Selamat Malam, Kamu

Terakhir untukmu yang berada dekat Gunung Merapi.

Sudah gelap langit kotamu. Tentu saja. Sama seperti di tempatku berdiam kini. Aku tak lagi memiliki pertanyaan untukmu. Semua sudah terjawab dengan sendirinya tanpa pernah kutanya. Allah membuka pintu penasaranku dengan perlahan dan benderang.

Aku mahfum bila kau tak bisa menjawab apa yang kutanyakan. Ada ketakutan yang menghantuimu dan telanjur jauh berdusta, hingga tak kausadarai bahwa suatu saat semuanya akan mengemuka dan ketakutanmu berubah menjadi mimpi buruk.

Aku pernah sekilas memberi sinyal tentang hal ini, tetapi hanya mendapat tawa kecil sinis darimu. Ah, siapalah aku yang bisa dengan sok tahunya menegurmu. Yang kauanggap mengganggu itu sejatinya sangat peduli dan sayang padamu.

Sekarang, kamu menutup semua gerbang dan tak mengizinkan aku bertandang kembali. Bahkan sekadar menyapa pun sudah tak kaugubris.

Aku tak menyimpan dendam. Setidaknya aku berusaha untuk tetap jujur, menegurmu karena peduli padamu. Aku tak ingin menjadi sepertimu, dianggap khalayak sebagai orang baik… Tetapi… Ah, sudahlah.

Surat ini tak akan panjang. Karena aku tahu, hanya akan berakhir di tong sampah.

Semoga engkau masih bisa menikmati langit berbintang di kotamu.

-an-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s