Agama Tuhan (3) ~ Akmal Sjafril

Hore! Ada lagi sambungan pengetahuan untuk ‘masalah’ seru yang satu ini😉

Sudah baca Agama Tuhan jilid 1 dan jilid 2? Bagus🙂

=-=-=-=-=-=

  1. What, bahas lagi? Ya iya donk, kenapa nggak? Soalnya masih ada yg bisa digali🙂
  2. Kultwit yang pertama >>
  3. Kultwit yang kedua >>
  4. Pangkal diskusinya masih sama, yaitu pada tweet lucu yg satu ini🙂

  5. Pada kultwit pertama, kita sdh bahas kekeliruan yg diakibatkan dr ketidakpahaman akan makna “diin”.

  6. Yg pernah ikut Workshop atau harusnya sdh khatam materi konsep “diin”🙂

  7. Pada kultwit kedua, kita sdh bahas kekeliruan logika seorang Muslim yg bertanya soal Tuhan kpd pastur.

  8. Pd hakikatnya, meski sama2 menyebut kata “Tuhan”, tapi yg kita pertuhankan berbeda.

  9. Krn itu, jika ada Muslim belajar soal Tuhan dr umat lain, jelas problemnya ada pd ‘izzah dan logikanya sendiri.

  10. Kali ini, saya ingin berikan pertanyaan lebih menantang lagi.

  11. Pertanyaan saya: Mengapa sang Pastur bertanya seperti itu?🙂

  12. Pertanyaan yg diajukan oleh sang Pastur adalah retorika. Kita dapat mudah menerka jawaban yg ia kehendaki.

  13. Jawaban yg ia kehendaki itu adalah cerminan dari pemahaman dlm benaknya sendiri.

  14. Tapi mengapa seorang Pastur harus mempertanyakan apa ? Ada apa di balik pertanyaan ini?

  15. Bagi seorang Muslim, tdk ada perlunya mempertanyakan (cek kultwit pertama). Lalu ada apa dgn pastur ini?

  16. Akar perbedaan setiap agama adalah pada konsep ketuhanannya.

  17. Konsep ketuhanan bukan hanya membedakan masing2 agama, tapi jg membedakan cara berpikir umat beragama.

  18. Di sinilah, lagi-lagi, kita lihat kenaifan paham pluralisme agama.

  19. Umat Muslim dan Kristiani boleh jadi sama2 menggunakan kata “Tuhan”, tapi yg dibicarakan tdklah sama.

  20. Sebagian agama di dunia berusaha mendeskripsikan tuhannya dgn sebuah imej visual. Tapi Islam tidak.

  21. Bagi seorang Muslim, menggambarkan Allah SWT ke dlm sebuah imej visual adalah absurd.

  22. Sebab, segala hal yg kita dapat saksikan wujudnya di alam semesta ini memiliki keterbatasan.

  23. Dlm agama Kristen, Yesus dianggap bagian dari Trinitas. Ia dianggap tuhan juga. Penjelasannya mmg rumit🙂

  24. Ada masalah besar yg muncul ketika Tuhan ‘mewujud’ menjadi manusia. Konsepnya jd berantakan.

  25. Sebab, ketika Tuhan digambarkan spt manusia, maka semua keterbatasan manusia pun ‘dibawa serta’.

  26. Contoh sederhana saja, jika ‘tuhan’ berjalan, kita semestinya bertanya: Apa Tuhan harus berjalan?

  27. Padahal, ruang dan waktu ini adalah ciptaan Tuhan. Lalu mengapa ‘tuhan’ harus berjalan menempuh ruang?

  28. Jika kita melihat ‘tuhan’ makan, kita semestinya kritis: Apa Tuhan butuh makan?

  29. Apa yg terpikirkan dlm benak jika kita melihat ‘tuhan’ berkeringat krn kelelahan?

  30. Jika kita melihat ‘tuhan’ buang air, apakah kita masih akan menganggapnya sbg Tuhan?

  31. Para pemeluk agama Kristen bahkan meyakini tuhan yang berdoa. Berdoa kepada siapa?

  32. Ketika Yesus disalib, lagi2 ia berdoa lirih, “Eli.. Eli.. Lema sebachtani…” Berdoa kepada siapa?

eli

  1. Bagi umat Muslim, berdoa itu memang pekerjaan manusia. Yg berdoa sudah pasti manusia, bukan Tuhan.
  • Mengapa manusia berdoa? Sebab ada keterbatasannya. Kemampuan kita memang terbatas.
  • Manusia makan krn memang tubuhnya butuh makan. Demikian jg berkeringat dan buang air.

  • Tubuh manusia memang akan mati jika disalib. Maka, yg mati disalib pastilah manusia. Bukan Tuhan.

  • Lucunya, skrg ada yg mendebat: “Bukankah tak ada yg tak mungkin jika Tuhan berkehendak?”

