Crush On You No More

Dear An, aku mau curhat. Please say nothing. Just read.

Akhirnya, aku berhasil melewati masa tiga bulan yang biasanya lumayan krusial dalam sebuah hubungan. Jika memang hanya sekadar suka, pastilah akan lenyap dalam seketika. Bersamaan dengan perkenalanku dengannya, aku juga banyak bertemu dengan teman-temannya. Mengenal lingkungannya. Ya, An, masa percobaan tiga bulan itu juga berlaku dalam pertemanan, bukan sekadar saat diterima bekerja.

Perasaanku melewati probation ini salah tingkah. Persis ketika aku diterima bekerja di perusahaan asing di kawasan keren Jakarta itu. Takut salah ini itu. Dibentak bos ketika salah mengetik surat untuk klien itu gak banget ya? Sama, aku juga kena tegur ketika aku dianggap terlalu emosional. “Kamu bisa tenang gak sih?” Begitu tanyanya retorik di suatu hari.

Tetapi namanya berkenalan, ta’aruf, akan menemukan banyak sekali penyesuaian. Benar kan, An? Aku juga terkaget-kaget ketika mendapati gaya bicara bos, sikapnya terhadapku, pun sifatnya yang bertolak belakang denganku. Aku mencoba menyesuaikan diri agar bisa mendapatkan hati si bos. You know lah, aku kan butuh diterima kerja di tempatnya. Hehehehe, jadi memang harus nurut dan tetap baik. Biar selamat.

Ternyata sama saja dalam menyelami pribadi pria itu, An. Mengenal orangtuanya, temannya, pekerjaannya, hobinya, makanan favoritnya, dan apa yang tidak dia sukai. Oooh, tentu saja, debaran di jantungku terasa lebih cepat dan napas pun menjadi seperti habis berlari dikejar kamtib.

Namanya orang kasmaran ya, setiap hari ada saja yang sepertinya harus dilakukan bersama. Minimal rumpi hal-hal ringan hingga berjam-jam. Sama, di kantor pada awal masuk kerja pasti dicari mulu oleh bos. Hehehe… Tetapi, aku juga kan, gak mau membuat jenuh suasana dengan setiap hari berbincang ngalor ngidul. Aku ingin merindukannya dan dia juga merindukanku. Maka, setelah lewat sebulan, aku mulai mencoba untuk mengetes hatiku sendiri. Bisakah tak menghubunginya sehari saja? Ternyata tidak. Terkadang, aku masih menyapanya. Lagipun, aku hanya ingin memastikan bawah dia baik-baik saja, An. Mungkin terlihat konyol, tetapi kamu juga pasti tahu, bahwa perempuan memang berbeda dengan lelaki dalam bersikap terhadap lawan jenisnya kan?

Bagaimana caraku agar bisa menjadi istimewa baginya, An? Aku merasa kilau bintangku meredup di tengah pendar-pendar cahaya langit yang lain.

Aku tak lagi menyukainya, An. Hatiku berubah. Aku sudah memastikan bagaimana suara dalam jiwa ini berkata. Hanya saja, bagaimana aku bisa mengatakannya. Aku…

Kamu tahu kan, An? Aku sudah berhasil melewati masa percobaan tiga bulan. Benar, hatiku tak lagi emosi dalam menyikapinya. Ini yang terakhir. Aku bisa memantapkan hati untuk tidak bimbang lagi. Memang benar, ujiannya akan tetap ada. Tetapi seperti syair lagu  di atas itu:

I can’t fight this feeling any longer
And yet I’m still afraid to let it flow
What started out as friendship, has grown stronger
I only wish I had the strength to let it show
I tell myself that I can’t hold out forever
I said there is no reason for my fear
Cause I feel so secure when we’re together
You give my life direction
You make everything so clear…

Perempuan selalu butuh mendengar. Perempuan tahu jika lelakinya hanya melihat padanya. Namun ia ingin agar sekali saja seumur hidupnya, si lelaki mengatakan, “Aku mencintaimu” saat sedang berdua atau memamerkannya dengan bangga pada semua teman dan kerabatnya, “Ini perempuanku.” I feel so secure when I get that most important notice from him. 

An, maukah kamu mewakiliku untuk mengatakan padanya? Bantu aku untuk meyakinkannya.

(tulisan ke sembilan dari beberapa tulisan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s