Tak Pernah Ada Kata Siap Sebenarnya

“Aku tak siap untuk sakit hati lagi.” Pernah mendengar kalimat defensif semacam ini? Atau bahkan sering? No wonder.

If you wait until you’re ready, you’ll be waiting the rest of your life.

Sejatinya, tak ada manusia yang benar-benar siap saat perasaan dan pikiran berbeda pendapat. Ketika pikiran menyatakan kesiapannya untuk mengambil sebuah risiko baru, hati masih tetap mendayu-dayu mengenang perihnya luka di masa lalu yang entah kapan.

Sudah banyak contoh bahwa kalimat cupu di atas akhirnya terpatahkan oleh waktu. krak! Ketidaksiapan menikah sama tak disadarinya dengan ketidaksiapan berpisah. Dalam benak, di bawah alam sadar, kita berharap hanya merasakan bahagia. Tanpa sedih dan kecewa. Idealnya demikian. Nyatanya, jauh panggang dari api.

“Aku sudah mengenal pacarku sejak kami masih SMP, lho. Jadi, kami sekarang siap menikah.” Ini bukan jaminan. Kita tak pernah benar-benar 100% mengetahui siapa pasangan yang kita pilih. “Aku belum mengenal siapa keluarga dan lingkungan pertemanannya. Kami baru saling mengenal sebulan.” Lima bulan kemudian mereka menikah. Padahal secara materi dan mental, mereka belum siap.

Kalau kamu percaya kekuatan cinta, tentunya kamu tak lagi meragukan sesuatu yang mengkhawatirkan dirimu kan? Tengoklah mereka para pecinta di luar sana. Mereka yakin, dengan cinta yang mereka punya, mereka tak perlu lagi meragu tentang apapun. Cinta yang hanya tertuju pada Allah, satu-satunya yang tak akan pernah meninggalkanmu sendirian. Begitulah kita akan merasa bahwa masih ada cinta yang tertinggal di hati hingga maut menjemput nanti.

Aku tak pernah siap untuk memulai sesuatu yang baru. Takut. Wajar, kan? Tetapi garansi dari Sang Maha Cinta membuatku memasrahkan segalanya pada-Nya. Perlahan, aku mencoba untuk membuka hati lebih lebar lagi, agar cinta-Nya semakin memenuhi jiwaku. Dengan demikian, Dia akan menilai apakah aku sudah cukup berani untuk menerima cinta yang lain, yang disiapkan-Nya demi sebuah tujuan akhir impian: Jannah.

Sakit hati? Karena kita terlalu terbelenggu dengan harapan kepada manusia, tempatnya segala salah bisa terjadi. Kita harus memalingkan perasaan dan pikiran hanya kepada Pemberi Cinta. Dia sangat pencemburu. Tak akan pernah bisa kau menduakan cinta untuk makhluk lain yang juga mengemis cinta-Nya.

“Maukah kamu menerima cinta yang pernah sakit hati?” Aku mengangguk. Aku tahu, ketidaksempurnaan itu melengkapi.

(tulisan ketujuhbelas dari beberapa tulisan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s