Kepribadian dalam Berorganisasi dan Berkomunitas

Ceritanya aku lagi sotoy mau menulis tentang hal ini. Tetapi malah bablas di Twitter menjadi so-called kultwit😛 Berawal dari pemikiranku seperti ini –> bisa gak kalo gue bilang, “lesser people you know, lesser stress you will get“? *angkat-angkat alis* | Jadi, di bawah ini adalah ocehanku di Twitter, tanpa editan🙂

shutterstock_155854067

—————

bergaul dengan banyak orang memang menyenangkan. sangat. banyak hikmah dan keuntungannya. plus, tentu saja, segudang mudharat mengintai.

kita sadar, dengan saudara kandung pun bisa beda pendapat, bagaimana dengan orang lain?

berteman belasan tahun saja masih bisa bertengkar, bagaimana yang baru kenal kemarin sore?

memang benar, untuk menguji ketulusan diri sndr bergaul dan ngetes teman baru bs dgn rihlah, amanah, dan berdagang. (eh gue lupa istilahnya) <—- update: muamalah😉

melakukan perjalanan jauh dengan teman baru bisa memperlihatkan pribadi asli. karena kebiasaan yang menempel pada mereka dan kita.

berdagang adalah bagaimana cara kita atau mereka bekerja/mencari nafkah. gesit/pemalas?

amanah, bagaimana mereka dan kita memegang kepercayaan yang diberikan oleh orang lain.

ambil contoh kasus yuk?

dalam sebuah komunitas / organisasi, jumlah anggota minimal ada sekitar 25-30 orang. yang aktif mungkin hanya 10 orang.

semua beda karakter. beda keinginan. beda tujuan berkumpulnya. sangat bisa disadari dan harus dimaklumi.

ada yang tujuannya murni menambah teman, yang mau belajar berorganisasi, yang modus cari jodoh gak sedikit😛

yang paling gak banget adalah anggota yang memanfaatkan pertemanan menjadi ladang pemuas pikiran negatifnya.

misal: oh ada si A yang pengusaha kuliner. oh ada si B yagn kerja di kementrian. oh ada si C yang punya kapal pesiar.

dari awal, orang semacam ini bisa ketebak dengan caranya yang bergaul hanya mendekati orang-orang ‘the have’ itu.🙂

auranya sudah bisa terbaca ketika bermanis manja grup (eh😀 ) jika sedang ada pertemuan.

atau bisa dengan blusukan mengadakan pertemuan pribadi yang tak diketahui oleh anggota lain ataupun ketua organisasi/komunitas.

sah sah saja kok mau bertemu siapa saja. mengeratkan silaturrahim kan?🙂 memang sebaiknya tidak su’udzhon terlebih dahulu. tapi…

beberapa kasus yang sampai ke telinga gue dan gue cross check kebenarannya, rada bikin sedih dih dih dih… kok tega?

orang oportunis kayak gitu ternyata ada di semua organisasi atau komunitas. dan kadang orangnya yang sama sekali tak bisa diduga.

itu tipe oportunis yang mau gak mau suka gak suka ternyata ada di sekitar kita. yang menganggap kita teman🙂

kalau ada proyek di organisasi atau komunitas, orang oportunis biasanya paling suka rela untuk “sibuk” demi cari muka.😛 sorry.

itu baru si oportunis. ada lagi tipe semua-gampang-diatur😉 kebayang kayak gimana orangnya?

berkumpul untuk mengadakan sebuah acara, misalnya. saat semua orang pusing untuk menentukan ini itu, dia dengan santainya tersenyum manis.

“Ah, itu sih gampang. Ntar saya yang atur aja. Bla bla bla bla.” ketika org lain memberikan alternatif saran, dia keukeuh dgn pendapatnya.

“Udah, kalian percaya sama saya. Semua bisa beres!” Semua anggota pasti saling berpandangan. Tapi gak yakin😀

ketika ternyata acara berjalan tidak sesuai dengan harapan dan idealisme, adat jeleknya mulai muncul😛

mutung, pundung, ambek, atau apalah namanya. lah, kan udah ada warning dari awal, sebaiknya begini dan begitu.

ketika kenyataan berbalik, semua kena getahnya. semua merasa gak enak. semua merasa harus say thanks karena si sok sibuk itu yang urus semua

oke itu tipe kedua yang sama gak enaknya. kenal tipe begini? gue sih banyak😀

sebenarnya tipe-tipe menyebalkan dlm komunitas & organisasi itu ada baiknya juga. jadi bahan awareness u/ kita semua agar gak sama jeleknya.

banyak sekali yang bisa kita pelajari dari sebuah organisasi dan komunitas. we can’t please anyone🙂 tampung aspirasi oke, tapi gak semua..

