Assalamu’alaikum Beijing The Movie : Menurut Pandangan Mataku

Ini mungkin bukan ulasan yang baik. Aku pun sebenarnya sedang jarang ngebolang ke bioskop.

assalamualaikum-beijing

Jadi ceritanya begini…

Aku membaca twit bunda Helvy tentang nobar film AB ini setelah aku punya rencana bertahunbaruan di Bandung saja. Jadinya aku tak begitu antusias. Bete mah iya😀 Ndilalah, ternyata rencana berubah dan aku harus ada di Depok pada tanggal 30 Desember! Coincidence? Hm?😉

Aku langsung bertanya untuk konfirmasi pada mbak Asma tentang kepastian nobarnya. Ternyata harus sudah berkumpul pukul satu siang dan aku baru datang pukul dua dong dong dong! Panik! Apa lagi ketika sampai di loket… Ternyata kehabisan tiket! Darn it! Dengan pedenya, aku bilang sama si mbak di loket,  “Ya udah, saya cari teman dulu, siapa tahu sudah dibelikan.” Hehehehe…

Akhirnya bertemu dengan bunda Helvy yang sedang membagikan tiket dan aku menyapanya riang. “Bunda, ini Andiana, Kangen!” Bunda tersenyum dan menjawab, “Hai, apa kabar? Sudah dapat tiketnya?” Aku menggeleng dan mengatakan kehabisan. Bunda Helvy bilang, “Tunggu di sini ya? Mudah-mudahan ada tiket cadangan. Sebentar.” Kemudian bunda Helvy menghilang di tengah lautan abege yang heboh bertemu Morgan Oey. Aku cukup memandangi kehebihan itu dari jarak sekitar semeteran saja. Aku pun pernah muda. *tsaaaaahhhh*

Aku bertemu dengan mbak Asma dan menyapanya. “Andiana ya? Kapan datang? Sudah ada tiketnya? Sama siapa?” Diberondong pertanyaan itu malah aku yang gelagapan😛 Kemudian mbak Asma sibuk kembali dengan para penggemarnya. Suasana sangat ramai siang itu. Aku, seperti biasa, mencari colokan listrik karena batere sudah sekarat. *teteup ya, An!*

Sekitar sepuluh menit kemudian, bunda Helvy datang dengan pancaran wajah lega. “Ini buat kamu. Sendiri, kan?” Aku mengangguk mantap dan berterima kasih penuh syukur pada Allah. Setiap kejadian selalu menyisakan hikmah, kan?

“Jika tak kautemukan cinta, biarkan cinta menemukanmu.”

Baiklah, ini pendapatku yang mungkin subyektif tentang film AB:

1. Morgan Oey terlihat terlalu muda untuk memerankan Zhong Wen. Aktingnya juga agak kaku. Tetapi dia lumayan bisa mengimbangi akting pemeran senior lainnya dengan baik. Si Cung cung ini agak lebay ketika meneriakkan “Ashima” sebagai tanda kerinduannya. Duh, tipikal film lokal. Seharusnya adegan ini skip! Sumfeh!

2. Sangat memuji akting Ibnu Jamil yang sukses bikin aku sebal pake banget. Dia menjiwai karakter Dewa dengan maksimal hingga rasanya ingin sekali menendang dia dari Tembok Raksasa Cina😆 Tapi saat dia “menyerahkan” Asmara pada Cung cung di rumah sakit, aktingnya malah anti klimaks. Gak suka. Terlalu datar dan tidak greget. Harusnya dibumbui sedikit “ancaman” khas Dewa. Gitu deh.

3. Akting Revalina sendiri biasa saja. Tak ada yang istimewa. Malah terlihat kaku. Emosinya tidak keluar dengan baik. Setiap dia memegang kamera pun terasa kaku, seperti tidak pernah menggunakannya. Jujur, aktingnya terlihat lebih baik di film “Perempuan Berkalung Sorban.” Maaf, ini sih penilaian pribadi.

