Allah, Aku Takut…

Allah, aku sungguh takut. Ya, aku merasa bahwa Engkau sedang mengujiku.

Mungkin caraku mencintai-Mu belumlah benar. Aku tak tahu bagaimana caraku bisa lebih dekat dengan-Mu.

Ampuni ibadahku yang kurang khusyuk.

Ampuni sedekahku yang kurang ikhlas.

Ampuni ilmuku yang kurang manfaat.

Mungkin memang aku belum bisa menerjemahkan maksud-Mu dalam mengujiku. Engkau menyentak ingatanku kembali, membawaku ke tahun 2011 akhir. Persis, di waktu yang sama. Terlalu berlebihankah segala yang kuperbuat saat ini? Tak ada perubahankah di hadapan-Mu?

”Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu, dan akan Kami uji perihal kamu.” (QS Muhammad [47]: 31).

Illahi Rabb, Engkau hendak mendewasakanku dengan segala hantaman ini. Aku terima. Tetapi mungkin belum sampai tahap ikhlas yang Engkau inginkan. Aku masih mendebat-Mu. Aku masih melawan-Mu. Aku masih beragumen. Aku masih mengedepankan kemanusiaanku yang angkuh dan hina. Ternyata aku belum bisa lepas dari segala napsu yang menguasai jiwa raga lemah ini.

Sungguh aku takut kembali pada-Mu dalam keadaan tak lebih baik dari saat aku terlahir ke dunia ini. Semakin aku memikirkan apa yang salah dalam diriku, semakin aku tahu, aku masih terlalu dekat dengan dunia fana ini. Aku masih belum bisa melepaskan ikatannya yang begitu menjerat erat.

Aku tahu, Allah akan memberikan apa yang kuminta dan kubutuhkan. Aku tahu, ini masih di tahap permulaan. Aku sadar, tak ada jalan yang mudah untuk bisa bernapas lega. Aku gak bisa mengharapkan badai berhenti karena justru menerpa langsung kepadaku. Aku hanya harus terus berjuang dalam sadar mengingat-Mu. Begitu kan, mau-Mu?

Saat aku menulis ini, daerah rumahku sedang bebenah karena badai puting beliung sehari sebelumya, tanggal 18 Desember sekitar pukul 17.15 – 18.30 WIB. Kejadiannya seperti adegan gerakan lambat. Aku melarang anak-anak untuk pergi mengaji. Kondisinya tak memungkinkan. Seusai reda, ada refleksi dalam diri yang membuatku nyaris tak bisa berkata apapun. Krucil akhirnya tertidur lelap karena lelah menunggu badai reda.

”Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.” (QS Al-Baqarah [2]: 155).

Ternyata ada badai lain yang melanda. Sesuatu yang menghantam persis di dadaku. Sakitnya luar biasa. Aku mencoba tetap tenang dan tidak terpengaruh apapun. Aku mencoba bersabar sampai aku mendapat berita yang pasti. Aku harus klarifikasi mengapa sampai ada badai menerjang hingga pertahanan mentalku luluh lantak? Semoga ini hanya sekadar satu ujian ringan dari Allah yang bersifat sementara.

Allah, benar adanya… Aku sangat takut…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s