Ketika Tanpa Rasa

Untuk semua yang ada dalam pikiran dan perasaan, tak selamanya selalu dalam posisi pasang. Adakalanya, posisi surut benar-benar membuat kita terjatuh dan terluka.

Ketika merasa tak ada cinta dan rindu, yang ada hanya jenuh dan sepi, apakah kita mampu bertahan? Membayangkan berbulan-bulan terapung dalam perahu kecil dengan logistik sangat terbatas tentulah menyiksa pikiran. Oh ya, aku tetiba ingat buku dan film Life of Pi. Bertahan, karena sudah memiliki tujuan akhir yang jelas. Meski kulit menjadi sangat perih karena sinar matahari yang aduhai menyengat, tak boleh minum air laut, dan tak tahu di mana arah mata angin yang jelas, Pi tetap yakin bahwa dia akan sampai ke tepian meski mungkin sekarat… atau mati.

Segala kemustahilan terpampang jelas dalam perjalanan Pi. Aku berpikir bahwa hal serupa pun kulalui dengan rasa takut teramat sangat. Tetapi apakah aku mundur? Pantang kata itu ada dalam kamusku. Ah, aku ingat sebuah kisah singkat yang penuh inspirasi. Begini: Seorang anak dan ayahnya sedang menikmati hari yang cerah dengan mengendarai mobil. Setelah beberapa waktu, dari kejauhan mereka melihat langit gelap dan cuaca buruk. Ya, angin topan badai di depan sana. “Yah, kita berbalik arah saja. Atau diam sejenak di sini. Berlindung. Janganlah nekat menembus badainya. Cari mati itu namanya.” Ayahnya tersenyum dan melirik sekilas kemudian dengan cueknya menyetir. Si anak semakin panik. Mungkin kalau aku yang membuat kisah bijak ini, udah kubuat si anak terlempar dari mobil gegulinganšŸ˜† Ok, kemudian mobil itu benar-benar menembus badai dengan kondisi yang sulit dibayangkan sebelumnya. Bagaimana si ayah berjuang untuk fokus menyeimbangkan laju mobil dan bagaimana si anak berteriak karena kaget dan panik. Setelah badai reda, si anak menangis. Ketakutannya belum reda, tetapi napasnya mulai normal kembali. Si ayah menepikan mobilnya dan mengajak si anak keluar dari mobil sejenak. “Kamu lihat angin topan itu? Dia menerjang siapa dan apa saja yang ditemuinya. Bagi yang mencoba berlari menjauh, justru tak bisa berpikir jernih dan angin tetap menujunya. Lihat mobil kita. Kerusakan di sana sini. Tanganmu terluka. Kepalaku juga kena hantaman. Tetapi kita masih hidup. Badai itu berlalu karena kita menghadapinya dengan keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja. Kamu paham sekarang?” Si anak menelan ludahnya dan mengangguk lemah. Seulas senyum mengembang kemudian.

Ketika aku menulis postingan ini, aku membayangkan ujian yang membentang di depan mataku. Seberapa kuat aku bisa menghadapinya. Setenang apa aku menahan perihnya? Entah. Lagi-lagi, terulang pertanyaan yang dia berikan padaku, apakah aku bisa menerimanya di saat terburuknya? Sekali lagi, aku menjawab dengan keyakinan penuh, aku siap belajar menerima. Karena sejatinya, tak ada orang yang benar-benar siap menghadapi segala kemungkinan terburuk.

Oh, ujian itu pun bukan sekadar harus berderai air mata atau berdarah-darah kecewa. Ujian bisa datang di saat perasaan dan pikiran hampa. Saat merasa tak layak dicintai atau mencintai. Saat tetiba ada pikiran tak mengerti mengapa atau perasaan tak menentu dan tak yakin.

Allah Maha Asyik! Di titik terendah kejenuhanku dan aku berjuang untuk meminta kekuatan dari-Nya, tetiba saja ponsel berdering dan mendengar suaranya sungguh merupakan suatu keajaiban surgawi. Seketika, hati kembali hangat dan pikiran ringan. Semudah itu bagi-Nya membuatku terjaga.

Badai-badai kecil semisal kehampaan itulah yang mengusik. Benarkah hanya godaan ringan atau pertanda tak baik. But you know, it is not about waiting the storm to pass, but dancing under the rain… Nikmati saja saat ‘kering’ dan kepayahan itu. Sekuat tenaga tak tergoda fatamorgana…

(tulisan keduapuluh dari beberapa tulisan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s