4. Laudya C. B bermain apik dan menggemaskan. Hal ini yang membuat film terasa timpang buatku. Pemeran utamanya adalah Asmara, tapi yang nempel di benak justru semua tingkahnya Sekar. Bagaimana ekspresinya terlihat all out dan rasanya membuatku ingin mencubit pipinya. Sekar itu lucu.

5. Desta adalah aktor yang bermain dengan nyaris sempurna kecuali satu: porsinya tidak banyak😀 Karakter Ridwan yang kaku justru membuatnya bisa mengeluarkan sisi kocak khas seorang Desta.

6. Yeah, tante Jajang C. Noer pun turut meramaikan! Sebagai aktris kawakan, menurutku yang sotoy ini, akting beliau tidak terlihat seperti biasanya. Datar, kaku, dan seperti baru pertama kali bermain film. Ah, mungkin mataku siwer.

7. Sutradara Guntur Soeharjanto seperti agak tanggung membuat emosi seluruh pemain. Entah kenapa. Malah jadi ingat salah satu iklan rokok “Ekspresinya mana?” Hihihihi… Apakah karena ini film Islami, sehingga kekakuan itu terasa untuk tidak mengumbar adegan ‘tidak perlu’ itu? If you know what I mean

8. Alam Cina yang cantik membuatku jatuh cinta. Luar biasa. Pengambilan gambarnya setiap detil sudut di Cina menurutku bisa mendapat nilai 80 dari 100😉 Top! Ini yang kusuka. Makanya, sepanjang film, aku justru lebih memerhatikan masyarakat dan lingkungannya. Dominasi warna merah yang manyala itu menggugah semangat. Narasi tentang sejarah Islam di Cina cukup baik. Namun karena aku keburu terpukau dengan keindahan alamnya, narasi itu seperti hanya numpang lewat telinga kiri keluar telinga kanan. Sampai setiap habis narasi, aku gelagapan. “Eh, tadi tentang apa?” Ah😦

9. Maaf kalau aku tidak bertepuk tangan ketika film selesai. Kurang puas. Kurang panjang durasinya. Hihihihihi. Tahu-tahu begitu saja ending ceritanya. Lah? Nonton lagi yuk! Tetap worth it kok untuk ditonton😉 Berhubung ekspektasiku terhadap beberapa pemain rada ngedrop, tapi aku cukup terhibur dengan pemandangan di Beijing dan Yunan yang kece banget itu😉

10. Maaf juga kalau aku mengkritik akting para pemain. Selalu benar apa yang orang bilang, “Don’t judge a book by it’s film.” Hehehehe…. Bukunya malah bagus banget, khas mbak Asma Nadia. So, enjoy your time while watching this awesome movie. Hikmahnya banyak banget. Terutama… Untuk yang susah move on dan tidak percaya cinta sejati. Hohohohoho…. Seperti kata Asmara di awal film, “Kamu laki-laki, kan?” Sebuah pertanyaan retorik yang menghunjam langsung ke ego para pria mana pun. Itu juga kalau masih punya nalar😛 Muehehehehe😀

11. Agak aneh dan janggal melihat Revalina dan Bella memakai jilbab di film. Mereka terlihat sangat cantik, anggun, manis, menarik, dan menyejukkan mata. Pujianku over dosis keknya😀 Begitu melihat foto-foto mereka di promosi film AB tanpa kerudung sekali pun, barulah aku sadar bahwa ya mereka memang masih belum berhijab. Etapi siapalah aku yang hanya bisa mengkritik penampilan orang, yes?🙂

12. Modis banget Asma dan Sekar dalam film ini. Modern dan aku suka melihat outfit mereka. Tapi cek deh, ada berapa yang nyinyir hanya karena mereka memakai celana panjang dan bukan gamis? *grin* Aku malah lebih suka tampilan seperti itu yang dinamis dan coraknya gak norak. (aku hanya membahas segi fesyennya segini aja. bukan pengamat juga sih)

