan selamat? Berakhir seperti apa hidup di dunia fana ini? Apa yang sudah kuwariskan pada generasi penerusku? Mampukah aku mempertanggungjawabkan semuanya kelak di hadapan Pemilik jiwa?

Bagaimana shalatku selama lebih dari 30 tahun ini? Dengan cara apa aku mencintai Rasul-Nya? Bagaimana aku bisa menghabiskan usia tanpa prestasi?

Aku sempat terbiasa dengan pernyataan sombong, “Bagaimana nanti sajalah!” Dan tak peduli dengan perencanaan matang. Baru tiga tahun ini aku membuka mata dan bertanya pada diri sendiri, “Nanti bagaimana?” Dengan maksud agar segala sesuatunya bisa lebih terencana dan dilakukan dengan maksimal.

Aku baru menyadari bahwa hidupku sudah melewati tiga fase. Aku merasa semuanya telah terhenti ketika Mama wafat, di masa terakhir fase pertamaku. Aku semakin sering bertanya dengan takut, “Selanjutnya apa?” Di fase kedua usiaku, dihabiskan dengan nyaris percuma karena langkah yang salah. Memasuki fase ketiga, aku sudah tak peduli dengan mimpi indah. Yang kutahu, aku hanya harus melindungi kedua titipan-Nya, apapun taruhannya.

Allah mengetahui diriku. Jika aku terlalu bahagia, kemungkinan akan terjerumus lumpur hitam lagi. Maka Ia menguranginya dengan cara mengalihkan perhatianku hanya pada pekerjaan, anak, dan diri-Nya. Allah maha pencemburu. Tak lagi diberikannya seseorang yang bisa kupeluk, agar Dia bisa senantiasa memelukku dengan cara-Nya.

Ketika satu persatu orang yang kusayang dan kukenal pulang menuju kampung kekal, ada perasaan yang semakin hampa. Betapa hening dunia yang penuh kepalsuan ini. Ketika cucuku (anak keponakanku) lahir, aku merasa akan ada satu jiwa berpulang. Benar, buyutnya si bayi yang sudah purna waktunya di dunia ini.

Maka inilah yang kurasakan. Kesunyian itu nyata. Kesendirian itu abadi. Waktuku yang entah kapan, membuat harapanku ingin menjadi muallaf semakin menguat.

Kembali aku bertanya, mengapa humor-Nya kali ini begitu rumit? Entah.

Aku lelah.

(brought to you by my mobile)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s