Diskusi Nikah Beda Agama ~ Akmal Sjafril

Bersiap menyimak laporan diskusi nikah beda agama yuk!


  1. Ini kultwit ttg Ahad kemarin (30/11/14). Bukan soal basket ya, tapi soal Nikah Beda Agama 🙂
  2. ini diselenggarakan atas kerja sama dgn YISC Al-Azhar, di Hotel Sofyan Tebet.

  3. Saya sendiri sama sekali tdk terlibat dlm persiapan ini, krn 3 bulan terakhir sibuk dgn .

  4. Yang jelas, kesibukan di belakang layar saya lihat cukup seru. Aktivis dr bbrp chapter ITJ sekaligus mencurahkan tenaga utk .

05.Sebagaimana diketahui, ini menghadirkan dua narsum, yaitu ust. dan .

  1. ini jadi sangat menarik krn banyak yg menunggu2 debat terbuka ttg isu ini, apalagi dgn penggiat JIL.
  • Memang penggiat JIL kerap mengaku gemar diskusi, tapi kenyataannya kadang berbeda 🙂

  • Mudah ditebak, peserta kemarin membludak. Banyak yg tdk kebagian tempat.

  • Saya sendiri datang terlambat. Ketika saya tiba, sesi pemaparan materi sudah selesai. Saat itu sedang break Ashar.

  • Setelah shalat, saya langsung ke ruang panitia utk melihat rekaman pemaparan materi dari . Alhamdulillaah, lengkap.

  • Dari keseluruhan ini, ada bbrp poin yg ingin saya garisbawahi.

  • Sekaligus jg dlm kultwit ini sy memberikan bbrp penekanan yg tdk sempat sy garisbawahi kemarin.

  • Kebetulan, sy salah seorang yg mendapat kesempatan utk berbicara di sesi pemberian tanggapan.

  • Pertama, saya menanggapi pendapat yg menyatakan bhw tdk ada larangan eksplisit dlm Qur’an utk .

  • Ada kebolehan laki2 Muslim menikahi perempuan Ahli Kitab di QS. 5:5, jadi soal ini dianggapnya sudah clear.

  • Tapi soal perempuan Muslimah menikahi laki2 non-Muslim, menurut tdk ada larangan eksplisitnya.

  • Tadi malam saya sempat melihat menyindir soal masalah ini hehehe…

  • Mnrt saya, sungguh janggal jika liberalis spt yg suka dgn penafsiran hermeneutika tiba2 inginkan penjelasan yg literal

  • Mirip spt pemikiran liberalis lainnya yg bilang “tak ada larangan eksplisit utk nikah sesama jenis!”

  • Padahal, di sisi lain, mrk kerap mengatakan “jgn baca yg tertulis saja, tapi telaah apa yg disampaikan Qur’an scr implisit!”

  • Jangankan nikah sesama jenis, menikah dgn binatang pun tidak ada larangan eksplisitnya. Mau dihalalkan jg??

  • Sementara itu, para ulama sdh menimbang soal NBA dgn penuh kehati2an, termasuk mempertimbangkan implikasinya.

  • Meski ayatnya menghalalkan secara mutlak, toh para ulama tdk membebaskan pelaksanaannya begitu saja.

  • Dlm Tafsir Al-Azhar, misalnya, akan dijumpai penjelasan bhw nikah laki2 Muslim dgn perempuan Ahli Kitab itu bercorak dakwah.

  • Krn suaminya Muslim, diharapkan bisa menjadi perantara hidayah bagi istrinya.

  • Tapi jika laki2nya dikhawatirkan malah bisa terpengaruh o/ calon istrinya, maka pernikahan itu dilarang.

  • Penjelasan Buya Hamka ttg masalah ini sangat jelas. Aqidah itu nomor satu.

  • Sama saja dgn poligami. Dlm Qur’an, jelas2 dihalalkan. Tapi jgn pikir semua org layak melakukannya.

  • Kaum liberalis yg selalu mengaku kontekstualis, anehnya, dlm hal ini justru bersikap literalis.

  • Saya sudah bbrp kali membahas hal ini. Mmg kalau ada ayat yg ‘pas’ utk kebutuhannya, mrk akan jd literalis.

  • Silakan cek buku saya dan lihat bgmn kaum pluralis memanipulasi Qur’an.

  • Ust. sendiri sempat bicara soal kontekstualitas ini.

