Fakta Unik Rendang Minang dan Petualangan Mencari yang Asli

Oke, ini rada lebay. Tapi, sekali lagi, sabodo amatan!šŸ˜†

Aku mengenal rendang (sebenarnya sih randang) sudah sejak mempunyai ingatan tentang masakan enak ini. Berhubung bukan orang Minang asli, jadi dulu sih disuguhi jenis rendang daging sapi model gimana juga diterima dengan lapang dada dan lapang perutšŸ˜€

Ketika tahun 2012 ada acara Rendang Journey di Jakarta, aku termasuk salah satu yang ngiler dan ngenes karena tidak bisa melihat acara serunya. Padahal tahu acara itu dari awal promosinya. Suram…šŸ˜¦ Oia, Rendang Journey itu ada kaitannya dengan buku Rendang Traveler hasil tulisan uniĀ Reno Andam Suri, pemilikĀ Rendang Uni Farah.

bukurendangtraveler

“Ini tidak hanya sebuah buku kuliner, tapi juga merupakan buku yang bercerita tentang kehidupan sosial budaya rendang yang belum banyak diketahui orang.” ~ Reno Andam Suri.

Membaca buku Rendang Traveler benar-benar seperti sedang bertualang ke ranah Minang, tempat masakan terlezat di dunia itu berasal. Pemilihan bumbu yang khas, kelapa jenis tertentu, sampai cara pembuatan yang berbeda di setiap daerahnya. (sudah mulai lapar saat membaca postingan ini? jangan salahkan dakušŸ˜› )

Aku pernah baca bukunya, sayangnya bukan milikku. nangis darah Sekarang masih adakah di toko buku dengan diskon nikmat? eh Atau ada yang mau kasih buku keren ini buatku?šŸ˜‰ Barter juga boleh (you know lah barter pake apaanšŸ˜‰ )

Nah, untuk urusan seleraku, akhirnya rendang kering berwarna hitam itulah yang paaaaaling aku suka! Sayangnya, tidak semua rumah makan padang menyajikan seperti yang kucari. Bahkan, waktu sedang hamil pertama kali, ngidam pun membuat aku mencari rendang kering hitam itu ke pelosok Bekasi. Bayangkan! digampar

Reno menjelaskan, bumbunya yang digunakan ada berbagai macam, tapi yang mendasar adalah bawang putih, bawang merah, lengkuas, cabai, jahe, dan daun jeruk. Sebagian daerah di Indonesia bahkan turut menambahkan bumbu kunyit, kapulaga, dan ketumbar hijau, yang disesuaikan dengan selera masyarakatnya.

(makanya aku merasakan rendang kok bisa ya gak kompak gitu rasanya. ternyata…)

Randang padang
gak nemu gambar rendang kering hitam, ya sudah, ini saja yang bisa mewakili deh.

Kemudian, aku membaca artikel fakta unik tentang rendang di SINI, kusalin ulang di bawah ini:

Rumah makan Padang menjamur hampir di seantero nusantara. Bahkan ada juga beberapa di luar negeri, semisal rumah makan ‘salero minang’ di Rotterdam, Belanda.

Rumah makan Padang sendiri adalah sebutan rumah makan yang masakannya berasal dari Sumatera Barat. Baik itu resep masakannya berasal dari Bukittinggi, Pariaman, Payakumbuh, ataupun Solok.

Kehebatan rumah makan Padang tak lepas dari menu masakan yang selalu memicu selera makan. Saat menikmati enaknya ‘gulai tunjang’, orang-orang seakan lupa persoalan asam urat atau kolestrol yang mengintai mereka.

Tapi kesampingkan dulu persoalan nikmatnyo menu-menu yang ada di etalase rumah makan padang. Sebab ada beberapa hal yang menarik selain menunya yang membuat anda menelan ludah.

Foto Kakek Berkopiah Hitam

Foto kakek berkopiah hitam atau bagi orang Minang dikenal dengan foto Ungku Saliah sering dijumpai di beberapa tempat rumah makan atau restoran padang. Dia terpajang rapi di dinding rumah makan atau restoran tersebut.

Jika menjumpai foto Ungku Saliah di beberapa tempat rumah makan padang, maka dapat dipastikan bahwa pemilik rumah makan padang itu berasal dari Pariaman, Sumatera Barat.

Orang Minang, khususnya orang Pariaman beranggapan bahwa Ungku Saliah adalah orang keramat. Memajang fotonya bagi sebagian orang akan mendatangkan rezeki.

Sementara sebagian lagi hanya sebagai identitas asal mereka. Ada juga yang ikut-ikutan tanpa tahu awalnya.

Porsi Nasi Dibungkus Jauh Lebih Banyak

Ada beberapa cerita yang dihimpun merdeka.com soal sejarah dari porsi nasi yang dibungkus jauh lebih banyak dibandingkan makan di tempat. Ada yang menyebut dulunya orang yang makan di tempat atau di restoran adalah kaum elite, seperti kolonial belanda atau saudagar kaya.

