Bayangan Kolaborasi Kita Suatu Saat Nanti

Rencana, selalu harus dipikirkan tak hanya bagian yang menyenangkannya saja. Bagaimana dengan strateginya? Jika menghadapi kendala, harus berbuat apa?Aku bingung harus menulisnya dimulai dari mana. Ini tentang sebuah rencana jangka panjang yang ingin kulalui berdua bersama seseorang.

Rencana ini sudah tersusun rapi bahkan sejak krucilku belum lahir. Sayangnya, semua harus buyar. Allah hendak mengganti waktunya karena tak sesuai dan tak baik untukku. Maka, aku patuh pada skenario-Nya. Mungkin, Allah ingin aku menyempurnakan rencanaku. Di suatu tempat, seseorang juga sedang menyempurnakan rencananya. Dia pun mengalami kegagalan dalam penyusunan rencana awal. Aku yakin, semua bukan kebetulan. Kami berdua diminta untuk memperbaiki rencana agar ketika saatnya tiba, semua sudah siap dilaksanakan. Amazing plan, hm?

Dia yang pernah bergumam, “Sepertinya enak ya, tinggal di Bandung?” sambil tersenyum penuh arti, membuatku kembali mencocokkan rencana yang pernah kubuat di saat sendiri. Aku juga ingat saat petugas di Pengadilan Agama Depok berkata dengan tulus, “Semoga mendapatkan jodoh yang lebih baik di Bandung ya, Mbak.” Jujur, aku mau nangis saat itu. Aku hanya bisa tersenyum kikuk mengamini dalam hati.

Memang, rencana manusia tak bisa 100% tepat waktunya. Apalagi isinya. Ada yang ditambah, dikurangi, atau diganti dengan yang sama sekali baru. Aku hanya bisa mengerjap takjub dengan skenario maha sempurna itu. Aku yang berulang kali melawan dan membangkang, selalu berakhir dengan ketidakberdayaan saat kenyataan disodorkan-Nya tanpa perantara. Begitu pun dengan rencana kolaborasi yang kuanggap sudah mendekati sempurna ini.

Aku sempat lupa dengan apa yang pernah kuminta pada-Nya. Perlahan, kukumpulkan semua kepingan ingatan itu dan mendadak tak percaya diri. Kira-kira, aku boleh mengajukan hal yang pernah kuanggap tak layak itu gak, yah? Aku pernah, sekali dua, memikirkannya kemudian melepasnya seperti tak pernah ada. Uh, well

Waktu kakakku menikah, waktu dia hamil, waktu aku disuguhin makanan favorit, waktu aku membayangkan… Ya Allah, aku sampai kepikiran bahwa suatu saat aku juga akan memiliki pasangan dengan kriteria utama yang melekat pada suaminya. Hastagah, aku sampai dua kali ditinggal nikah dengan orang yang memiliki kriteria sama! derita lo, An

Kembali soal kolaborasi. Apa pun yang akan dipilih dan diambil serta dijalaninya untuk kehidupannya, selama itu berada dalam koridor Allah dan tidak bertentangan dengan perintah-Nya, aku akan mendukung 100%. Aku tak akan membantah. Mungkin, aku hanya membantu mengarahkan atau memberi saran agar menjadi lebih baik saja. Aku tahu dia punya passion yang ingin sekali dikembangkan. Hanya saja, saat ini, dia belum bisa maksimal untuk menikmatinya apalagi mungkin berpenghasilan dari sana. Yah, karena rencana itulah.🙂

Satu rencana besar kami harus terwujud terlebih dahulu sebelum ranting-ranting rencana lainnya berbunga juga. Pasti akan ada badai yang menyapa di tengah perjalanan kami nanti. Tetapi, apa yang harus kami lakukan? Menghadapi badai itu, tentu saja. Bukannya lari dan berharap badai segera reda. Menerjang badai bukanlah suatu kiasan tanpa makna. Sekuat apa kita bertahan dalam menyikapi gelombang pasang surut itu?

Lantas, kolaborasi seperti apa yang ada dalam benakku? Someday, I’ll tell you. Rencana yang masih berupa coretan ini harus dibereskan. Segera. Sudah banyak doa melangit.

Semua akan mewujud sempurna pada waktu-Nya.

(tulisan ke sepuluh dari beberapa tulisan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s