..diluluskan juga kan? cari yang terbaik untuk semua pihak. kadang itu yang tidak bisa diterima sebagian orang.

gue biasanya termasuk tipe yang punya tenaga dan waktu tapi gak punya modal😀 hiahahaah

jadi kalau diminta bantuin ngerjain apa gitu, inshaa Allah sih bisa asal lagi sehat dan dimampukan Allah🙂 cuman buat modal ya gak😦

but sometimes, tipe kayak gue gak bakalan dianggap juga sih karena termasuk yang gak bisa berkontribusi gitu. “Lu bisa apa?”

hanya dianggap tim hore tanpa kerja sama sekali. jadinya gue cuman bisa invisible.

pernah sih ada kejadian di suatu event gue dateng tapi disinisin. “Eh, lu ngapain di sini? Bisa apa?” pait banget ya? ujung2nya dibutuhin jg

banyak tipe2 invisible yang nyaris jarang dianggap dalam komunitas / organisasi karena setiap kumpul nyaris gak ngemodal. bener kan?

seolah yang dateng tanpa bawa makanan / potluck tuh gak dianggap ada. yasalam. atau yang urunan nominal sedikit dipandang sebelah mata.

gak banyak omong sih, cuman jadi omongan aja :))))

ada beberapa org yg sering curhat ke gue krn merasa dirinya gak dianggap. “Padahal gue mau kerja lebih dari yang lain. Pake aja tenaga gue.”

kadang kita lupa, yang suka kita abaikan dalam organisasi/komunitas, kontribusinya akan terasa saat yang lain tak bisa berbuat apapun.

dalam dua bulan ini, ada tiga kasus di tiga komunitas yang lumayan bikin cenut-cenut😀 makanya gue bawel di mari deh. maaf ya nyampah.

orang oportunis, one man show, dan si invisible akan selalu ada di mana pun.

tipe penggosip mah gak usah dibilang, ada banget😛 eh inget, gak cuman cewek yang bergosip. cowok pun sama bawelnya :)))

cewek yang ngomongin cewek lain atau cowoknya cewek lain *kusut* dan cowok yang mau ngegebet cewek di komunitas. drama banget😀

gue sih selalu sebisa mungkin menghindari gosip urusan pribadi karena siapalah gue sok ikut campur? tapi kalau komunitas, ya… kudu ngobrol

sayangnya, beberapa orang dalam komunitas gak suka konfrontasi dan menghindar dengan meninggalkan setumpuk masalah.

“Ah udah deh biarin aja. Anggap aja gak ada masalah.” yang begini ibarat benih virus yang bisa menggerogoti dan merusak keutuhan komunitas.

ibarat dokter, kalau nemu bibit virus, harus diobatin segera kan? ngobrol deh sama yang bermasalah. baek2.

tapi kalau gak mempan, tegur agak keras. gak mempan juga, buat pengumuman di depan anggota lain. biasanya meradang tuh😛

kalau melawan? keluarkan dari komunitas. kalo dokter mah amputasi keknya ya?🙂

nah, bagian ini yang suka bikin pertemanan jadi gak enak. padahal yang diselamatkan itu komunitas. menyangkut hajat hidup orang banyak.

jika kamu masih mau berteman dengannya, ya di luar komunitas gak masalah. semua baik2 aja. tapi buat balik gabung, kudu sembuh dulu. bisa?

bicara soal aneka tabiat manusia dalam komunitas mah gak bakalan ada habisnya. pun dengan berbagai masalah yang selalu siap mengintai.

gue sih nyadar, dalam setiap komunitas, selalu menjadi the outsider yang selalu ditanya, “Lu bisa (ngasih) apa?” *senyum manis*

jadi berulang kali pula gue akan bilang, untuk urusan waktu, tenaga, dan pikiran gue bisa all out deh. tapi jangan dengan modal.🙂

siapa punya modal, gue yang kerja. gue bukan tipe pemodal. gue tipe pekerja lapangan. *wosah!*

etapi bener lho, berorganisasi dan berkumpul dalam komunitas, akan membuat kita belajar mengenal diri kita lebih baik lagi.

kita bisa mengenal orang lain dan bercermin. apakah kita sebaik / seburuk mereka?

menjadi tua itu sebuah kepastian, menjadi dewasa ya pilihanmu. tak ada paksaan untuk menjadi bijak atau barbar.

anger management dalam sebuah komunitas / organisasi adalah keharusan setiap individunya.

peraturan yang tak pernah ditulis dalam AD/ART mana pun toh?

karena setiap individu itu unik🙂 plus minus karakter yang mengayakan kita semua. mau menjadi lebih baik atau buruk? depend on you😉

tapi yang pasti, gue gak bisa kasih garansi seseorang itu baik atau jahat hanya dengan sekali atau dua kali pertemuan.

sebelum gue ada konflik sama seseorang, maka gue belum bisa menilai karakternya dalam mengatur kestabilan emosinya🙂

jadi, jika sebuah pertemanan lurus-lurus saja itu rasanya justru bagai minum air teh manis dalam gelas 200ml tapi gulanya 6 sendok makan.

ya lu bayangin aja gimana rasanya. :))))

tapi kalau sudah ada konflik meski kecil, setidaknya gue tau bagaimana harus bersikap di kemudian hari.

sampai detik ini aja, gue masih suka terkaget-kaget dengan adik kandung gue, gimana dengan teman baru?😉

but i love all my friends. they give me a wonderful life. so many thanks! muach!

—————————————

That’s all😉 Semua tulisan di atas murni ocehan berdasarkan investigasi dan analisa sotoy. Jangan percaya😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s