Kita, Kopi, dan Pahitnya Hidup

coffee

Entah dari mana filsafat kopi level kelurahan itu kudapatkan. Beberapa tahun silam. Bahwa, meski kopi berwarna hitam pekat, panas, dan pahit luar biasa, kita tetap bisa menikmatinya sambil tertawa dan penuh hasrat. Seperti itu pula kehidupan. Seberat apapun masalah yang dihadapi, nyeri yang membuat kita menangis, dan emosi yang tersulut karenanya, justru berakhir dengan senyum kelegaan karena bisa melewati prosesnya meski mungkin kadang sangat sulit.

Rindu juga pahit. Menahan rasa ingin jumpa itu hanya bisa dinikmat dalam secangkir kopi. Jika kau beruntung, sekeping biskuit manis akan menemani. Tetapi tak bisa mengobati sepi. Apapun hiburan yang diberikan oleh semesta, senyum yang mengembang hanya tinggal lengkungan bibir tanpa makna.

Jika pagi membuat mataku terbuka, aroma kopi tetap menggoda meski sudah tahu rasa apa yang akan disuguhkan. Tidak akan ada kapoknya. Begitu pun dengan harapan yang membuncah setiap harinya, meski mungkin akan memberikan hasil yang berbeda dari harapan.

Aku mencintai kopi dengan segala kekurangan yang membuatku tak bisa melepaskan diri. Mungkin, sama seperti mengapa aku tak bisa jauh darimu.

=========

Tulisan manis untuk #DiBalikSecangkirKopi @IniBaruHidup

Twitter: @andiana

FB: An Diana Moedasir 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s