Bersembunyi dengan Aman

Kepada seseorang yang entah siapa, menyebut namanya: Conan.

Hai, kamu. Selamat pagi.

Entah aku harus memanggilmu dengan sebutan apa. Jadi, sesuai dengan akun Twitter saja, yang mungkin terinspirasi dari Detektif Conan. Meski memang labil dengan avatarnya yang selalu berganti dan lebih suka menyebut dirinya George Clooney. Untuk bagian identitas penamaan seperti ini, jadi terlihat tidak konsisten. Ya, mungkin akan dijawab dengan defensif, “Apalah arti sebuah nama?” *ngik

Sebenarnya, aku agak malas berkomunikasi dengan akun anonim. Seperti bicara pada tembok. Oh, karena akun yang satu ini ternyata selalu membalas mensyen, maka aku menganggap seperti sedang berhadapan dengan robot atau bot yang dikendalikan manusia. “Robot yang ini punya rasa.” Kilahmu. Tetapi aku juga lantas membalas, “Hanya Doraemon yang memiliki rasa. Dan itu fiktif.” Salahku di mana? Untunglah, ada dua akun anonim yang akhirnya revealed and unmask membuka dirinya kepadaku. Aku menghargai yang demikian. Berarti benar manusia. Hakhakhakhak😀

Ketika Bunda Nana membelamu dan menyebut dirimu ikhwan militan, aku jadi ingat. Katanya dalam perjuangan dakwah harus ada yang tak tersentuh, tak terlihat, dan tak dikenal. Oh, baiklah. Hanya orang terbatas yang bisa mengenal si tak tersentuh ini. Baiklah, da aku mah apa atuh, ngan saukur remah rempeyek. Bukan teman, kenal juga hanya di kampung Twitterland.

Katamu seperti ini:

RT @conan: But u dan all believers, I love more than myself RT @andiana: @conan i really don’t care. because you’re nothing.🙂

Dan aku mendadak menjadi lebih sangsi lagi. Cinta seperti apa pada orang yang “mengenalmu”? Oke, itu retorik. Kamu akan menjawabnya dengan, “Aku mencintai kalian karena Allah.” *ngik lagi.

Sekarang begini, kalau memang persaudaraan dalam Islam haruslah kuat, bagaimana caraku dan orang lain yang tak mengenalmu untuk mendoakanmu? “Lindungilah Conan bin Twitter,” begitu? Oke, ini terserah dianggap kalimat apa. Dungu atau sarkas. Tinggal pilih.

Aku adalah orang yang suka sekali berdoa secara pribadi dan rinci. Aku menyebut nama lengkap orang yang kudoakan. Kalau tak mau menyebut nama lengkap saat berkenalan, minimal nama depan atau nama panggilan deh. Ada rasa kepuasan sudah menyimpan namanya dalam doaku. Aku bukan tipe orang yang kalau berdoa, “Udah gue kumpulin semua doa kalian. Kan sama? Tadi udah gue doain.” Dalam doa orang seperti itu, bagaimana menyebutnya? Mungkin hanya, “Kabulkan semua permintaan teman-temanku ya, Allah.” Sekian. Entah mengapa, aku seperti merasa bagian dari sekawanan ayam di kandang. Gak ada istimewanya.

Itu sebabnya aku agak malas berinteraksi dengan akun anonim kecuali akun sebuah merek. Entah para anonim ini benar-benar pria atau wanita, anak kecil atau tua renta. Tak ada yang tahu. Kejahatan dunia maya tak kenal batas sosiologis.

RT @conan: Jgn buat barrier, maya vs nyata RT @andiana: @conan gak peduli sebenernya. toh cuman di dunia maya, bukan temen nyata. jadi santai aja.

Maksudnya apa? Yang membatasi sebenarnya siapa? Tidak diketahuinya identitas asli, berarti memang ada pembatasan yang sengaja dilakukan. Kenapa aku yang disalahkan?

Bahkan, aku menemukan satu akun anonim yang sudah kubuka kedoknya pun masih kusangsikan kebenaran identitasnya. Padahal katanya shalih dan tinggi ilmu agamanya. Info yang kudapat tentang akun itu dan hasil perkenalanku berbeda 180 ° dan itu menyebalkan. Dia sebenarnya menipu siapa? Mana kutahu! Kuduga, akulah yang dibohonginya. Kenapa? Karena aku bukan berasal dari lingkungannya. Aku orang luar. The outsider. Iyalah, lingkungan dia itu eksklusif, terbatas, dan paling keren. Paling banter kusumpahin karena sudah memberikan keterangan palsu. Lagi-lagi, sebuah pembenaran akan terlontar, “Ini dunia maya. Jangan terlalu percaya 100%!” Ya, karena terkadang, orang paling jahat adalah yang paling kita percaya.

Mau menjadi so-called tentara al-Qassam? Kudoakan benar-benar kejadian dan kesampaian lah kamu ke sana. Ya, karena aku tak tahu siapa kamu. Mudah-mudahan ada jalan yang bisa membuatmu benar-benar menjadi anonim selamanya, tak dikenal sesiapa pun juga kecuali keluargamu sendiri. Ya, keluarga yang dimaksud adalah keluarga intimu sedarah kandung, lingkungan lingkaranmu, dan partai tempatmu menemukan yang sevisi dan semisi.

Aku kan orang luar. Bukan sesiapa yang pantas dianggap teman. Makanya rada absurd juga kalau kamu bisa bilang mencintai (karena Allah whatsoever) tetapi aku bahkan tak diizinkan mengetahui siapa kamu. Jangan salahkan kalau aku tetap menganggapmu akun robot yang dikendalikan. There’s no human touch in every conversation. Aku masih merasa ada penghalang dan pembatas. Lagipula, mensyenan denganmu, tak juga bisa membuatku mencintaimu (karena Allah gitu deh).

Surat ini terbaca sangat berantakan. Sengaja. Tak perlu rapi untuk “seseorang” (atau memang lebih pantas disebut “sesuatu”?😀 ) yang hanya mau membuka diri dengan orang-orang yang dianggap sepaham denganmu. Iye dah, aku kan gak sepaham denganmu. Gkgkgkgkgk… Kalau memang robot manusia cerdas, pasti paham maksud kalimatku. Hiahahahaha😀

Jika ada pembaca surat ini selainmu yang menanggapku membencimu, mungkin mereka harus ikut tes IQ dan EQ lagi. Untuk apa membenci orang yang tak kukenal? Buang energi. Kalau sedih sih, iya. Sayangnya sulit menjelaskan kata sedih itu dalam kalimat sederhana. Khawatir, para pembaca surat ini akan kena serangan jantung. Jadi, cukup para malaikat saja yang tahu.

Terima kasih sudah membuang waktu lima menitmu hanya untuk membaca surat tak penting ini. Kuharap kamu terus konsisten bersembunyi dan tak usah membuka topengmu. Jadi aku tak perlu repot mendoakan secara khusus. Cukup doa umum saja. Biarkan malaikat bingung.

Aku sedang membayangkan, mungkin nisanmu nanti akan bertuliskan, “Conan bin Twitter” atau “Anonim” atau “Tak Dikenal.” It’s better, anyway. Kalau mau gak jelas, jangan tanggung. Begitu, bukan? Mau marah? Rugi! Bhahahahahahak…

Cus ah!

Salam satu jari!

PS: kurang baek apa lagi aku, menyamarkan akun Twitter kamu? bukan demi kamu, tapi demi keluargamu. jangan geer ya! (giling, masih peduliin keluarganya robot eh manusia tak jelas eh calon tentara al-Qassam ini.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s