Mengurai Benang Merah Kusut yang Melilit

Kamu. Aku. Dia. Mereka.

Apa yang harus kuterjemahkan menjadi satu kalimat sederhana jika kemudian kutemukan jejak tak kasat mata terhubung sedemikian erat.

Mengapa kita tertahan dan tak bisa bertemu.

Mengapa terlalu banyak hal yang mengikat dan membuat kita tak bisa beranjak ke mana pun.

Mengapa Tuhan menghubungkan dia denganku melalui perantara orang lain. Dia, yang seharusnya tak membuatku khawatir. Dia yang sudah membuatmu mengabaikan sesuatu.

Semesta berkolaborasi membentuk sebuah masa depan tentang kita. Entah apa, entah bagaimana, entah kapan.

Kemudian, sebuah doa mengalir di keheningan malam dari tanah leluhurmu. Untuk kita. Menggema sempurna.

Sambutan untuk menyatukan impianmu datang seindah pelangi.

Namun sebelum semua mewujud sempurna menurut kehendak-Nya, masih ada sisa perjalanan yang harus kutempuh sebelum pulang menujumu.

(tulisan ke tigapuluhtiga dari beberarap tulisan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s