Cara Allah Mengatur Skenario Terbaik

Bukan tanpa alasan jika Dia membuat segalanya seolah menjadi berantakan tak karuan. Kita selalu melihat dari sisi jeleknya. Gambaran sederhananya seperti ini:

Saat kecil, kita melihat Ibu menyulam dengan santainya di teras. Kita duduk di lantai dan memandang hasil sulaman sambil protes, “Mengapa hasilnya berantakan seperti itu? Benangnya tak beraturan.” Ibu hanya tersenyum dan terus merajut tanpa memedulikan ocehan kekesalan kita karena diperlihatkan sisi jeleknya sulaman.

Tak lama, sulaman Ibu selesai dan dengan senyum semanis bidadari, beliau memperlihatkan sisi lain dari sulaman warna warni itu. Kita hanya bisa terperangah. Takjub. Indahnya. “Segala sesuatu tak bisa dilihat hanya dari arahmu berpijak. Hal indah itu akan terlihat sempurna ketika waktunya tiba untuk kauketahui.” Suara lembut Ibu menenangkan.

Begitulah tangan Allah bekerja.

Termasuk ketika saat ini aku dan kamu merasa bahwa ada sesuatu yang sedang direncanakan terjadi. Skenario yang senantiasa terasa rumit, melelahkan, meruntuhkan ego hingga ke dasar, dan berakhir menangis diamdiam dalam hati demi membenarkan bahwa sekali lagi keangkuhan kita kalah.

Cara-Nya melindungi kita agar tetap dalam koridor sekaligus menyodorkan aneka humor pahit dalam bentuk godaan dan potongan adegan yang cukup menggoreskan perih. Kita berpikir telah membuang waktu saat menjalani skenario-Nya. Entah, bagaimana bisa semua terasa berat dalam beberapa hari terakhir. Tak ada kebetulan dalam hal yang kupikir sebagai ‘candaan biasa’ ini.

Aku ada di mana saat kau membutuhkanku? Aku bahkan tak bisa berbuat apapun. Aku hanya bisa menitipkan kedua mata penjagaanku dan genggaman dukunganku pada-Nya. Mendoakanmu dari jauh. Aku masih berada di jalan pulang menujumu. Perjalananku dialihkan ke rute lain sebelum sampai di tempatmu. Entah apa yang akan Dia perlihatkan padaku selama perjalanan dengan jarak yang sepertinya semakin bertambah. Ataukah ini bagian dari skenario yang dulu kupikir tak ada?

Aku tak kuasa melawan. Ketika aku ingin mempercepat waktu agar bisa segera sampai di tempatmu, dengan mudah Dia menghentikan langkahku. Aku sempat khawatir bila kamu berpikiran lain. Tapi seperti biasa, Dia membisikkan kalimat penenang.

Ternyata aku masih protes dengan pola sulaman yang sedang dibuat-Nya.

(tulisan ke tigapuluhtujuh dari beberapa tulisan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s