(Si)Apa yang Kamu Cari?

SIAPA

Pertanyaan ini menggangguku sejak lama. Entah kapan mulainya. Padahal, permintaanku (nampaknya) sederhana. Entah menjadi kalimat seperti apa di mata dan telinga mereka. Aku hanya mensyaratkan dua hal dan sudah diketahui oleh beberapa pria yang mendekat. Sulitnya di mana?

“Kapan, An?” Sebuah pertanyaan retorik berikutnya setelah menanyakan obyeknya. Sama dengan pertanyaan pertama, aku hanya memberikan muka datar dan tak peduli. Gak penting, blas. Kapan? Ya kalau pejantan tangguhnya siap, lah. Kok tanya ke aku?

Cowok kebanyakan mikir, cewek kebanyakan milih. Berlaku untukku? “An, mau lo yang kayak gimana sih?” Karena ditanya begitu, dengan santai aku mengajukan beberapa syarat. Bengong deh mereka. Lagian siapa suruh nanya? “Serius, An? Ribet banget!” Malah diprotes, kan? #AkuRapopo

Ketika aku menyederhanakan syarat, mereka juga kembali keki. “Masih ribet, An! Emang lo yakin gak bakalan dapet yang lo hindarin itu?” atau “Pede banget bisa dapetin kriteria begitu?” #SerbaSalah! Akhirnya aku tantang mereka semua, “Lo yang ribet. Tinggal sodorin ke gue yang mau lo kenalin. Tinggal gue ukur, gue pantes gak buat dia?” Memantaskan diri ternyata tak mudah.

Ada yang mendoakan aku mendapatkan pria Jogja.

Ada yang mendukung aku bisa bersama lelaki Minang.

Ada yang bertaruh jika aku sukses menggaet cowok impor.

Aku mengamini semua doa. Tetapi lagi-lagi aku sudah tak bisa berpikir harus menentukan pilihan seperti apa. Sejatinya, yang kucari adalah seorang ayah untuk anak-anak. Aku bahkan sudah tak berpikir mencari suami. Pernah di tahun 2010, aku berbincang dengan seseorang. Aku ingat bahwa aku bilang, “Aku tak mencari seorang suami. Kalau tujuanku mencari suami, gampang. Tinggal tunjuk. Banyak yang mau sama aku. Seriusan. Tapi aku butuh imam.” Temanku itu hanya diam dan mengangguk.

Ya, imam. Seseorang yang bisa membawaku dan anak-anak ke Jannah. Membawa saja, karena kepastian apakah keluarganya akan benar-benar tinggal di Jannah, itu kembali kepada sang imam keluarga. Mau dididik seperti apa kami ini?🙂

Ternyata, selama hampir empat tahun ini, beberapa makhluk Mars yang awalnya gagah berani mengutarakan maksud meminangku, mundur teratur setelah aku memintanya menjadi imam, bukan suami. Pusing, kan?

APA

Kembali aku ingat dengan obrolan singkat bersama Abang BG (bukan Budi Gunawan, no! ), bahwa aku benar berniat untuk menjadi muallaf dalam arti belajar menjadi seorang aku yang baru secara ruhani. Pasti akan sulit dan banyak kendala, tetapi aku mau berjuang dan berusaha. Hijrah. Toh Abang juga yang mengatakan bahwa aku sebaiknya segera hijrah dari rumah yang sekarang. Rumah fisik dan rumah jiwa. Semua.

Aku pernah menulis tentang keinginan ini tahun lalu. “Bang, aku mau jadi muallaf. Mau belajar huruf hijaiyah seolah belum pernah membacanya. Mau belajar shalat dan puasa seperti tak pernah melakukan sebelumnya. Mau belajar menghapal hadist pendek juga. Mau belajar tentang fiqih dan aqidah dari nol.” Hal ini kusambung dengan doa dan harapan, “Mau banget punya suami yang bisa sabar ngebimbing aku, Bang.” Sebelnya, si Abang cuman balas, “Hmmmm…” Nyebelin.

Waktuku tak banyak. Aku tahun, di usia seperti sekarang, kesehatan pun tak seperti usia 20 tahun. Beberapa organ tubuh mulai menunjukkan kemunduran fungsi. Perlahan, tetapi pasti. Jadi, apa lagi yang kutunggu? Tak ada. Kecuali panggilan Allah kembali kepada-Nya.

Begitu saja.

Makanya, jika ditanya apakah aku ada keinginan untuk menikah lagi, aku menjawab tidak mau. Tetapi aku tak bisa egois, karena ada kedua anakku yang membutuhkan figur seorang ayah. Itu sebabnya aku sempat gamang. Akhirnya aku memutuskan untuk mencari seorang pria yang tulus sayang dan mau mendidik kedua mujahid kecil itu menjadi pembela agama Allah dengan segala kebaikan pada dirinya.

Itu pun ternyata tak ada yang sanggup memenuhinya. Sesederhana itu permintaanku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s