  • Menurut beliau, penafsiran kontekstualis sudah dilakukan o/ pr ulama, misalnya dlm penelaahan asbabun nuzul.

  • Kalau belajar ‘uluumul Qur’an, konteks ayat sangat diperhatikan. Asbabun Nuzul malah baru 1 sisi saja.

  • Suatu ayat dikategorikan makki atau madani, itu pun utk memahami konteksnya berdasarkan periode waktu turunnya ayat.

  • Ada kategorisasi ‘am dan khash, itu jg utk memahami konteks ayat yg bersifat umum atau khusus.

  • Masih banyak lagi penelaahan soal konteks ayat Qur’an yg tdk akan sy bahas. Malu, krn sy bukan ahlinya 🙂

  • Sementara itu, hermeneutika selalu dicitrakan seolah2 mampu menyingkap semua konteks. Padahal serampangan saja.

  • Misalnya dikatakan bhw nikah beda agama itu dulu dilarang krn jumlah umat Muslim msh sedikit. Dasar pemikirannya apa?

  • Apa kaidah yg digunakan ketika memastikan bhw konteks larangan tsb adalah pd kuantitas umat Muslim?

  • Apa iya kita adalah umat yg mementingkan jumlah?

  • Silakan amati sendiri. Seseorang masuk Islam tdk dgn sekedar PERCAYA kpd Allah, melainkan dgn BERSAKSI (syahadatain).

  • Org yg ingin masuk Islam tdk akan langsung diajarkan syahadatain, tapi diminta serius mempelajari Islam dulu.

  • Sudah serius pun, kadang tdk langsung ‘dilayani’. Biasanya di masjid2 pelaksanaan ikrar dilakukan selepas Jum’atan.

  • Sudah sampai di masjid, di hadapan semua org, masih jg ditanyakan, “Apa sudah yakin memeluk Islam, tanpa paksaan?”

  • Mengapa harus susah payah spt itu jika tujuan kita hanya kuantitas?

  • Kalau hanya demi memperbanyak jumlah, banyak cara yg bisa dilakukan.

  • Bisa dgn menolong korban musibah, lantas diajak pindah agama. Sounds familiar? 🙂

  • Tapi kita semua tahu itu bukan cara2 Islam. Sebab keimanan yg benar itu dibuktikan dgn PERSAKSIAN. Keyakinan yg paling dalam

  • Kedua, jg mengatakan bahwa Ahli Kitab dari dulu sama dgn yg sekarang.

  • Menurut , sejak Konsili Nicea, doktrin Trinitas sudah kukuh. Bibel jg sdh seragam. Jadi, tdk ada perubahan.

  • Hermeneutika sangat bangga dgn metode penelusuran jamannya. Tapi mengapa kali ini hal tsb tdk dilakukan?

  • Apa iya org Yahudi dan Nasrani di jaman Nabi saw dahulu sama dgn Yahudi dan Nasrani skrg?

  • Di sesi tanggapan, akh sempat memberi contoh yg menarik.

  • Dulu, babi diharamkan dlm Bibel. Org Yahudi dan Nasrani sama2 tdk mengkonsumsinya.

  • Skrg, kita lihat sendiri bahwa daging babi tdk dianggap haram lagi o/ mereka. Terbukti, Yahudi dan Nasrani berubah.

  • Oleh krn itu, ketika ada ayat yg membolehkan menikahi perempuan Ahli Kitab, mengapa tdk ditafsirkan sesuai jamannya?

  • Jika Ahli Kitab pun ‘berubah’, apakah hukum menikahinya pun berubah? Kalau logika hermeneutika, harusnya iya!

  • Kalau bicara agama Kristen, harus jelas varian yg mana dan di jaman apa. Sebab perubahannya banyak sekali.

  • Setelah Konsili Nicea, ada skisma (schism/perpecahan) antara Gereja Barat dan Timur.

  • Setelah itu, pecah lagi antara Katolik dan Protestan. Protestan pun ragamnya banyak.

  • Di Timur Tengah dan Afrika masih lestari Gereja Timur. Ajarannya macam2.

  • Ketiga, saya jg mengkritik penjelasan yg menyatakan bhw kebolehan menikahi Ahli Kitab itu krn ‘kelanjutan wahyu’.

  • Penjelasan semacam ini menciptakan kerancuan, seolah2 Ahli Kitab itu beriman jg.

  • Memang ada penjelasan soal Ahli Kitab yg beriman, misalnya di QS. 2:62. Tapi ayat ini harus dipahami asbabun nuzulnya.

