Hamka ~ Akmal Sjafril

Semoga bermanfaat yah🙂

=–=-=-=-=–=-=-=-

  1. Siang ini saya ingin kultwit sedikit, saya beri judul agar ringkas.
  2. Saya tdk akan membahas biografi , tapi sedikit mengulas bgmn org kerap menyelewengkan pemikiran beliau.
  3. Yg memantik perhatian saya adalah debat kultwit antara ust. dan .
  4. Dlm kultwit ini, menyebut2 soal tafsir >> .

  5. Selain tafsir Buya , jg menyebut2 tafsir Syaikh Rasyid Ridha.

  6. Tanggapan ust seputar tafsir Syaikh Rasyid Ridha dpt dibaca di

  7. Kultwit ust mengungkap bgmn cara kaum pluralis memanipulasi kata2 ulama.

  8. Syaikh Rasyid Ridha bukan satu2nya tokoh yg ucapannya sering dipelintir. Buya jg bernasib sama.

  9. Dlm kultwitnya, membahas makna “Islam” dlm Tafsir . Ia gunakan istilah ‘makna generik’.

  10. FYI, istilah ‘makna generik’ adalah khas-nya Nurcholish Madjid. Menurutnya, makna generik “Islam” adalah “pasrah”.

  11. Apakah Buya menggunakan istilah ‘makna generik’? Ini pertanyaan yg penting.

  12. Nurcholish Madjid dikenal mengedepankan teori bhw Islam bukanlah nama agama. Oleh krn itu, ia gunakan ‘makna generiknya’.

  13. Kaum liberalis kini pun sering gunakan taktik yg sama utk mempromosikan paham pluralisme.

  14. Kaum inklusivis Kristen punya teori bhw semua yg taat beragama adalah ‘Kristen implisit’.

  15. Nurcholish pun dikenal mendukung paham inklusif ini. Di sinilah ‘makna generik’ tadi berfungsi.

  16. Krn ‘makna generik’ “Islam” adalah “pasrah”, seolah2 Islam itu hanya pasrah, dan semua yg pasrah itu Islam.

  17. Dulu sy pernah bahas bgmn memanipulasi makna “as-silmi” dlm QS. 2:208.

  18. Ulama menerjemahkan: “Masuklah ke dlm agama Islam secara kaffah”. Tp mnrt , “as-silmi” itu “perdamaian”.

  19. Buya pun membahas bhw kata “as-silmi” salah satu maknanya adalah “perdamaian”.

  20. Akan tetapi, tdk mengatakan bhw yg penting hanyalah sebatas perdamaian.

  21. Sebaliknya, menjelaskan bahwa perdamaian yg benar itu adalah Islam.

  22. Dgn menjalankan Islam secara kaffah, maka seseorang telah ‘berdamai’ dgn Allah.

  23. Silakan baca kultwit lama saya yg membahas masalah ini di .

  24. Penggunaan ‘makna generik’ cenderung mereduksi makna Islam.

  25. Memang akar kata “Islam” berarti “pasrah”, tapi bkn berarti asal sdh pasrah berarti sdh Islam.

  26. Sebaliknya, ulama memahami Islam sebagai kepasrahan yg benar. Kalau benar pasrah, maka tegakkanlah Islam!

  27. Manusia yg mengaku pasrah kpd Tuhan tapi tidak memeluk Islam, maka itulah manusia yg tertipu.

  28. Reduksi makna semacam ini biasa terjadi di kalangan liberalis. Harun Nasution jg mereduksi “tauhid” mjd “monoteisme”.

