Anak-anak “Yatim” Itu….

Ada artikel bersambung dari portal Kabar Umat yang sangat menarik. Aku ambil beberapa bagian pentingnya. Link lengkap di sini:

  1. Link 1
  2. Link 2
  3. Link 3

=-=-=-=-=-=-=-=-=

Ayah yang mengabaikan keluarga mereka, ayah yang jarang ngobrol dengan anak-anaknya karena pekerjaan, dan ayah yang sangat sibuk dan memiliki sedikit waktu atau bahkan tidak terlibat membesarkan anak-anak mereka, zaman ini adalah hal yang biasa. Inilah fenomena banyak anak hari ini jadi ‘YATIM’ saat ternyata ayahnya masih hidup secara raga tapi sebenarnya ‘meninggal’ secara jiwa.

Sebuah lagu Amerika populer oleh Harry Chapin menceritakan kisah sedih seorang anak yang selalu mencoba untuk menghabiskan waktu dengan ayahnya, tetapi ayahnya terlalu sibuk. Ketika anak itu dewasa dan ayahnya sudah tua, ayahnya selalu ingin menghabiskan waktu dengan anaknya, tapi anaknya selalu sibuk.

Ayah yang terlibat dengan anak-anaknya secara fisik dan emosional dengan keluarganya, inilah ayah sebenarnya. Banyak para ayah hanya menjadi ayah buat dirinya sendirinya, yakni Ayah yang jadi boss untuk anak-anaknya. Menuntut anaknya teratur, rapih, rajin belajar, berakhlak positif, tapi sekadar ‘ngatur-ngatur’ anak dan istrinya, tapi tidak menyediakan waktu untuk bercerita/ mendongeng untuk anak, tidak menyediakan waktu setengah jam sehari ngobrol dengan anak (bukan sekadar ngomongin dan nasihatin anak), mendampingi anak belajar (akademik) atau kegiatan-kegiatan berkualitas lainnya.

Wahai para ayah, ketahuilah bahwa lebih banyak anak hari ‘yatim’ daripada yang ‘piatu’ padahal orangtuanya masih lengkap. Sudah waktu banyak terkuras di luar rumah (kerja). Eh, saat sampai di rumah, ternyata sebagian ayah justru tidak menyentuh anaknya secara fisik maupun emosi.

Perhatikan baik-baik jika Ayah tidak hadir. Inilah daftar panjang akibat buruk dari ‘dosa’ para ayah yang hanya hadir di rumah, tapi tak hadir di keluarga. Para ayah yang membuat anaknya ‘yatim’ padahal ayahnya masih hidup:

1. Bayi yang tak mendapat perhatian ayah 4x berisiko lebih rentan

Menurut penelitian dari University of South Florida, bayi yang tidak mendapatkan perhatian dari sang ayah selama masa kehamilan hampir empat kali lebih mungkin meninggal di tahun pertama mereka daripada bayi dengan perhatian dua orangtua yang aktif.

Bayi tanpa perhatian sang ayah selama masa kehamilan juga lebih mungkin lahir dengan berat lahir rendah, menjadi prematur dan lahir dengan ukuran lebih kecil dari usia bayi normal.

Profesor Amina Alio mengatakan dukungan dari pihak ayah dapat menurunkan stres emosional ibu. Keterlibatan seorang ayah juga meningkatkan kesehatan bayi serta menurunkan risiko komplikasi yang dialami ibu hamil. Para ibu dari bayi yatim lebih mungkin menderita kondisi seperti anemia, tekanan darah tinggi kronis dan eklampsia.

2. Dapat membuat anak: memiliki problem psikologis, prestasi rendah dan melakukan agresi terhadap orangtua

Dikutip menweb.org. Dalam studi yang dilakukan oleh Kalter dan Rembar dari Children’s Psychiatric Hospital, University of Michigan, AS, dari 144 sampel anak dan remaja awal yang orangtuanya bercerai, ditemukan tiga masalah utama.

Sebanyak 63 persen anak mengalami problem psikologis subyektif, seperti gelisah, sedih, suasana hati mudah berubah, fobia, dan depresi.

Sebanyak 56 persen kemampuan berprestasinya rendah atau di bawah kemampuan yang pernah mereka capai pada masa sebelumnya.

Sebanyak 43 persen melakukan agresi terhadap orangtua. Dalam studi yang dilakukan khusus terhadap anak-anak perempuan, ditemukan hasil yang kurang lebih sama: 69 persen mengalami problem psikologis, 47 persen punya masalah akademis, dan 41 persen melakukan agresi terhadap orangtuanya.

