32 Tahun Hidup Bersamamu

Untuk pria pelindung terbaikku saat ini,

Genap 32 tahun kamu menemaniku dalam suka dan duka. Ratusan kali air mata, ribuan kali canda tawa, jutaan kali rasa syukur mewarnai hidupku sampai tahun 2015 ini.

Aku tahu, aku tak pernah pantas kaubanggakan. Aku sadar, selalu menyusahkan dan membuatmu jengkel. Aku maklum kau sangat jarang bisa hadir untuk anak-anakku. Bagi mereka, engkaulah pria terhebat yang mereka punya. Aku bisa apa selain meminta mereka bersabar bila ingin bertemu denganmu?

Maafkan aku yang pernah  menolak memberikan mie ayam padamu tahun 1990. Aku lupa tanggal, tapi yang pasti aku ingat, saat itu menjelang maghrib dan kamu hanya bisa memelas meminta padaku tanpa pernah kugubris. Aku jahat. Iya.

Maafkan aku yang pernah becanda akan meninggalkanmu. Aku berdiri di luar pagar dan melambaikan tangan padamu sambil tertawa, meski kamu menangis memohon agar aku kembali padamu. Iya, aku kurang ajar.

Maafkan aku yang tak bisa memberikan jawaban memuaskan untuk sebuah tanyamu tentang buku bertema jodoh dan pernikahan. Melihat sorot mata kecewamu justru tak membuatku merasa bersalah saat itu. Iya, aku keras hati.

Maafkan aku yang beberapa kali melangkahimu dalam penentuan masalah besar. Aku tahu, kamu bisa saja meledak marah saat itu. Tetapi kamu hanya diam dan tenggelam dalam tilawah. Iya, aku kepala batu.

Maafkan aku yang sudah tak bisa lagi mendapat kepercayaanmu. Aku tahu, ratusan kesalahan selama ini tak akan bisa terhapus begitu saja dari ingatanmu. Entah bagaimana caraku meminta maaf. Aku, si trouble maker, tak pernah berhenti membuat ulah. Lantas, di mana lagi kau akan meletakkan rasa percaya padaku? Aku sendiri tak tahu…

Aku sadar, aku tak bisa mengulang waktu dan kembali ke masa lalu. Usia kita tak lagi muda. Semakin dekat saat menuju tempat kembali kepada Sang Pemilik Raga, semakin sedikit waktu kita untuk bersama. Padahal, kita tak pernah benar-benar bersama.

Saat ini, sejak 15 tahun lalu, kita sudah berulang kali tak serumah. Kesepian. Banget. Meski amat sangat jarang kita berbincang, tetapi hadirmu sangat menenangkan. Apalagi sejak ada anak-anak, yang mereka cari selalu dirimu. “Kapan pulang? Aku kangen.” Sorot mata mereka penuh rindu.

Setelah 32 tahun, kamu pasti akan melangkah lebih jauh meninggalkanku. Aku yang terbiasa hanya denganmu, akhirnya akan menghadapi kenyataan bahwa kamu bukanlah milikku seorang. Aku akan (semakin) kesepian. Mungkin tak akan pernah bisa sebebas dulu untuk mengadu padamu. Mungkin sudah saatnya aku mundur teratur. Kau akan memiliki kehidupanmu yang baru dan tak boleh kuganggu.

Mungkin begini rasanya ketika aku mencoba memiliki kehidupanku sendiri. Aku merasakannya sekarang. Kehilangan itu terasa hampa. Ternyata benar. Aku mulai merindukanmu dengan cara yang berbeda. Aku mulai cemburu…

Sudah lebih dari 25 tahun aku tak memelukmu. Sembilan tahun lalu aku mencoba meminta sekali lagi, tetapi kautolak. Kamu tahu rasanya saat itu? Aku merasa diabaikan. Ah, mungkin aku terlalu lebay. Lupakan saja.

Maafkan isi surat ini terlalu panjang bagimu. Aku sudahi sampai di sini dengan segenap rindu dan cintaku.

Selamat merayakan hari lahir di tahun ke-32 ini. Semoga Allah memberikan berkah di sisa usiamu.

Kakakmu,

-teh an-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s