Muslimah dan Selfie

Hari gini, kegiatan yang namanya selfie sudah menjadi jamak dan semua orang juga tahu apa yang dimaksud. Mengabadikan dirinya sendiri dengan cara menyorot wajahnya sendiri dengan (kebanyakan) ponsel pintar. Kalau mau seluruh badan, tinggal pakai tongsis (tongkat narsis). Hingga akhirnya ada istilah lain seperti wefie (satu foto beramai-ramai) atau selfoot (memfoto kaki sendiri). Penulisannya entah bagaimana yang benar, intinya demikian.

WIKIPEDIA:

A selfie is a self-portrait photograph, typically taken with a hand-held digital camera or camera phone. Selfies are often shared on social networking services such as Facebook, Instagram, or Twitter. They are usually flattering and made to appear casual. Most selfies are taken with a camera held at arm’s length or pointed at a mirror, rather than by using a self-timer.

Jujur, aku sendiri super jarang selfie. Sekalinya selfie hanya untuk keperluan jualan atau promo produk Oriflame. (teteup ya bok) Itu pun sudah diprotes oleh beberapa muslimah tarbiyah yang merasa terganggung dan menegur via inbox FB atau BBM.

Membaca linimasa Ustadz Felix Siauw tanggal 19 Januari tentang selfie, pasti banyak yang gerah dan jengkel. Akhirnya bisa ditebak, ada perlawanan masif dan kesinisan pun menjadi viral. (ketawa kunti ) Penggalannya seperti ini:

  • Bila kita selfie, mencari pose terbaik, memilih-memilah, lalu takjub dan kagum dengan diri kita | khawatir itu sudah termasuk UJUB
  • Bila kita selfie lalu upload di medsos, berharap –desperately– di-komen, di-like, di-view atau apalah | kita sudah masuk perangkap RIYA
  • Bila kita selfie, lalu merasa lebih keren, eksis, lebih baik dari orang lain | jatuhlah kita pada hal yang paling buruk yaitu TAKABBUR
  • Ketiganya, UJUB, RIYA, TAKABBUR | mematikan hati, membakar habis amal, dan membuatnya layu bahkan sebelum ia mekar

Sampai detik aku menulis postingan ini, sudah terlalu banyak “serangan” bahkan dari Adit dengan #CommaWiki yang fenomenal itu😛

commawiki - selfie

Ternyata pula, sebenarnya masalah selfie ini blunder untuk Ustadz Felix sendiri.

felix selfie

Begitu pendapat beliau. Oke, abaikan bagian blunder parahnya itu deh ya. Meski capture itu sebenarnya untuk acara talkshow bulan Desember 2014, tetap saja secara bahasa menjadi salah. Cek lagi dong Wikipedia di atas dan bandingkan dengan #selfie yang dijadikan tema acara HijabAlila itu. Misleading. You know.  :lol:

ini hestek yang diributkan. yang salah siapa dong?
ini hestek yang diributkan. yang salah siapa dong?

Jadi, sebenarnya, jika dari segi pemakaian bahasanya saja sudah salah, tentunya berakibat pemahaman masyarakat juga salah dong? Iklan promosi talkshow di atas itu jelas memuat satu kata yang artinya sudah diamini orang sedunia, menyebabkan kesalahan dalam persepsi. Acaranya sendiri isinya tentang hijrah dari masa lalu tanpa hijab menjadi muslimah yang menutupi aurat dengan baik.

Mungkin ada benarnya. Mungkin juga niatanku untuk selfie ada yang salah. Tapi mengingat foto selfie aku tidak lebih dari 10 foto sejak 3 tahun punya henpon pintar dan baru 2 foto untuk kepentingan bisnis, jadi mikir deh… Apakah ke depannya ada lagi foto berikutnya yang kuambil sendiri untuk kebutuhan pribadi atau maksud lain? Entah.

Anyway, fotoku yang sendirian apalagi diambil oleh diriku sendiri, memang mendapat protes dari satu orang juga. Kesayanganku secara terang-terangan marah. Aku ngambek? Gak lah. Malahan senang karena diperhatikan. Sejak saat itu aku benar-benar hati-hati. Khawatir.

Benar, akhirnya aku berpikir… Setiap aku mengunggah foto pribadi, selalu ada pria yang komentar “cantik” dan jujur saja itu membuatku gerah. Harusnya bukan mereka yang berkomentar. Selalu saja berujung pada pikiran sendiri, “Kayaknya ada yang ngedumel nih di seberang sana.”

Aku pribadi sih memang jarang juga difoto oleh orang lain. Boleh cek deh, profile picture di Facebook dan avatar di Twitter pun itu-itu lagi alias foto lama semua. Google Plus, LinkedIn, Path, Line, Telegram pun bernasib sama😀 Hihihihihi…

Allah menyukai keindahan karena Allah Maha Indah. That’s right. Tetapi memang di dunia maya saat ini, banyak sekali orang jahat yang tak peduli dianggap gila, akan menyimpan foto-foto kita untuk kepentingannya sendiri. Sudah terlalu banyak contoh. Aku pun menjadi berdoa khusyuk semoga tak menimpaku, segala kejahatan internet itu. Lagipun, aku memang tidak hobi difoto sendirian kecuali keroyokan.😆 Kalau foto sendiriannya bagus, ya suka disimpan sendiri atau dipasang pun untuk menghargai hasil karya orang lain🙂 semoga aku terhindar dari niatan pamer (lah ini apa, An?) (kusut)

Terlepas dari kontroversi selfie bagi para muslimah, semuanya kembali ke diri sendiri. UNTUK APA dan UNTUK SIAPA semua foto itu? Tujuan utamanya apa? (sambil ngaca)

Okay, bye!😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s