Hati-hati Menjaga Hati

Sudah banyak berseliweran kata-kata (sok) bijak tentang hubungan pria dan wanita. Terserah kata kuncinya apa, mesin pencari di internet selalu menyuguhkan sampai jutaan hasil dalam waktu kurang dari 30 detik. Untuk perempuan seusiaku, sebenarnya agak jengah untuk mencari hal-hal gak jelas seperti itu. Teori selalu berakhir ke tempat sampah. Tak ada yang benar, tetapi banyak pembenaran.

Aku membaca di buku 20 Unusual Love Stories yang dirangkum oleh Winny Gunarti, terbitan Gramedia tahun 2010, halaman 16. Pada paragraf awal tertulis, “Sejak dulu aku tak pernah punya kriteria yang terlalu njelimet tentang seorang pendamping hidup. Aku selalu berprinsip tidak ada istilah “cinta” dalan sebuah hubungan pernikahan, yang ada hanyalah rasa kasih sayang dan tanggung jawab. Menurutku, rasa cinta bisa hilang, bisa juga berubah menjadi benci. Tapi, kasih sayang akan terus ada selama masing-masing memiliki itikad yang baik.”

Agak kurang setuju kalau cinta berubah menjadi benci. Lawan cinta adalah tak peduli. Itu jauh lebih menyakitkan. Dibenci, aku masih bisa cuek bahkan tertawa. Tetapi bila sudah tak dipedulikan, perasaan hancur itu benar adanya. Terserah deh kalau dibilang lebay. Tetapi aku setuju bahwa dalam pernikahan tak ada istilah cinta. Pernikahan lebih terasa penekanannya kepada rasa sayang dan tanggung jawab. Makanya aku setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa kasih sayang kastanya lebih tinggi dari cinta.😉 Hal ini kuketahui saat aku masih pelajar SMP. Hohohoho, sok tau ya?😛 Kasta terendah dari sebuah hati yang tertarik lawan jenis adalah suka. “Aku suka kamu.” Sudah. Tak ada kelanjutannya. Hanya suka karena fisiknya oke, atau dia pintar, atau baik dan sopan, atau karena suka mentraktir bakso?😀

Entah kenapa, aku berpikir kalau cinta lebih berdekatan pada napsu yang kadang berujung pada posesifnya manusia untuk menguasai pasangannya. Mungkin lupa, pemilik pasangannya yang sejati adalah Allah. Nah, beda dengan rasa sayang. Cobalah untuk merasakannya ketika rasa sayang ternyata lebih dekat kepada pengabdian, kepasrahan, kepatuhan, keikhlasan, penghormatan, dan penyerahan diri sepenuhnya.

Pengujian perasaan terbagi dalam beberapa tahapan yang disadari atau tidak, selalu mendapatkan ujian, godaan, dan cobaan hingga membuat segala rasa bisa menjadi ternoda. Dulu, aku selalu memaksa untuk menolak segala rintangan itu dan berakhir dengan kondisi terluka sangat dalam. Menyangkal segala sakit dengan menganggapnya baik dan marah pada diri sendiri.

Aku belajar… Ketika kehampaan itu hadir, aku tak boleh melawan atau marah atau kecewa. Aku hanya harus duduk tenang dan menerimanya sebagai proses pengistirahatan hati. Belajar untuk membuang segala energi negatif yang menguasai dan menggantinya dengan doa-doa pendek namun sering.

Hati memang benar seperti porselen. Rapuh. Disenggol dikit, kemungkinan untuk pecah sangat besar. Kecuali jika kita langsung menangkap dan meletakkan kembali pada tempatnya semula. “Retak”? Bisa diplester agar tidak telanjur pecah. Jika sudah demikian, diperlukan usaha lebih untuk menjaganya. Lantas bagaimana jika hancur berkeping? Jangan pernah memaksanya untuk merekatkan kembali. Singkirkan, bersihkan, dan mintalah pada Allah sekeping hati yang baru.

Hati yang baru? Berarti cara merawatnya pun berbeda? Ya! Dengan demikian, kita akan belajar untuk menghargai sesuatu yang pernah rusak karena ulah kita sendiri. Jangan terlalu erat menggenggam hati karena dia akan berusaha untuk melepaskan diri dari sela jemarimu. Tidak pula meletakkannya di telapak tangan yang terbuka, karena dia akan terbang terbawa angin. Tangkupkan dua tanganmu dan lindungi sekerat hati yang rapuh itu. Orang yang mengasihimu akan datang dengan sebuah ruang di dadanya untuk hatimu bersemayam.

Ingat, menikah tak pernah membutuhkan kata “siap” karena tak ada yang benar-benar siap. Rasa takut dan ragu akan selalu membayangi. Kita hanya perlu berpegangan pada janji Allah.

Karena Allah selalu maha asyik.

Begitulah. Setidaknya, pelajaran ini sangat berharga bagiku.

Allah, kuatkan kami. Selamatkan kami dari segala fitnah.

(tulisan keduapuluhtiga dari beberapa tulisan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s