Karena Memang Tak Pernah Ada

Di antara sakit kepala karena overwhelmed dan merasa sesak di dada karena kerinduan yang takut sekali kuungkapkan, tetiba malam ini aku membaca dua buah blog yang membuatku terpana dan sukses menangis. Menderas luka batin.

Tulisan ini tak akan panjang. Aku sedang malas untuk sekadar menulis sesuatu yang belum lengkap racikan bumbunya. Setidaknya yang di bawah ini akan mewakili.

Nadhira menuliskan sesuatu tentang ojek payung yang berlomba menyelamatkannya dari kuyup hujan:

Wanita itu dipilih. Para pria yang ‘katanya’ suka sama gue itu, sudah memutuskan untuk memilih gue. Bisa jadi ga cuma satu pria yang memilih gue sebagai calonnya.

… dan pria itu memilih, batinku perih. Hal yang kuketahui sejak lama. Sejak sekolah. Sejak Mama semakin bawel memberi wejangan pada anak gadisnya yang keras kepala ini.

Sekarang aku paham, mengapa tak ada ojek payung emas itu untukku. Karena memang tak pernah adašŸ™‚

Kemudian dari blog Nadhira, aku melompat ke tulisan Mas Kurniawan Gunadi yang membuatku tertegun lama sekali. Aku tak mengerti mengapa harus membacanya ketika hati merasa buntu dalam keangkuhan.

Karena cinta dalam keyakinan kami baru benar-benar akan tumbuh jika sudah berada dalam ikatan, menjalani hidup bersama-sama setiap hari, mengenal karakter seseorang secara utuh dari bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan saat tidur.

Ya, aku terlalu angkuh. Aku bahkan tak berani (lagi) untuk bermimpi indah tentang pria berkuda putih yang akan membawaku ke istananya. That’s bullshit for me. Entah. Aku kelelahan untuk membayangkan hal yang terlalu menyilaukan itu.

Saya akan menikah dengan orang yang membuat saya ā€œtenangā€.

Kembali aku tertegun pada kalimat berikutnya.

Jika yang dimaksud cinta itu tidak kunjung dirasakan. Jika dia menjadi semakin absurd dan membuat kita bingung. Maka, kami berpendapat, cukup dengan seseorang yang mampu membuatmu merasa tenang. Ketika datang seorang laki-laki kepada perempuan, lalu perempuan merasa tenang. Mungkin itu sudah cukup untuk menerimanya. Ketika laki-laki bertemu dengan seorang perempuan, dan kepada perempuan itu dia merasa tenang, itu juga mungkin sudah cukup. Cinta bisa ditumbuhkan setelah pernikahan. Merasa tenang itu penting bagi kami, kami tidak akan memilih menikah dengan orang yang membuat kami gelisah, bingung, marah, dsb. Jika diawal sudah seperti itu, bagaimana ke depannya.

Jika datang orang yang bisa membuat kita tenang, mungkin itu cukup untuk menjadi alasan menerimanya. Setiap orang mendambakan ketenangan, ketenangan itu jauh lebih mendamaikan daripada rasa nyaman. Ketenangan meliputi batin dan tubuh. Ā Bahkan hilang rasa khawatir, apakah dengannya ini kita akan tidak bahagia, miskin, dan sebagainya. Semua kekhawatiran itu tidak ada karena kita merasa begitu tenang dengan orang ini. Sekalipun tidak ada rasa cinta pada awalnya.

Sakit kepala lagi deh bacanyašŸ˜¦ Ada yang kurang bisa kusepakati. Ketenangan dan kenyamanan itu satu paket dan sejajar. Bagiku, itu harus. Jika salah satu tiada, mungkin bukan orang yang tepat.

Terlebih setelah menonton film “Assalamu’alaikum Beijing”, kesinisanku tentang cinta sejati semakin menjadi.

“Buka hatimu untuk pria lain lagi, An.” Selalu ini yang diucapkan sahabat-sahabatku. Sekali aku membuka, seketika pula disakiti sedemikian rupa dengan berbagai cara. Oh, ternyata para pria itu senang bermain? Oke, kuladeni. Mari kita bermain. Siapa yang akan capek dan bosan duluan? Sudah bisa ditebak kan?Ā Keseriusan itu tak pernah ada dari mereka yang memang bukan untukku. Bahkan bukan untuk perempuan lain. Sampai akan tiba waktunya, mereka berpikir untuk mencari ketenangan dan kenyamanan. Cinta dan gairah ibarat kembang api, sementara tenang dan nyaman ibarat lilin.

Maka sejak memasuki semester dua di tahun 2014, semuanya berubah.Ā Karena aku sudah tak bisa ke lain hati. Cinta itu harus diperjuangkan dengan serius. Mungkin, karena selama ini aku juga mengikuti permainan mereka, maka hanya sebatas itu yang kudapatkan.

And now, am on my way to find you (again).

You’re my Nemo. If you get lost in the great, big ocean, I’ll find you.Ā 

Yes, you. Esmony.Ā 

(tulisan ke tigapuluhdua dari beberapa tulisan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s