  • Soal ayat ini sdh sy paparkan panjang lebar di buku juga. Ini ayat ‘standar’ utk pluralis.

  • Intinya begini. Sblm jaman Nabi saw, terbuka kemungkinan ada Nasrani dan Yahudi yg beriman.

  • Tapi setelah bertemu dakwah Nabi saw, mereka tdk punya pilihan selain beriman kepada beliau. Jika tidak, maka kafir.

  • Pendeta Bahira, misalnya, dia disebut Nasrani. Tp secara zhahir kita saksikan ia membenarkan ajaran Injil yg lurus.

  • Sampai kapan pun Bahira tdk disebut memeluk Islam. Ia Nasrani. Tapi secara zhahir kita lihat ia beriman.

  • Kalo soal hati, tentu hanya dirinya dan Allah yg tahu.

  • Kembali ke status Ahli Kitab (pasca jaman Nabi saw), kita harus memahami bahwa mereka ini pun statusnya kafir.

  • Mrk memegang Taurat dan Injil, namun keduanya tidak lagi dlm bentuk aslinya.

  • Al-Qur’an mengistimewakan Ahli Kitab dr org2 kafir lainnya, krn merekalah obyek dakwah paling utama.

  • Meski banyak pemalsuan, dlm ajaran Ahli Kitab msh banyak kesamaan dgn ajaran Islam.

  • Oleh krn itu, mrk adalah yg paling berpeluang utk merengkuh hidayah.

  • Adapun status kekafiran mrk telah dijelaskan dlm QS. 9:30-32, misalnya.

  • Hal keempat yg ingin sy garisbawahi adalah argumen yg sangat unik, yaitu ttg ‘cinta buta’.

  • Menurut , jika ada pasangan yg sudah cinta mati, meski berbeda agama, maka mrk boleh menikah.

  • Dlm hal ini, menggunakan kaidah ‘darurat’. Jika tdk diijinkan menikah, mereka akan sangat menderita.

  • Mari berbelok sejenak. Dlm kajian sirah, kita mengenal kisah ‘Ammar ibn Yasir ra. Mrk sekeluarga disiksa krn memeluk Islam.

  • ‘Ammar ra disiksa begitu keras dan dipaksa utk mengucapkan kata2 kekafiran.

  • Turunlah ayat QS. 16:106. Boleh berpura2 kafir jika memang dipaksa, sedangkan hati tetaplah beriman.

  • Inilah contoh penerapan apa yg disebut sbg ‘maqashid syari’ah’.

  • Intinya, syariat bertujuan menciptakan kemaslahatan. Kemaslahatan yg utama adalah keselamatan aqidah, baru kemudian jiwa.

  • Dlm konteks ‘Ammar ra, ‘aqidahnya tdk rusak, namun jiwa terancam. Maka ia boleh berbohong. Ini darurat.

  • Bagaimana dgn org yg ‘cinta mati dan buta’ hingga merasa hidup tak berarti jika tak menikahi pasangan non-Muslim?

  • Dlm hal ini, jelaslah bahwa jiwanya tdk terancam, namun sesungguhnya ‘aqidahnya-lah yg rusak.

  • Seorang Muslim tdk boleh mencintai sesuatu lbh drpd kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya.

  • Oleh karena itu, dgn alasan DARURAT, justru sy menyimpulkan bhw pernikahan itu menjadi terlarang.

  • Sebab, pernikahan yg didasari oleh ‘cinta mati dan buta’ itu justru merusak ‘aqidah.

  • Hal kelima yg saya tanggapi terkait dgn tanggapan lain yg diberikan o/ seorang Muslimah.

  • Salah satu hal yg ia katakan adalah bhw semestinya diskusi ini bisa menghadirkan Ahmad Nurcholish.

  • Ahmad Nurcholish adalah seorang praktisi NBA. Bahkan ia jg telah membantu menikahkan 500 pasangan NBA lainnya.

  • Saya bersyukur nama Ahmad Nurcholish disebut, krn saya jg ingin menjadikannya sbg studi kasus 🙂

  • Secara pribadi, sy tdk mengenal Ahmad Nurcholish. Namanya saya temukan di situs JIL. Temanya NBA jg.

  • Ini wawancara situs JIL dgn Ahmad Nurcholish dan istrinya yg beragama Konghucu, Ang Mei Yong.  —–> http://islamlib.com/?site=1&aid=677&cat=content&title=wawancara

  • Di bagian akhir wawancara, kita dpt melihat pendapat Ahmad Nurcholish ttg agama anak2 mereka nantinya.

