I (Still) Going Nowhere But Here…

Ketika pertama kali menjejakkan kaki di rumah Cibiru sebagai tempat tinggalku yang baru, keraguan itu sudah menyergap perlahan. Meski secara kasat mata, lokasi rumahnya sangat nyaman. Tenang cenderung sunyi, tetangga yang ramah (meski di beberapa hal lumayan berbeda kebiasaan😀 , dan ke pusat perbelanjaan masih bisa dijangkau dengan ojek. Sekolah dari mulai PAUD sampai tingkat kampus pun lengkap. Puskesmas tinggal jalan kaki. Klinik umum dan bersalin pun dekat. ATM Bank pemerintah (BJB,BRI,BNI,Mandiri) plus BCA pun selemparan handuk. Akses tol tak pernah kudapati sedekat ini. Mau ke Jawa bagian tengah dan timur? Tinggal tunggu di pinggir jalan raya pun sudah banyak pilihan. Bahkan untuk urusan memasak, di warung sebelah rumah tersedia sayuran segar setiap hari.

Lantas apa yang membuatku harus segera angkat kaki dari rumah nyaman dan luas ini? Hati dan pikiranku gak di sini. This town have stolen my heart. Bandung is where my heart belongs and here is my home. But, I still can’t find my house. Yes, I feel homeless even I stay at this place. Bingung? Ya… Gitu deh.

Ketika aku menempati rumah ini sejak malam pertama, mulai terasa ada yang salah. Toh, adikku sendiri pun berkata bahwa aku boleh memilih lokasi lain setelah dua tahun. Nah, ini tahun ketiga. If you know what I mean… Iya aku sudah tepat ada di Bandung. Tapi fisik tempat tinggalnya yang belum pas. Ada sesuatu yang mengganjal. Makanya setiap jalan ngangkot di kota ini, aku seperti mencari sesuatu yang hilang. Mata melihat ke sana sini. Tapi rasanya tetap belum pas. Entah karena belum ada uangnya, belum tiba waktunya, atau alasan lain.

Aku pun ingin menghapus bayang Sean, Ken, John, Bob, Zoe, Zach, dan Wayne di sini. Meski kenangan tentang mereka tentu saja tak bisa dilepaskan begitu saja. My beloved bastards😀

Home is like my house in Cirebon, over 15 years ago. Sampai sekarang, setiap sudutnya masih terekam jelas di benak. Perubahan warna cat, pergantian gordyn, pemindahan letak tangga, dan sinar mentari paginya pun masih bisa terasa… Tak ada kenangan yang bisa lepas dari sana. Meski jauh dari mana-mana dan harus dijangkau minimal dengan naik becak, tapi terasa dekat karena hati yang riang. Aku selalu rindu pulang…

House is like mine in Depok for 11 years. Super dekat ke mana pun. Ke mall tinggal jalan kaki. Pasar, ATM, Puskesmas, Apotek, Kelurahan, dan toko kelontong dalam radius 2 kilometer semua. Angkot 24 jam ke arah Parung dan Pasar Minggu. Really, I should had no worry. But, I couldn’t stand any longer. Bahkan, nyaris gak ada kenangan yang kuingat di sana kecuali kelahiran dua jagoan gantengku. Aku gak kangen untuk balik lagi ke Depok. Sama sekali.

Persimpangan hati sekarang sedang terjadi di Bandung. Aku ingin secepatnya pindah dari Cibiru. Entah ke sudut mana di bagian timur atau tengah Bandung. Asal tidak di selatan atau barat😛 Utara? Gak sanggup dengan harganya😆 Etapi relatif sih ya, di tengah juga ada yang harganya selangit mesra😦

I wanna go home

PS: Terima kasih banyak untuk para teman, rekan, dan relasi yang sudah membantu menyebarkan info rumahku yang dijual🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s