Bosan Menunggu

pipet november

Jika ada yang lebih menarik dari sekadar menunggu audisi lakon Jaka Tarub ini, rasanya aku lebih baik pulang. Kak Ferdian menjanjikan pukul sepuluh pagi semua akan segera dimulai dan yang terlambat tak akan mendapatkan peran apapun. Nyatanya, selewat jam makan siang, Kak Ferdian masih sibuk menelepon sana sini. Kutanya Alice dan Toni yang duduk di sebelahku. “Datang sejak kapan?” tanyaku sambil mengulurkan tangan. “Sonia. Dari Cirebon.”

“Alice. Dari Bogor. Ini Toni, dia yang ngajak gue ke audisi. Tinggalnya di Tanah Kusir. Lu tau yang di kursi paling depan? Itu Aldo, sepupunya Ferdian. Gue denger sih dia gak ada bakat akting. Menang cakep doang,” cerocos Alice sambil mengunyah permen karet.

Toni hanya mengangguk. Dia sibuk memerhatikan panggung yang lengang. Sesekali matanya tertuju padaku. Bukan, bukan padaku, tetapi pada… Aku mengubah posisi duduk. Rok pendek ini membuat mata jalang Toni menjadi lebih aktif.

Siapakah perempuan yang ada di sebelah Aldo? Terlihat semakin suntuk. Padahal kulihat dia sudah datang sejak pukul tujuh pagi. Alasannya ingin dandan untuk hasil terbaik. “Kalau dandan dari rumah, sampai sini bisa lecek. Ih,” suara cemprengnya membuat telingaku sakit. Sesekali aku melihat perempuan itu mendekati Kak Ferdian. Mengajaknya berbicara dan berulang kali tak digubris oleh Talent Manager itu.

“Maria!” suara Kak Ferdian terdengar dari ujung ruangan. Perempuan di sebelah Aldo terkesiap dan bergegas menghampiri sumber suara. Semua orang mendadak penasaran. Aku justru memerhatikan Aldo yang gelisah sambil sesekali seperti orang menerawang.

“Aldo kenapa sih?” tanyaku berbisik pada Alice.

“Lagi sange kayaknya,” samber Toni cuek. Aku mendelik judes.

“Maria akan mendapatkan peran itu,” desis Aldo. Aku menoleh.

“Dari mana kau tahu?” tanyaku penasaran.

“Aku tahu Ferdian. Dia akan menyingkirkan peserta yang menyebalkan dengan cara elegan. Memberinya peran untuk disisihkan.” Kulihat Aldo menyeringai. Mendadak perutku mual. Kelebatan perempuan yang bermuka sedih tadi pagi itu mengusikku.

Kak Ferdian…

————-

Diikutsertakan dalam flash fiction PIPET.

One thought on “Bosan Menunggu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s