Hanya Namamu yang Bosan Didengar Tuhan

Aku tak pernah letih bersenandung mengeja namamu dalam doa lirih.

Ketika suatu saat nanti, aku merayakan hujan rindu dengan huruf-huruf pelengkap yang sudah kukenal baik.

Pagi, membuka mata dan bayangmu memenuhi langit biruku.

Siang, riuh aktivitas meminta jeda untuk memanggilmu sayup.

Senja, melukis temaramnya dengan siluetmu yang mendekati sempurna.

Malam, menutup hari dengan doa yang terbungkus rapi dan kutitipkan pada semesta.

Tuhan mungkin bosan di singgasana-Nya. Ya, aku hanya menyebut namamu ketika berdua dengan-Nya. Aku merayu-Nya hingga Dia tertawa. Humor-Nya terselip dalam kasih yang mengizinkanku menikmati satu hari baru lagi dan lagi.

Tuhan memiliki rencana indah untuk kita. Oh ya, tentu saja! Hanya kesabaran yang akan menjadi penentu, apakah aku dan kamu akan lulus ujian atau tidak? Setangguh apa kita?

Sujudku berbuah manis. Tentu, Tuhan pun membuat sujudmu semanis milikku.

Tetapi perjalanan aku menujumu masih berlangsung belum berakhir. Kamu pun masih harus bersabar untuk beberapa hal. Kita, untuk waktu yang akan mewujud sempurna.

Semoga Tuhan masih betah mendengarku menyelipkan namamu dalam setiap curahan hatiku.

(tulisanke tigapuluhlima dari beberapa tulisan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s