  29. Padahal, tauhid yg benar adalah tauhidullaah, alias mengesakan Allah SWT.

  30. Jika yg dipertuhankan satu (monoteis) tapi bukan Allah, maka bukan tauhid namanya.

  31. Oleh krn itu, Harun Nasution menganggap agama tauhid bkn cuma Islam. Berlawanan dgn pendapat seluruh ulama.

  32. Bagaimana pun, pemikiran Harun diamini o/ mainstream di lingkungan IAIN/UIN.

  33. Menyandingkan pemikiran ala Nurcholish Madjid dan Harun Nasution kpd Buya tentu tidak santun.

  34. Dlm topik lain, Buya pernah mencela Nurcholish krn mengikuti pemikiran liberal Ali Abdul Raziq.

  35. Dlm perdebatan itu, memuji M. Iqbal, Masyumi, gerakan Nuur di Turki, dan Al-Ikhwan Al-Muslimun.

  36. Soal ini bisa ditemukan di buku Studi Islam karya Buya , cet. III, 1985, hlm. 26-27.

  37. Ini sekedar gambaran saja betapa sangat berbedanya dan Nurcholish Madjid. Sejak dulu sdh berlawanan.

  38. Satu hal penting yg perlu kita pahami ketika membaca karya2 adalah kesukaan beliau menulis panjang2.

  39. Krn uraiannya panjang, maka ia harus dibaca secara lengkap. Tdk boleh dipotong2.

  40. Jika uraian tsb dipotong, maka bisa jadi muncul makna yg sangat berbeda.

  41. Dlm kultwitnya, merujuk pd dua artikel karya A. Syafii Maarif.

  42. Artikel pertama A. Syafii Maarif sudah lama sy kritisi, sejak S2 dulu.

  43. Apa yg dilakukan oleh Syafii, hemat saya, adalah pengutipan yg tidak tepat.

  44. Dgn pengutipan yg ia lakukan, muncul kesan bhw Buya adalah seorang pluralis.

  45. Pembahasan soal ini sdh pernah sy kultwitkan, bisa dibaca di .

  46. Syafii Maarif juga, menurut saya, lalai mengutip satu paragraf yg justru teramat penting.

  47. Dlm paragraf tsb ada satu poin penting yg menjadi kesimpulan dr tafsir QS. 2:62. Sayangnya, tdk dikutip.

  48. Inilah paragraf yg saya maksud.

  49. Jika paragraf tsb dibaca, lenyaplah semua kesan pluralis dari pribadi Buya .

  50. Awalnya, bantahan thd Syafii ini saya jadikan makalah utk sebuah tugas kuliah.

  51. Setelah itu, saya kembangkan lagi. Ternyata ada bbrp org lain lg yg memanipulasi kata2 demi pluralisme.

  52. Kemudian saya memperbandingkan konsep toleransi dgn pluralisme agama, dan ini tema tesis saya.

  53. Tesis tsb kini sdh dibukukan. Ini karya ilmiah, siap dipertanggungjawabkan scr akademis🙂

buya hamka

  1. Dlm tesis tsb, saya berusaha memperjelas posisi Buya sbg tokoh anti-pluralisme agama.
  • Ada tweet lain yg jg menarik utk dibahas. Ini tweetnya.
  • QS. 5:48 mmg sering dibahas o/ kaum pluralis. Ini ayatnya.

  • Sebagian kaum pluralis secara naif mengatakan bhw ayat ini membuktikan kebenaran agama2 lain.

  • Biasanya, org terjebak pada kata “umat” dlm ayat ini, lantas menyimpulkan bhw yg dimaksud adalah “umat beragama”.

  • Padahal, kata “umat” dlm terminologi Qur’an biasanya merujuk pada para Nabi.

  • Ada umat Nabi Muhammad saw, umat Nabi Musa as, umat Nabi Nuh as, dst. Mereka ya Muslim semua.

  • Memang masing2 umat memiliki syari’at yg berbeda2, tapi agama mereka satu.

  • Di sinilah letak perbedaan antara “diin” dan “syari’at”. Kita tdk menganggap para Nabi itu beragama selain Islam.

  • Ayat ini memang menjelaskan ttg “fastabiqul khairaat” (berlomba2 dlm kebaikan).

  • Akan tetapi, mereduksi pandangan Islam thd agama lain ke dlm konsep fastabiqul khairaat tdklah tepat.

  • Inilah yg dilakukan o/ . Dlm kultwitnya, pertama ia tekankan soal fastabiqul khairaat.

  • Setelah itu? Muncullah pesan2 utk ‘mencari titik temu, bukan titik tengkar antar agama’.

  • Terakhir, muncullah pesan ‘sponsor’: jgn menyebut kafir dan sesat.

  • Utk melengkapi keganjilan itu, ‘digaetlah’ nama . Kebaca gak modusnya?🙂

  • Konsep “fastabiqul khairaat” tidaklah utk dibenturkan dgn konsep kekafiran.

  • Islam siap berlomba2 dlm kebaikan dgn umat beragama lain, itu betul. Tapi Islam tdk gamang menyikapi agama2 lain.

  • Lihat QS. 5:72. Sangat tegas. Ini mengkafirkan org2 kafir🙂

  • Apakah ini berarti Qur’an mencari ‘titik tengkar’ spt kata ?

  • Org yg mengenal Buya dan pernah membaca karya2nya pasti paham pendirian beliau.

  • Beliau sangat sering menulis ttg paham toleransi yg kebablasan, membantah sekularisme dll.

  • Beliau jg sering menggarisbawahi bhw hak2 umat Muslim di Indonesia kerap ditindas.

  • Anehnya, umat Muslim juga yg selalu disuruh belajar toleransi.

  • Contohnya bisa dilihat di kalangan JIL sendiri. Mana toleransinya?

  • Di negara mayoritas Muslim ini, yg mengaku Muslim saja ada yg menghina jilbab.

  • Sungguh tidak tepat jika pembahasan yg sangat parsial dan melenceng ini dihubung2kan dgn Buya .

  • Kembali pada artikel Syafii Maarif, coba cek artikel keduanya di .

  • Artikel tsb lebih tdk ilmiah lagi ketimbang yg pertama. Tidak ada argumen, hanya ‘pencitraan’.

  • Di artikel itu, Syafii Maarif hanya ‘curhat’ krn mendapat cemoohan yg kasar.

  • Padahal, selain cemoohan yg kasar, ada jg kritik yg santun dan ilmiah.

  • Setelah artikel pertama dimuat di Republika, banyak artikel sanggahan dari ust Adian, ust Syamsuddin Arif dll.

  • Sanggahan2 tsb sangat bernas, namun tdk dijawab oleh Syafii Maarif.

  • Sebaliknya, Syafii hanya mau mengomentari cemoohannya saja, seolah2 yg datang kepadanya HANYA cemoohan.

  • Itulah sebabnya saya selalu menyeru rekan2 utk melawan JIL dgn cerdas.

  • Jika kita melawan dgn emosional, niscaya mereka akan ‘act as a victim’.

  • Kalau sdh dipersepsikan sbg korban, maka yg salah pun dianggap benar. Publik kita masih emosional.

  • Btw, mau tau hubungannya A. Syafii Maarif dengan ?🙂

  • Buka , cek deh🙂

  • Jadi, yakinlah bahwa Buya niscaya tidak sejalan pemikirannya dgn dan kaum liberalis lainnya🙂

  • Semoga kita dikumpulkan di jannah-Nya bersama para ulama dan org2 shalih, aamiin…

  • =-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s