Aku Melihat Ke Cermin dan Menangis

Untukmu. Iya, kamu.

Aku ingin bercerita sesuatu.

Kemarin yang entah kapan… Ada seseorang di dalam cermin. Aku mencoba mendekat dan menyapanya. Aku melihatnya terdiam. Ada pancaran kesedihan yang tak kunjung sembuh. Aku bertanya mengapa, tetapi dia hanya menggeleng lemah. Ketakutan untuk membuka suara. Aku menunggu.

Telaga bening milik mata cokelatnya mulai beriak dan tumpah perlahan. Ingin sekali aku menyentuh dan mengusapnya, tetapi aku justru kelabakan sendiri. Aku sibuk menyembunyikan air mataku. Ah, aku ini lemah. Siapa yang sedih, aku yang menangis.

Kemudian, tanpa kuminta, dia mulai menceritakan sesuatu. Aku duduk tenang, mendengarkan dengan degup jantung yang tak karuan. Kadang pelan, kadang cepat. Napasku naik turun dan kuatur agar dia tak melihatku nampak sama gelisahnya dengan dia.

Tentang masa kecilnya yang sangat bahagia dan dia pernah merasa ingin semuanya berakhir saat dia tertawa dalam pelukan Mamanya. Dia juga bercerita bahwa Bapaknya selalu sibuk dan nyaris tak pernah ada saat dirinya sakit. Padahal, melihat pria dewasa yang menjadikannya hadir di dunia itu sangatlah melegakannya. Berulang kali ia bertanya pada Mama, mengapa Bapak jarang pulang. Meski sudah mengetahui jawabannya, ia tetap merasa tak puas.

Kemudian, ia bercerita ketika kanker hati merenggut Mama dari sisinya. Ada rasa sakit luar biasa yang menjadi nyata. “Begini rasanya kehilangan seseorang yang melahirkanku?” Dia bertanya lirih. Sejak saat itu dunianya berubah. Dia menjadi sangat pemarah, sensitif, peragu, dan mudah curiga pada orang lain.

Ia mencoba untuk mandiri dan bertekad untuk tak lagi menyusahkan Bapak. Ternyata Tuhan mengabulkannya. Bapak menyusul Mama lima tahun kemudian. Lengkap sudah rasa hampa itu. Aku, sekali lagi seperti kehilangan napas. Mendengarnya menangis dan bercerita dengan suara serak membuatku bingung harus bagaimana. Memeluknya? Masuk ke dalam cermin?

Ia merasa tak dicintai. Kemudian, Tuhan mengirimkan bentuk cinta itu dengan hal berbeda. Tuhan mengajaknya berkeliling melihat sekitar. Membuka mata batinnya. Hal itu cukup membuatnya terperangah. Ternyata masa kecilnya lebih beruntung dari berbagai kehidupan marjinal yang ditemuinya. Sekali lagi, dia merasa kacau dan merugi. Kehilangan rasa syukur di masa muda, katanya.

Aku masih diam. Dia terlihat lelah. Dia memohon padaku. Dia meminta tolong untuk bisa keluar dari bayangannya sendiri. Dia tak mau mati sia-sia meratapi takdir. Aku menelan ludah. Aku tak menjanjikan apa pun. Tetapi kemudian, aku mencoba menyentuh jemarinya di cermin. Kukatakan padanya bahwa dia masih dicintai dan harus bersyukur dikelilingi orang tercinta.

Dia tertawa kecil dalam tangisnya. Kemudian dia menghela napas panjang dan dalam. Dia mau memelukku. Kemudian cermin pun pecah.

Kamu tahu siapa dia? Dia yang selama ini kuceritakan padamu. Dia adalah monster kecil yang manja.

Dia adalah kamu.

Dan kamu adalah aku.

Demikian aku menutup surat ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s