3. Membuat banyak anak laki-laki tersesat figuritas

Banyak anak laki-laki, yang tidak mengenal ayah mereka, mempelajari peran ayah dari ibu mereka atau dari wanita lain. Pemahaman batin tentang ayah atau tentang pria, yang tercipta dengan cara tersebut, mungkin saja bersifat negatif karena tak real dan kemudian terbawa sepanjang hidupnya. Setelah dewasa gambaran negatif tersebut bisa berubah menjadi penyangkalan diri atau menjadi perilaku misogyny, yakni perasaan benci terhadap calon pasangan mereka.

Seorang anak yang dibesarkan tanpa ayah harus mengatasi sendiri ketidakhadiran sosok ayah tersebut. Kemungkinan, dia akan menciptakan citra ayah dari gambaran mitos tentang sosok ayah. Beberapa anak laki-laki, yang tidak mengenal sosok ayah, mencari figur-figur ayah yang bisa ditiru diluar. Sering kali, mereka kemudian tersesat menjadi anggota geng, terjun kedalam gerakan politik, atau menjadi anggota sekte sebuah daya tarik yang menawarkan panduan yang jelas tentang kehidupan. Mereka juga punya kecenderungan yang sangat besar untuk menyalahgunakan alkohol dan zat-zat terlarang.

4. Dapat membuat anak laki-laki kurang mandiri

Saat ayah ‘tak hadir di keluarga’ anak-anak laki-laki harus menemukan sendiri alasan kepergian sang ayah. Saat mereka mulai remaja, beberapa anak ini kemudian ‘berpikir’ dan berfantasi bahwa ketidakhadiran ayahnya adalah akibat ‘perilakunya’. Alasan yang dia ciptakan sendiri tersebut dapat menyebabkan perasaan bersalah pada anak.

Atau kemungkinan lain, jika pun tak ada perasaan itu, anak-anak ini memiliki perasaan sepi, perasaan terabaikan, dan perasaan terisolasi yang sangat dalam.

Dampak yang mana pun, tiap-tiap perasaan tersebut bisa memiliki dampak yang dramatis terhadap kepercayaan diri sang anak di kemudian hari. Seorang anak yang tidak pernah mengenal sosok ayah yang sesungguhnya, akan mencoba untuk menjelaskan ketidak hadiran si ayah tersebut pada dirinya sendiri.

Anak-anak seperti ini biasanya akan mengidolakan atau kemungkinan kedua: merendahkan sang ayah, menghayal kemudian bergulat dengan rasa malu atau rasa bersalah. Setelah dewasa, dia mungkin takut terhadap peengabaian yang lain sehingga takut untuk menjalin hubungan, takut memperlihatkan perasaan rentan, atau menjadi sangat bergantung pada seorang wanita demi menghindari penolakan.

Mungkin masih banyak daftar lain yang akan berderet-deret jika disebutkan semuanya. Tinggal cari sendiri di internet. Anda akan banya menemukannya.

Sudah kuno jika para ayah mengatakan tugasnya adalah (hanya) mencari nafkah, ngurus anak adalah ibu (semata). Mencarikan nafkah adalah kebaikan. Tetapi mencarikan nafkah dan menjadi ayah sebenarnya adalah kemuliaan.

Ayah biasa akan sering mengatakan “Ayah bekerja keras untuk menghidupi keluarga. ”Ayah shalih mengatakan “Ayah akan menjadi tentara di luar rumah untuk mencari nafkah tapi ayah akan jadi pengasuh dengan ibu saat di rumah.

Ayah biasa mengatakan “Betapa bangganya menjadi ayahmu, Nak.” Ayah sebenarnya akan mengatakan “Betapa bangganya ayah padamu, Nak!”

Wahai para ayah, jika Anda dapat memahami perbedaan tersebut, mengutip perkataan Prof Rob Palkovitz, Anda selanjutnya akan menyadari butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun hubungan. Karena itu, pahami saat ini Anda berada di titik mana dan ingin menuju ke titik mana.Kehidupan ini dibangun oleh jutaan “sekarang juga”. Jika Anda ingin membangun hubungan baik dengan anak-anak, mulailah sekarang juga. **

=-=-=-=-=

Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Direktur Auladi Parenting School
Pembicara Parenting di 7 negara
(Jerman, Austria, Swiss, Jepang, Arab Saudi, Malaysia, Indonesia)
dan Pembicara Nasional Parenting di 24 Propinsi, lebih dari 80 Kota di Indonesia
http://www.auladi.net | inspirasipspa@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s