Tertarik Padamu Berkat Feromon

Hormon satu ini diklaim sebagai zat yang menarik lawan jenis. Katanya mitos? Ah, aku sih gak peduli. Hihihi… Tetapi apa sebenarnya hormon ini? Apa iya si dia ini berperan dalam getaran cinta yang timbul? Ahseeekkk….

Awalnya…

Feromon berasal dari bahasa Yunani pherein (membawa) dan hormone (mengeluarkan) adalah substansi biologi yang dikeluarkan oleh setiap individual yang menghasilkan perubahan perilaku seksual dan sosial dari individu lain yang sejenis.

Zat feromon pertama kalinya ditemukan oleh Jean-Henri Fabre pada serangga ketika musim semi tahun 1870-an. Ia mengamati ngengat jenis great peacock betina keluar dari kepompong dan diletakkan di kandang kawat di meja studinya, kemudian ia melihat pada malam harinya lusinan ngengat jantan berkumpul mengerubungi kandang kawat di meja studinya. “Mereka datang dari segala penjuru, tanpa aku tahu bagaimana mereka menemukan betina di mejaku… ” tulis Fabre.

Kemudian, Peter Karlson dan Martin Lüscher yang pertama kali memperkenalkan istilah “Feromon” di tahun 1959, untuk mewakili zat yang dipancarkan oleh hewan dan mendeteksi keberadaan spesies yang sama (untuk komunikasi nonverbal, menyampaikan sinyal kimia melalui udara. Juga untuk menandai daerah kekuasaannya). Tristram Wyatt dari University of Oxford menulis pada jurnal Nature terbaru, sejak itulah ditemukan zat sejenis pada banyak jenis hewan, termasuk mamalia.

Sanggahannya…

Namun dugaan ini dibantah oleh Richard Doty, seorang peneliti dari Penn State University School of Medicine. Selama bertahun-tahun, ia mempelajari rahasia di balik feromon dan menyimpulkan bahwa manusia tidak terpengaruh oleh feromon.

Dalam bukunya yang berjudul “The Great Pheromone Myth”, ia mengatakan indera penciuman manusia tidak sesederhana yang dimiliki serangga. Interpretasi bebauan terjadi di otak, sedangkan perilaku manusia dalam memilih pasangan lebih dipengaruhi oleh lingkungan dan kondisi saat jatuh cinta.

Bahkan bukan hanya manusia, hampir seluruh spesies mamalia atau binatang menyusui tidak membutuhkan feromon untuk mendapatkan pasangan. Doty tidak percaya jika interpretasi bau-bauan saja bisa mempengaruhi perubahan perilaku pada mamalia.

“Konsep feromon pada manusia mungkin hanya menarik bagi industri parfum dan mereka yang mau melakukan segalanya agar awet muda,” ungkap Doty seperti dikutip dari Dailymail, Senin (6/12/2010).

Jadi Manusia Gak Punya Hormon Feromon?

Pada manusia, feromon berupa bau yang ditangkap oleh jacobson organ (Vomeronasal Organ/VNO) yang terletak di bagian keras dari septum nasal (batang hidung) untuk kemudian dihantar ke otak dan menimbulkan reaksi pada individu yang menerima. Feromon tidak hanya tercium oleh lawan jenis saja, tetapi juga dapat tercium antara jenis kelamin yang sama.

Feromon dihasilkan terutama oleh kelenjar apokrin (salah satu jenis kelenjar keringat) dan kelenjar lainnya. Feromon terbentuk dari interaksi antara flora yang tinggal di area kelenjar tersebut dan substansi feromon sehingga terbentuk bau yang khas untuk tiap individual. Kelenjar apokrin ini terdapat di area ketiak, kelamin, mulut, kaki dan seluruh kulit.

Ada riset yang menyatakan bahwa nenek moyang primata memiliki lebih baik kemampuan melihat warna, tapi tak memilki gen VNO. Hewan lain yang bukan primata menggunakan organ tubuh untuk mendeteksi feromon.”Mungkin itu sebabnya manusia tak punya organ pendeteksi feromon, melainkan mengandalkan kemampuan visual,” ujar Wyatt.

Jadinya Wanita Tuh…

90% wanita mengaku suka pada pria yang berbau wangi, dan 90% pria juga tahu bahwa wanita tersebut suka pada hal yang wangi. Bener, gak? Aku sih ya jujur lah, senang banget berdekatan dengan cowok wangi. Anehnya, wanita tidak tahu wangi seperti apa yang membuat mereka tertarik, dan pria juga tidak tahu wangi seperti apa yang menarik bagi wanita.

Hidung dan sikuit-sikuit otak wanita terutama peka tepat sebelum ovulusi, bukan hanya terhadap bau-bau yang biasa, melainkan juga terhadap efek feromon pria yang sulit terdeteksi. Jumlah yang dikeluarkan dalam satu perseratus bagian dari seratus keringat manusia sudah cukup untuk menimbulkan efek yang kuat, dan industri parfum bersusah payah mencoba menambahkan bahan ini pada parfum dan lotion cukur.

Ketika wanita pada puncak kesuburan dan menghirup aroma feromon dalam enam menit saja, fokus mental mereka akan menjadi tajam, dann mencegah mereka untuk mengalami suasana hati yang buruk selama berjam-jam sesudahnya, hebat yes! Emang jadinya gak heran,  wanita jadi super sensitif menjelang haid atau biasa dikenal dengan PMS (yang membuat kaum pria angkat tangan ketika menghadapinya…😛 )

Nah, Begini…

Jadi, aku pribadi sebenarnya tidak mau pusing dengan nama hormon yang membuatku berpikir macam-macam ini (apa hayo!). Tetapi ketika mendengar penjelasan Andrei Aksana dalam acara “Senyawa” book signing, nama hormon ini disebut. Makanya, aku langsung penasaran dan mencari tahu. Oh, ternyata…

Jika tulisan di atas ini njelimet, mari sederhanakan. Aku tertarik padamu tak memedulikan hormon apapun. Tetapi bila hal ini menjadi demikian penting, maka karena kamu wangi, makanya aku suka.

Gitu lho.😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s