Sedangkan yang biasa dibungkus adalah kaum pribumi atau pekerja pabrik, dengan maksud agar bisa makan untuk berdua orang. Istilahnya subsidi silang.

Namun, menurut Doni, pemilik rumah makan di Pesakih, Kalideres, bahwa makan di tempat bisa ‘minta tambah’, sedangkan dibungkus tidak bisa. Jadi porsi ditambah untuk kepraktisan saja.

“Jadi, ditakarkan pas kenyangnya,” jelas Doni saat dihubungi merdeka.com, Rabu (7/5).

Selain itu, beberapa pendapat mengatakan ini hanya persoalan pelayanan dan biaya peralatan mencuci atau pegawai saja.

Rendang Menjadi Makanan Paling Enak di Dunia

Bagi mahasiswa atau pelajar perantau Minang, rendang adalah makanan awet yang bisa bertahan selama seminggu bahkan lebih. Tak heran, kalau rendang menjadi lauk wajib yang dibawa mahasiswa dan pelajar perantau Minang dari kampung mereka.

Tak hanya itu, situs travel kantor berita dunia CNN bahwa rendang menjadi menu terlezat di dunia.

Menu khas di rumah makan padang ini dipilih CNN dari hasil survei melalui akun CNN di laman jejaring sosial dengan menjaring lebih dari 35.000 suara para traveller dari seluruh dunia.

Hebat bukan?

Daun Singkong dan Gulai Nangka

Di Pulau Jawa, daun singkong dan gulai nangka tak dapat dipisahkan jika membeli nasi padang dibungkus atau makan di tempat. Dua menu tersebut menjadi pelengkap wajib dalam sajian nasi padang.

Namun, di tempat asalnya, Sumatera Barat, daun singkong malah jarang dipasangkan dengan gulai nangka.

Di salah satu rumah makan kota Padang misalnya, Anda bisa saja mendapatkan daun singkong sebagai sayur pelengkap di porsi nasi anda, tapi tidak dengan gulai nangka. Begitu juga sebaliknya.

Beda Nasi Kapau dan Nasi Pauh

Ini hanya persoalan nama belaka, masalah menu tidak jauh berbeda, sebab mereka sama-sama berasal dari Sumatera Barat. Tapi masing-masing punya keistimewaan.

Sebutan nasi Kapau adalah nasi yang berasal dari daerah Kapau, Bukittinggi, Sumatera Barat. Sekilas tak ada yang berbeda dengan nasi padang umumnya, namun perbedaannya terletak pada bumbu yang lebih khas dari pada nasi padang umumnya.

Nasi Kapau lebih banyak menyajikan menu yang berasal dari daging sapi atau daging kerbau, seperti ‘gulai tunjang’ misalnya. Ciri khas lain dari nasi kapau adalah gulai nangka menjadi menu wajib yang ada di rumah makan kapau.

Sedangkan nasi Pauh atau lebih dikenal dengan Rumah makan Pauh adalah rumah makan yang berasal dari Pauh, Pariaman. Menunya sama dengan masakan padang umumnya, namun yang membedakan adalah kenikmatan gulai kepala ikan. Ikan yang disajikan selalu ikan laut.

Tak heran, sebab Pariaman merupakan daerah pesisir yang memiliki banyak pasokan ikan laut.

Di Padang Malah Tidak ada Rumah Makan Padang

Percayalah, anda akan kesulitan menemukan rumah makan atau restoran yang bertuliskan ‘rumah makan Padang atau restoran Padang’ saat mendaratkan kaki di Sumatera Barat. Sebab, di Sumatera Barat sendiri, Rumah makan atau restoran tidak memakai embel-embel ‘masakan padang’ atau ‘Rumah makan padang’.

Yang dapat anda jumpai di Sumatera Barat adalah ‘rumah makan pauh’ yang membuat bayangan anda langsung tertuju nikmatnya gulai kepala ikan laut yang disajikan. Dan, ‘rumah makan kapau’ yang membuat anda terkenang dengan gulai tunjang yang menambah selera makan bahkan kolestrol.

Selain itu, Anda juga menemukan rumah makan Ampera. Sebutan rumah makan Ampera tak lain berasal dari Amanat perjuangan Rakyat. Rumah makan ini menawarkan harga yang lebih terjangkau daripada rumah makan umumnya.

“Makanya kalau di sini (Padang), rumah makan yang disebut Ampera jauh lebih murah dari rumah makan biasa,” ujar Adrival, Mahasiswa Universitas Andalas dan penggemar sejarah.


Fakta yang terakhir sih rada absurd. Soalnya di Bandung, rumah makan Ampera isinya justru khas Sunda semuašŸ˜† (abaikan)

Udah ah, jadi lapar begini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s