  • Menurut logikanya, Tuhan bisa mewujud mjd manusia jika Dia menghendakinya.

  • Jadi, Tuhan akan berbuat APA SAJA, hanya karena DIA BISA? Itukah logika yg benar?

  • Mari formulasikan teori tsb dlm kepala. Jika kita setuju Tuhan itu Maha Mulia, apakah teori ini sesuai?

  • Mari berbelok sejenak. Bayangkanlah seorang penguasa yang mulia. Orang, lho!

  • Ada seseorang berkuasa secara politis, fisik, finansial dll. Bisa dikatakan: ia bisa lakukan (nyaris) apa saja.

  • Krn ia sangat berkuasa, maka ia merasa bebas berbuat apa saja.

  • Ia tdk menjaga sikapnya. Ia tertawa terbahak2, bersendawa dan buang angin sembarangan spt rakyat jelata.

  • Karena ia berkuasa penuh, maka ia pun berbuat zalim kpd rakyatnya. Contoh yg spt ini banyak sekali di dunia.

  • Doing something just because you can is – actually – NOT a noble thing🙂

  • Hanya krn Tuhan Maha Kuasa, bukan berarti Dia sudi melakukan segalanya.

  • Sebab, selain Maha Kuasa, Tuhan juga Maha Mulia. Rasanya kita semua sepakat dgn hal ini.

  • Oleh krn itu, meski Tuhan Maha Kuasa, ia takkan lakukan apa pun yg merusak kemuliaan-Nya.

  • Bagaimana jika di akhirat kelak org2 beriman dan kafir sama2 dimasukkan ke Neraka?

  • Well, di satu sisi, itu hak prerogatif Tuhan. Tapi itu justru ‘merusak kemuliaan-Nya’.

  • Sebab, Tuhan sendiri yg menyuruh manusia utk menepati janji. Menepati janji itu mulia.

  • Tuhan jg menyuruh manusia membalas kebaikan dgn kebaikan. Itu perbuatan mulia.

  • Maka, wajarkah jika Tuhan melanggar janji-Nya sendiri dan membalas kebaikan dgn siksaan?

  • Meskipun Tuhan Maha Kuasa melakukan hal tsb, tapi kita meyakini Dia takkan melakukannya.

  • Allah SWT itu Maha Perkasa, namun Dia jg menamai diri-Nya sebagai Maha Penyayang.

  • Meski Allah mampu menyiksa semua manusia tanpa kecuali, namun kasih sayang-Nya mendahului siksa-Nya.

  • Logika yg sama bisa kita gunakan dlm hal apa pun. Tuhan Maha Kuasa, tp apa Dia sudi mewujud mjd makhluk-Nya?

  • Apakah Tuhan sudi merendahkan diri-Nya hingga ke level makhluk-Nya?

  • Bgmn dgn yg ngotot ‘berlogika’ tadi? Well, ujung2nya malah menolak logika tuh🙂

  • Krn hal2 spt inilah sy malas berdebat di tweet. Org terlalu gampang menjilat ludah sendiri dlm 140 karakter🙂

  • Bagi umat Muslim, konsep semacam ini sudah sangat dipahami. Anak kecil pun paham🙂

  • Allah SWT mengirimkan para Nabi dan Rasul utk menjadi teladan. Mereka 100% manusia.

  • Para Nabi harus mencontohkan makan dan minum dgn benar. Oleh krn itu, mrk pun makan dan minum.

  • Bahkan manusia harus pula diajari cara buang air yg benar. Maka, para Nabi pun melakukannya.

  • Allah SWT tidak perlu ‘turun tangan’ langsung utk menjelaskan cara manusia memenuhi kebutuhannya.

  • Umat Muslim tdk pernah gamang membedakan antara Tuhan dan manusia, krn memang jelas bedanya.

  • Tapi tidak demikian halnya bagi agama2 yg ‘memanusiakan’ tuhan mereka🙂

  • Jauh sblm agama Kristen lahir, masyarakat Yunani kuno pun mengalami ‘kebingungan’ yg sama.

  • Dewa-dewi mereka sangat manusiawi. Meskipun punya kemampuan hebat, tetap saja manusiawi.

  • Pada akhirnya, mereka pun bingung membedakan antara manusia dan dewa-dewinya.

  • Ada dewa-dewi seperti Zeus, Hades, Poseidon, Hera, dst.

  • Ada manusia separuh dewa seperti Hercules dan Perseus.

  • Tapi, ada jg manusia yg kepahlawanannya bak dewa seperti Achilles dan Odysseus.

  • Adakalanya, manusia separuh dewa dan manusia yg bak dewa bisa mengalahkan dewa yg sesungguhnya.

  • Di saat lain, para dewa melakukan hal2 yg tidak mulia spt manusia, bahkan lebih hina drpd manusia biasa.