13. Dan inilah yang terakhir. Egoku bermain. Aku tak percaya cinta kilat. Apalagi, bagiku, sebuah pernikahan bukanlah tentang cinta. Tetapi tentang kasih sayang dan kewajiban. Cinta menyeretku pada sebuah kata di belakangnya: Seks. Jika beranggapan bahwa pernikahan adalah sarana untuk melegalkan seks semata (seperti pertanyaan polos Cung cung tentang ciuman dan pelukan), bye bye aja yang namanya pernikahan. (Tentang hal ini ada di postinganku yang lain😉 )

agar tidak disangka hoax😛 blur nih, buru2 motoinnya di depan kasir😀

Okay, that’s all. Kalau kebanyakan nanti dikeplak😛 Mohon maaf aku bukan pengulas sebuah film yang baik. Apa adanya aja.  Maaf ya, no offense. Akhir tahun yang menyenangkan, menghabiskan waktu dengan tontonan bermutu. Dakwah lewat film di era modern memang cukup mengena. Hey, aku ketagihan nontonnya. Ada yang mau menemani?

=-=-=-=-=-

Oh ya, ada tambahan yang membuatku (maaf) semakin tak percaya bahwa cinta sejati karena Allah itu ada… Really sorry…

Adegan ketika Cungcung melamar Asma itu lho. Aku menghela napas berat ketika adegan itu muncul. Hahahaha, sorih!
Oh ya, adegan ketika Cungcung meminta Asma kepada ibundanya membuatku berpikir keras, mengapa makhluk cowok semacam ini sangat langka di dunia? Harus dilestarikan dengan cara apa?

“Let slowly grow old together!”
Ini ucapan Zhong Wen melamar Asma. Adegan ini cukup romantis (menjurus ke lebay *oke, aku sinis*). Terdengar aneka gumam di dalam studio ketika adegan ini muncul karena kalimat itu disampaikan kepada Asma yang tak lagi sempurna. Asma sakit, kehilangan kemampuan bicara dan bahkan divonis sulit mendapatkan keturunan. Ya, Asma terkena stroke dalam usia usia muda.

Tentang kalimat pembuka lamaran itu, mbak Asma Nadia menuturkan dalam akun Facebook-nya begini:

Sulit menemukan padanan bahasa Indonesia yang sama romantisnya jika diterjemahkan. “Mari perlahan menjadi tua bersama!” Terdengar kurang romantis. Mungkin lebih enak, “Aku ingin hidup bersamamu sampai tua!” “Mari hidup bersama sampai kita tua!” atau lainnya. Tapi sebenarnya kalimat di atas bukan sekedar romantis tapi sangat kuat maknanya.

Let slowly – kenapa pakai kata “secara lambat”? Itu adalah simbol kebahagiaan.
Kalau kita sedang happy berada di tempat yang sangat indah bawaaannya mau berlama-lama kan? Karena happy. Jadi slowly menujukkan cinta yang begitu indah sehingga tidak ingin segera berakhir.

Grow old – menujukkan optimisme. Di saat sang calon istri menderita penyakit parah, bahkan dianggap usianya tinggal menghitung hari atau bulan – sang kekasih optimis akan hidup sampai tua bersama.

Sulit menerjemahkan kalimat “Let slowly grow up together!” tapi yang penting kita tahu begitu dalam maknanya.

Ya sudah sekian kesinisanku untuk romantisme dalam film ini. Hahahaha, sayang banget film sebagus ini kukritik dengan menyebalkan😛 Etapi sekali lagi, aku gak kapok nontonnya. Anggap saja ini fiksi yang indah. Padahal, ini kisah nyata. Seperti jawaban mbak Asma dalam twitnya untukku:

AB twit

Iya, kisah nyata. Iya. But not for me. *teteup*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s