Saat Cinta Sungguh Tak Terlihat Mata

Di sebuah sudut cafe. Tiga perempuan duduk dengan santai sambil sesekali tertawa renyah atau berbisik. Indah, 25 tahun, single, sedang kuliah S2, berkacamata, dan peragu. Saat itu memakai celana jeans hitam dan cardigan hijau lumut. Fitri, 30 tahun, menikah, pemilik butik khusus batik, pendiam, dan cuek. Senja yang pas untuk memakai jeans belel dan pashmina motif mawar aneka warna. Sementara yang sedang sibuk menerima telepon adalah Azalea, 32 tahun, single, arsitek, super bawel, dan agak sarkas.

Indah galau karena gebetannya tak kunjung membuka suara untuk menyatakan perasaannya. Apakah dia juga menyukai Indah atau tidak. “Cieh, yang digantung,” ledek Azalea menyambar di tengah percakapannya dengan klien di telepon.

“Ye, lu gile! Lagi nelepon malah nyamber!” protes Indah.

“Klien gue selalu baek, gak kayak Andreas yang ngegantungin elu dua taon!” Azalea memelet puas.

“Ah, Cinta aja digantungin Rangga sampe 12 tahun, kok,” tambah Fitri kalem. Indah makin keki.

“Kalian!” Indah merengut.  Fitri dan Azalea tertawa. Azalea meneruskan perbincangan di teleponnya sementara Indah mendengar wejangan dari Fitri.

“Ndah, kamu yang harus ngomong duluan. Andreas menunggu itu.” Fitri mengunyah cake tiramisunya dengan penuh kekhusyukan.

“Udah diterawang yeh?” Indah mendelik karena tahu Fitri bisa “membaca”. Fitri mengangkat bahunya.

“Nebak doangan, kok.”

“Gimana? Gimana?” Azalea meletakkan ponselnya di dekat iPad Fitri. Indah hanya merengut.

“Bukan gue yang harusnya ditanya, Mbak Fit. Noh Mbak Aza yang bikin penasaran. Gue sih biarin aja dulu. Andreas bisa ntar lagi digosipinnya. Tapi kalau soal Ferdinand, si latino yang misterius itu justru bikin gue kepo, nih!” Indah menyeringai. Azalea tersedak saat menikmati es cappucinnonya.

“Apa yang mau dibahas?” Azalea menepis tangannya.

“Lu yakin sama dia?” Fitri menatap Azalea sambil bersiap menyeringai.

“Penting, gitu?” Azalea menghela napas dan sekilas melihat ke luar jendela. Mulai hujan.

Don’t play anymore, Za. Come on. You have to build a new relationship. A real one. Not with a guy like Sandy, Jefri, or Zulham. They are…” Fitri menatap Azalea serius. Sementara Indah menyimak dengan wajah polosnya.

Got it!” potong Azalea dengan wajah datar.

“Nah, Indah. Gimana? Andreas udah ngomong apa? Eh, belum ya?” Fitri terkekeh.  Indah merengut.

“Permisi, ada yang namanya Azalea Zulaikha?” seorang pelayan menyela tiga perempuan itu dengan sopan.

“Ya, saya. Ada apa, Mas?” tanya Azalea bingung.

“Itu, ada yang cari,” jawab si pelayan sambil menunjuk ke arah pintu kafe. Azalea menyipitkan matanya. Sejurus kemudian dia terperangah. Ridwan

“Oke, terima kasih ya. Bilang aja sama dia, ke meja sini. Biar dia yang temui saya.” Dada Azalea bergemuruh. Indah dan Fitri saling berpandangan. Oh, gosh.

Tak lama, pria bernama Ridwan itu mendekat. Senyumnya mengembang lega dan menyapa Azalea ringan, “Hai, Za. Apa kabar? Aku gak sengaja lewat tadi. Lihat kamu ada di sini. Gak yakin itu kamu. Tapi…”

“Ya, kabar baik. Thanks, Wan,” potong Azalea dengan senyum kaku.

“Oh, ya. Maaf. Lagi santai atau sibuk, nih?” tanya Ridwan masih berdiri di dekat Fitri.

“Kami sedang sibuk. Kami di kafe bukan untuk santai. Pekerjaan kami banyak. Jadi, salah waktu kalau ingin bergabung ngopi,” jawab Azalea menatap Ridwan tajam.

“Oh, baiklah. Maaf kalau mengganggu. Boleh aku minta nomer teleponmu, Za? Aku ganti ponsel.”

“Kamu bisa menghubungiku di e-mail, Wan. Catat saja alamatnya.” Kemudian Azalea menyebutkan alamat e-mail yang biasa digunakan untuk urusan bisnis. “Itu e-mail-nya. Aku gak terima isi surat basa-basi, ya. Gak ada obrolan masa lalu whatsoever. Kalau kamu ingin mengajak kerjasama, kita bisa bicarakan nanti. Sudah selesai?”

Ridwan tersenyum kikuk. Kemudian dia pamit kepada mereka bertiga. Azalea kembali sibuk dengan tabletnya dan meninggalkan banyak pertanyaan untuk Fitri dan Indah. Mereka benar-benar melihat drama super singkat yang lagi-lagi dimenangkan Azalea. Perempuan kepala batu itu tak pernah memberi celah kepada lawan bicaranya untuk menggoyahkan pikiran atau keputusannya.

Fitri mengambil sepotong macaroon dan mengunyahnya perlahan. Indah menarik ujung kertas yang sedang dicoret Azalea. “Apa?” tanya Azalea galak.

“Ngopi dulu, Mbak. Marahnya biar ketelen sama itemnya kopi. Dramanya udah lewat.”

Azalea menatap Indah sekilas dan menghela napas lagi. Sekelebat ingatan mengiris luka batin. Meski sudah delapan tahun berlalu, nyerinya masih terasa. Ada yang seharusnya tak terjadi namun akhirnya menjadikan dia seorang perempuan yang terlalu mandiri, angkuh, keras hati, sekaligus rapuh.

————————

Bandung, November 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s