  • Buat Ahmad Nurcholish, agama anak2nya bukan urusan dia.

  • Istrinya, Ang Mei Yong, malah mengatakan bhw ia ingin anak2nya tak usah diajar agama sekalian.

  • Dari sini, kita mendapat perspektif baru ttg pelaku NBA yg sesungguhnya, paling tidak dr kasus yg satu ini.

  • Ini bukanlah pernikahan dari pasangan BEDA agama, melainkan pernikahan dari pasangan yg SAMA-SAMA tdk peduli agama.

  • Hal itu malah semakin jelas jika melihat judul wawancaranya. Silakan dicek sendiri! 🙂

  • Itulah kualitas Ahmad Nurcholish yg disanjung2 dan hendak dijadikan referensi dlm kasus NBA.

  • Ini perlu saya bahas agar kita memiliki perspektif yg benar dlm berdiskusi soal NBA ini dgn kaum liberalis.

  • Jgn bayangkan NBA ini dijalankan o/ pasangan yg sama2 taat dgn agamanya masing2.

  • Kenyataannya, yg dijadikan referensi adalah org yg menjadikan agama sbg permainan.

  • Terakhir, saya menanggapi komentar yg menyatakan bhw ‘tidak ada yg boleh jadi jubir Tuhan’.

  • 109.Dlm pemaparannya, saya mendengar mengesankan seolah2 ia akrab betul dgn tradisi NU.

    110.Akibat pencitraan ini, banyak yg terjebak dan menganggap bhw adalah representasi NU.

    111.Padahal, pemikiran didebat keras di kalangan kyai NU. Bisa dicek di

    112.Dalam video tsb, Forum Kyai Muda (FKM) NU menolak keras pemikiran .

    1. Oleh krn itu, sbg penutup dlm tanggapan saya kemarin, sy tegas mengatakan agar jgn bersikap bak ‘Jubir NU’.

    114.Sampaikanlah pendapat apa adanya, tanpa mengesankan bhw pemikirannya sejalan dgn NU. Sebab kyai2 NU sendiri sdh menolak.

    115.Di luar tanggapan thd isi pemaparan, saya bersyukur berhasil diselenggarakan dgn baik.

    116.Dgn ini, telah membuktikan banyak hal.

    117.Terbukti, massa ITJ terdiri dari para pemuda yg intelek, elegan dan jauh dari radikal sbgmn yg kerap dituduhkan.

    118.Terbukti, ITJ siap berdiskusi dgn baik, dgn kepala dingin, dgn argumen, bukan dgn ngotot-ngototan.

    119.Pada saat yg bersamaan, kemarin jg TL dihebohkan o/ skandal yg melibatkan salah seorang pendukung JIL 🙂

    120.Saya jg amat menyayangkan adanya peserta dari kubu seberang yg mengatakan hal2 yg tdk benar.

    121.Misalnya, ada yg mengatakan bahwa yg diserang adalah pribadi . Itu tdk benar.

    122.Yg terjadi adalah cek konsistensi. Jika menganggap NBA tdk salah, apa ia rela jika anaknya NBA? Semacam itu.

    123.Dlm Islam, pemikiran tdk boleh inkonsisten dgn perbuatan. Ini hal yg lumrah, jika kita gunakan perspektif Islam.

    124.Dari sejumlah pendukung JIL yg datang, amat disayangkan jg, konon hanya satu yg mengacungkan tangannya 🙂

    125.Padahal, diskusi berlangsung hangat dan ilmiah, tidak ada ancaman kepada siapa pun. Mengapa harus paranoid?

    126.Ataukah mungkin, jauh di lubuk hati, mereka pun tahu bahwa mereka berada di kelompok yg bathil? Wallaahu a’lam 🙂

    127.Demikianlah tanggapan yg saya berikan, mudah2an bermanfaat. Semoga kita selalu dlm lindungan Allah, aamiin…

    -0-0-0-0-0-0-

    Nah itu RT : tapi menarik mencermati apakah para penggiat JIL ada yang rela untuk putra putri mereka

    Justru krn buta itu 🙂 RT : banyak yg cinta mati dan buta berakhir dg perpisahan

    =============================

    selesai. alhamdulillah. silakan disebarkan jika dirasa bermanfaat 🙂

    danke.

    Iklan

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s