Ketika Hanya Aku yang Peduli

Memikirkanmu saat ini…

Apa kabar kamu? Masih tetap bandel tak mau menurut apa kata dokter, ya?

Tahun lalu, pertama kali aku mengetahui bahwa kamu diberi banyak larangan oleh dokter, saat itu pula aku menyadari bahwa dokter memberi sesuatu yang akan pasti dilanggar olehmu.

“An, aku sakit.” Manjamu membuatku tertawa kecil.

“Ya, kamu sakit dan tetap akan begadang? Dasar nocturnal!” Aku hanya terkekeh dan membuatmu merajuk.

“Gak papa, deh! Biar cepetan mati sekalian ya?” Dengan santainya kamu mengisap Marlboro dan membuatku merengut.

“Bisa gak jelek begitu ngomongnya?” protesku dan disambut tawa jelekmu.

“Kenapa kamu perhatian banget sama aku, An?” tanyamu retorik. Aku hanya membisu. Aku yakin, tak perlu jawaban. Tetapi, kamu tak suka aku diam. Kamu marah.

Just because I do care to you, Darl. And only me.” Aku menjawabnya dengan suara pelan. Kamu menaikkan alis dan bersiul. Tak percaya.

Ada berapa banyak perempuan yang akan menawarkan kebahagiaan (semuanya semu) padamu? Sangat banyak. Tetapi ada berapa yang bisa menampung kesedihanmu, menemani sepimu, dan merawat lukamu? Kamu hanya akan menemukan satu orang yang selalu ada ketika orang lain meninggalkanmu sendirian.

Berkali-kali kamu memintaku menunjukkan pada dunia untuk membuktikan semuanya dan aku menolak. Bukan karena aku tak mau, tetapi karena aku sangat menjaga privasimu. Hanya demi kamu.

Kamu sendiri selalu bilang, kamu tak suka keramaian. Orang lain menganggap kamu aneh dan sebaliknya kamu pun menilai mereka lebih aneh darimu. Lantas siapa yang memaklumi keajaiban pribadimu? Siapa yang tahan dengan pribadi meledak di satu saat dan senyap di lain waktu ini? Ada perempuan lain yang tahan denganmu? Kalau maksud dan tujuannya sudah bukan karena mencintaimu, dipastikan karena dia adalah perempuan egois yang tak peduli pada dirimu. And it was proven, right? You’re hurt. Dan aku gak mau itu terjadi lagi.

Jangan biarkan dirimu terluka lagi. Jangan beri kesempatan pada orang lain untuk menyakitimu lagi. Terlalu banyak yang culas dan jahat. Kamu terlalu baik pada mereka.

Segeralah pulang. Berkemaslah. Aku menunggumu. Kita rayakan penantian panjang ini. Jika dokter melarangmu untuk begadang, mari kita menghabiskan malam hingga pagi dengan menonton setumpuk DVD. Melihatmu terlelap dengan damai kemudian, adalah satu dari banyaknya bahagia yang kumiliki.

Pulanglah…

(tulisan ke empatpuluhsatu dari beberapa tulisan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s