Seandainya Aku Bisa…

Teruntuk kamu, yang tak sanggup kusebut meski hanya dalam hati…

Apa kabarmu? Tentu masih dengan tugas rutin setiap hari dan tak ada waktu untuk memikirkan hal lain selain kewajiban. Apakah pernah terlintas untuk memikirkan secara serius kapan akan berumah tangga?šŸ™‚

Aku tak sanggup menyebut namamu. Aku takut berharap. Aku hanya bisa memendam dan melihatmu dari kejauhan. Saat mengenalmu pertama kali pun aku sudah tak berani untuk melangkah lebih jauh. Perbedaannya terlalu banyak. Jarak yang membentang terlalu lebar. Mungkin aku malah terperosok ke jurang jika nekat mendekat.

Ah, aku masih tak berani membayangkan. Kulihat, apa yang membuatmu begitu istimewa. Kamu santun, baik, ramah, shalih, senang becanda, suka anak kecil, dan memiliki wajah teduh. Tetapi, lingkungan pertemananmu membuatku minder. Kelompok orang-orang tawadhu’ dan berpendidikan tinggi. Siapalah aku yang bisa bermimpi mendampingimu?

Aku bukan perempuan baik. Pendidikanku juga tak sebanding. Ah, aku tak pernah bisa berharap. Meski sudah memasuki tahun 2015 dan era 4G, nyatanya aku bukanlah tipe perempuan yang bisa berani mengungkapkan perasaan pertama kali. Sudah menjadi dogma dalam kehidupanku, bahwa perempuan ditakdirkan menunggu untuk dipilih. Maka aku di sini, hanya bisa memandangmu tanpa pernah berani sekadar bertanya tipe perempuan seperti apa yang kauharapkan.

Aku senang, diantara orang lain di sekitarmu, hanya kamu yang mau mengajakku berbincang. Kerendahan hatimu istimewa. Tak seperti kebanyakan pria lain yang terkesan angkuh dan menjaga jarak demi atas nama menghindari fitnah whatsoever, kamu meruntuhkan benteng itu.

Kamu terlalu baik. Ha! Ini juga yang membuatku mungkin akan diledek teman-temanku. “Yaelah, tipikal banget cemennya! Mana yang katanya fearless woman? Segitu doang?” Aku menjaga dengan baik harga dirimu. Aku tak ingin membuatmu malu. Mungkin terlihat konyol dan lebay, tetapi aku tahu seperti apa reaksi yang akan timbul bila aku bergerak duluan.

Setiap kali kamu meledekku dan mengajakku berbincang hal-hal sederhana, aku hanya bisa berkata lirih, “Seandainya aku bisa menjadi lebih dekat. Sangat dekat. Berada di hatimu. Istimewa.” Tetapi aku sadar siapa aku. Posisiku. Statusku. Kondisiku. It won’t be happen. Ever.Ā 

Seandainya kusebut namamu dalam surat ini, bagaimana reaksimu? Aku ingin melihatnya langsung. Aku tak berharap apa pun, karena aku tahu tak pantas. Oh, lihatlah! Bahkan surat ini pun terbaca sangat meragukan! Aku berpikir ulang apakah harus kukirimkan atau tetap tersimpan dalam draft hingga waktu tak terbatas?

Akhirnya kuputuskan untuk mengirimkan tanpa nama. Aku tahu, Sang Pengatur Pengiriman Surat di atas sana bisa dengan tepat memberikan surat ini kepadamu, tanpa pernah kautahu siapa pengirimnya.

Penyesalan selalu datang terlambat, begitu? Kini kumajukan datangnya. Kusesali sekarang saja, memujamu sedemikian. Seharusnya tak pernah terjadi. Akan ada perempuan lain yang lebih pantas menjadi permaisuri kerajaan kecilmu nanti.

Bukan aku.

Demikianlah aku memahami, mengapa ada pembenaran bahwa cinta tak selamanya harus memiliki…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s