Biarkan Hanya Allah yang Tahu

Untuk Kesayangan yang setia pusing dengan politik negeri ini,

Rasanya aku ingin tertawa.

Begini,

Aku sedang menarik benang-benang kusut yang ada di kepalaku. Mengapa banyak sekali pemujamu? Tunggu, mereka benar memujamu atau hanya ingin menarik perhatianmu? Apa pun itu, aku tak lagi peduli. Memikirkan mereka yang berebut untuk diperhatikan olehmu hanya membuang waktuku. Dulu ya, aku selalu rempong untuk misuh-misuh. Tetapi sekarang, aku cukup tersenyum dan menonton di pinggir lapangan.

Hey, aku pun menyadari bahwa tak mungkin melarang para fans itu untuk menjauh darimu. Seperti halnya para penggemar Super Junior, misalnya, tentu akan mengamuk bila harus dipisahkan dan dipaksa menjauh dari idolanya. Di mana ada gula, tentu di sana akan bergerombol semut-semut kecentilan. *eh, gimana?

Semakin lama, pemujamu pun bertambah. Di saat yang sama, ternyata aku pun. *laaaahhhh….. 😛 Banyak yang meminta pertemanan, minta follow back, minta nomer WhatsApp (bersyukur sudah uninstall sementara waktu 😛 ), dan tak sedikit yang bertanya status langsung di percakapan pertama. Eh, giling amir yah!

Tentu saja, banyak yang lebih ganteng, lebih oke, lebih keren, dan yaaaa… lebih segalanya deh. Aku bergeming. Aku seperti sedang disodorkan aneka pilihan masakan warteg atau prasmanan 😀 Karena tujuan dan pilihanku sudah ditetapkan, ketika ditawarkan menu selezat dan semahal apa pun tetap tak menarik minat. (eh, kalau diicip sedikit, boleh gak, darl? *dikeplak )

puncak rindu

Aku sadar bahwa tak selamanya aku hadir untukmu. Itu sebabnya, doaku tak akan pernah berhenti mengalir. Aku tak peduli Dia bosan mendengar namamu dalam rayuku pada-Nya. Bukankah kegigihan kita di masa kecil ketika ingin sesuatu pada orangtua itulah yang meluluhkan hati mereka? Nah, aku akan mengulangi taktik yang sama. *eh, taktik?

Biarkanlah hanya Dia yang tahu, berapa kali dalam sehari aku mengigau menyebut namamu. Suatu saat, ketika perjalananku berakhir dan menemukanmu di pintu kedatangan, aku akan mengubah template doaku. Biarlah para malaikat itu sibuk bolak-balik mengirimkan doaku pada-Nya.

Lupakan sejenak tentang politik busuk negeri ini, aku ingin mengajakmu berbincang mengenai hal lain. Mungkin tentang kernet bus yang lupa memberikan kembalian ongkos atau penjual es krim keliling yang mengambil untung terlalu banyak.

Jangan lupa selalu isi shaf pertama di masjid ya! 🙂

(tulisan ke empatpuluhlima dari beberapa tulisan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s