Menguji Kekuatan Diri Sendiri Ternyata (Tak Pernah) Mudah

Begitulah. Ketika hendak menulis postingan kali ini, mataku tertuju pada sebuah status di Facebook:

Cinta itu butuh pembuktian, bukan hanya sekedar ungkapan di mulut.

Kalau merasakan kebaikan dari orang yang dicintai, itu hal biasa. Bukan di sana bukti cinta.

Tapi cinta akan terbukti bila mampu menanggung sakit dari orang yang dicintai.

Oleh karena itu, sekalipun setiap saat dikibuli oleh orang yang dicintai, maka yang mencintai harus husnuzhzhan bahwa itu adalah tamparan sayang dari yang dicintai.

Orang mencintai harus kuat, tegar, dan sabar menerima apa saja dari yang dicintai, tanpa kritikan apalagi penentangan. Itulah konsekuensi dari cinta sejati.

(Ust. Zulfi Akmal)

Aku membacanya berulang kali. Sama seperti ketika aku membaca dan “membaca”, banyak hal yang membuat dinding pertahanan hatiku seperti hendak runtuh. Tetapi berulang kali pula, aku beristighfar dan menyebut nama-Nya tiada henti. Aku hanya bisa menahan perih sambil juga bercermin, aku telah melakukan apa terhadapnya?

Humor Allah selalu aneh dan tak pernah bisa membuatku tertawa di awal, namun terpaksa mengakui kekonyolanku sendiri di akhir cerita. Hari Senin tanggal 3 November, aku chit chat dengan teman dari siang sampai sore. Pas aku sedang menunggu antrian di kantor cabang Oriflame. Sebenarnya sudah bad feel, tapi berusaha untuk mengenyahkan semuanya. Hanya chat biasa, tak ada masalah. Benar, dalam 24 jam pertama tak ada masalah. Di 24 jam kedua, baru terasa ada yang aneh. Voila! Yah, sudah. Hanya bisa diam, merutuki diri sendiri karena terlalu baik untuk menanggapi obrolan gak jelas teman yang sudah lama tak bertemu.

Allah mencubitku. “An, kalau kamu tak mau dia melakukan hal itu, mengapa kamu melakukannya?” Ya, aku salah. Aku hanya berbuat baik. Tapi disalahartikan oleh temanku.

Ketika aku harus membuktikan keseriusanku untuk menjaga hati dengan segenap jiwa, ujian itu datang perlahan tapi sering. Pening dibuatnya. Yah, tak mudah tapi pasti bisa dilalui.

Aku akan selalu ingat pertanyaannya yang bernada protes (hihihihi… ups). Tetapi, aku masih tetap di sini. Menemaninya dari kejauhan. Menunggunya pulang. Aku yakin, ujian bagiku dan dirinya akan selalu ada. Seperti yang selalu dibisikkan Allah padaku, “Kamu pantas mendapatkan apa yang kaubutuhkan, asal nurut pada-Ku.”

Dan kesejukan dalam hati membuatku tenang. Nyaman. Penuh syukur. 🙂

(tulisan ke tujuh dari beberapa tulisan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s