Bertahan Untuk Setia dan Memantaskan Diri

Tak sengaja, membaca kembali tulisan lama tentang “Setia Saat Tidak Dipedulikan” dan aku diam lama sekali. Mengapa sepertinya sama persis dengan apa yang terjadi saat ini? Sejurus kemudian, aku hanya tersenyum dan merasa sudah lebih siap menyikapi semuanya dengan baik. Padahal, tulisan dalam posting dua tahun lalu itu bukan untuk sesiapa. Hanya saja, aku ingat bahwa ketika aku menulis hal itu, pikiranku jauh melayang entah ke mana. Entah untuk siapa.

Kata ‘setia’ memang sotoy untuk orang seperti aku yang pernah gagal. Tapi boleh dong aku membela diri bahwa aku juga belajar dari pengalaman dan berusaha untuk tak terpuruk dua kali. halah

Kemarin aku menghapus dua akun dari dua situs jodoh online. Silakan tertawa. Tapi memang aku ikutan menjadi anggota tanpa memikirkan apapun. Hanya iseng. Mungkin karena hanya iseng tersebut makanya ya tak pernah membuahkan hasil positif, justru menuai sambutan dari akun-akun hidung belang. ngik

Pun, aku pernah membaca dari salah seorang ustadz internasional (lupa deh siapa) yang bertanya retorik, “Untuk apa ikut menjadi anggota situs pertemanan dunia maya? Lebih banyak mudharatnya.” Awalnya aku merasa terusik. Lah, jadi aku harus menghapus akunku itu dong? Kemudian aku berpikir dan merasa memang hanya membuang waktu tak jelas ketika berselancar masuk ke situs tersebut. Lagipula, sahabatku meledek. “Ngapain sih cari di luar? Mendingan yang nyata, tauk. Rasa lokal aja, napa?” Ini sebut saja Fira. Hiahahahaha😆

Jadi, memantaskan diri sama dengan tidak menjual diri semurah itu. Ternyata, maksud dari situs pertemanan atau perjodohan dunia maya itu nampak seperti (maaf) pelacuran. “Apa bedanya?” Seorang teman yang hanif dan paham agama bertanya retorik. Akhirnya, dengan bermaksud untuk lebih dekan kepada cinta-Nya, aku belajar patuh. Menjaga hati dan pandangan lebih baik lagi.

Saat ini, aku sedang dalam tahap tidak dipedulikan dan dia juga menjadi agak menyebalkan. Lantas, apa aku meninggalkannya? Nope. Aku tetap bersikap seperti biasa. Aku membiarkan dia melihat dan menyadari bahwa aku tak akan berubah meski dia menjengkelkan dan jelek adat. Aku tahu itu tak akan mudah dan bulir-bulir air mata dipastikan tumpah. Juga, dada yang akan terasa sesak karena sikapnya. Ketika hal itu terjadi, yang bisa kulakukan adalah semakin mendekat kepada Allah. Dengan demikian, aku meminta kekuatan dari-Nya untuk kami berdua.

Semoga Allah senantiasa melindungi, hingga akhir usia.

(tulisan ke duapuluhenam dari beberapa tulisan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s