  • Kalau sudah begini, niscaya kerancuan berpikir akan selalu terjadi. Akibatnya, manusia tdk mengenal Rabb-nya.

  • Maka janganlah heran jika ada Pastur yg kemudian bertanya: Apa sebenarnya ?

  • Yg paling ajaib sesungguhnya adalah mereka yg sudah mengenal Tauhid namun latah dgn kegamangan org2 kafir.

  • Alhamdulillaah, segala puji bagi Allah atas nikmat iman dan Islam ini.

  • Semoga kita semua senantiasa berada di jalan-Nya yg lurus. Aamiin, Allaahumma aamiin…

  • =-=-=-=-=-

    kuliah tauhiid 101😀

    5 thoughts on “Agama Tuhan (3) ~ Akmal Sjafril”

    1. postingan kultwit yg mencerahkan mbk. ^_^
      hebat bgt menjelaskan tuhan, yesus, islam, allah.

      tpi sya ada pertanyaan. (smoga mbknya senang🙂 )
      jika allah maha segalanya. berkuasa atas terciptanya ruang dan waktu. menakdirkan hidup mati dan prosesnya ketika manusia di umur 4bln dlm kandungan. dan semua manusia dlm kerugian.
      apakah allah juga berkuasa atas keinginan manusia.
      apakah allah berkuasa juga atas hati manusia.
      jika itu benar. maka yg membedakan manusia satu dan lainnya apa, jika semua adalah kuasa allah. ? ^_^

      mohon mbknya memaklumi sya yg masih bnyk kekurangan dlm ibadah maupun pemikiran ^_^

      Disukai oleh 1 orang

      1. Ini pertanyaan klasik antara qadariyah dan jabbariyah. Ada yg berpendapat bhw semua sdh ditaqdirkan Allah, dan karenanya manusia tak perlu berusaha. Ada jg yg berpendapat bahwa segala hal ditentukan oleh usaha manusia, bukan taqdir Allah. Kedua kelompok ini (qadariyah dan jabbariyah) dianggap sesat, walau tdk disebut kafir. Pandangan para ulama bisa dibilang ‘di antara keduanya’. Yg benar adalah Allah berkehendak kepada manusia, dan manusia dituntut utk memberi respon yg benar. Jadi jika Allah mentaqdirkan musibah, maka manusia wajib bersabar. Jika Allah mentaqdirkan kebaikan, maka manusia wajib bersyukur. Allah memberi manusia kuasa utk membuat pilihan dlm memberikan respon tsb.

        Disukai oleh 2 orang

        1. hmhmmm. keduanya sesat ya. kenapa bisa menganggap sesat mas ?

          kemudian. ” Allah memberi manusia kuasa utk membuat pilihan dlm memberikan respon tsb.”
          jadi manusia bisa berkuasa juga atas segala keinginan / pilihannya tanpa campur tangan allah ta’ala ?

          *maaf mas, sya masih bingung soal takdir seperti ini. mohon jangan di bully. tapi ditabokin aja pantat saya, atau suruh jalan jongkok keliling komplek. ^_^

          Suka

          1. Haha gak akan ditabokin la 😀

            Dua2nya sesat krn ekstrem. Yg satu menganggap bahwa tdk ada gunanya ikhtiar, padahal ikhtiar itu diperintahkan oleh Allah. Sedangkan yg satunya lg menganggap bhw semuanya ditentukan oleh ikhtiar kita, padahal Allah jg berperan dlm segala aspek kehidupan kita.

            Contohnya ketika kita mengalami kegagalan, bgmn menyikapinya? Apakah kita tdk perlu ikhtiar krn Allah sdh mentaqdirkan kegagalan? Sebaliknya, jika kita sudah ikhtiar maksimal lalu Allah mentaqdirkan kegagalan, apa itu berarti Allah tidak adil?

            Manusia diperintahkan utk berdoa dan ikhtiar, setelah itu tawakkal. Bisa jadi sdh berikhtiar tapi diuji dgn kegagalan, atau bisa jadi juga Allah berkenan memberi keberhasilan. Toh, keberhasilan jg merupakan ujian. Kalo tdk bersyukur, maka kita gagal dlm ujian keberhasilan.

            Jadi, Allah memberi manusia kuasa (memberi kuasa, artinya Allah tetap Maha Kuasa, sebab kalo tdk diberi kuasa ya manusia gak punya kuasa) utk menentukan pilihan. Jika diberi kesulitan, apakah manusia akan memilih bersabar atau ngamuk? Jika diberi kesuksesan, apakah ia akan bersyukur atau lupa diri? Jika manusia sudah berbuat kebaikan, apakah ia akan tawadhu’ atau malah besar kepala? Jika manusia sdh berbuat dosa, apakah ia akan taubat atau malah semakin sesat?

            Disukai oleh 2 orang

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s