Even At Your Worst Time

Kamu sering mendengar janji pernikahan (bahkan mungkin janji pacaran😆 ) yang kurang lebih begini: “Dalam suka dan duka.” Benar yah?🙂

Pernikahan bukanlah diselenggarakan untuk dilalui seminggu atau sebulan kemudian selesai. Ini bukan kontrak kerja. Pun permainan sandiwara belaka. Kamu tentu tahu bahwa salah satu keutamaan menikah adalah karena Allah menyaksikannya secara langsung dan hal ini berhubungan dengan Mitsaqan Ghaliza yang berarti ‘Perjanjian yang Kokoh’, yang sangat berat. Di dalam Al-Qur’an kata Mitsaqan Ghaliza hanya disebutkan 3 kali:
1. Allah swt membuat perjanjian dengan Nabi Nuh, Musa, Ibrahim, dan Isa as (Al-Ahzab :7)
2. Allah mengangkat bukti Thur di atas kepala Bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia pada Allah swt (An-Nisa : 154)
3. Allah menyatakan Hubungan Pernikahan (An-Nisa : 21)

Berat. Memang. Tetapi dengan menikah, inshaa Allah sudah menyempurnakan setengah dien. Setengahnya lagi dengan shalat, bekerja, berpuasa, dan ibadah lainnya.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah saw bersabda,”Wahai para pemuda, jika di antara kalian sudah ada yang mampu menikah hendaklah menikah karena matanya akan lebih terjaga dan kemaluannya akan lebih terpelihara. Jika ia belum mampu menikah hendaklah ia berpuasa karena puasa itu ibarat pengebiri.” (HR. Jama’ah)

Jika tak sanggup untuk berpuasa, ya menikahlah.🙂 Menikahlah maka engkau akan menjadi kaya. Tetapi mengapa banyak yang masih betah membujang? Karena tanggung jawab dalam sebuah pernikahan tidak ringan. Benar. Tetapi reward dari Allah juga tak sedikit.😉 Pilih mana?

Aku sih, kalau boleh memilih, maunya setengah dien itu disempurnakan dengan hal lain, jangan pernikahan. Tapi nyatanya kan gak begitu. Masa iya aku mau anti mainstream sendirian. oke, bagian ini emang sotoy

Menikah itu bukan hanya mau enaknya saja. Saling memanggil dengan mesra, saling menyuapi, tertawa ketika menonton film, atau bermanja di depan orang lain (lebay kalo yang ini). Menikah itu berarti ada perbedaan pendapat, lelah yang mendera setiap hari, jenuh karena rutinitas, salah paham, jengkel karena mertua ikut campur, atau cinta lama yang tetiba nongol tanpa diminta hingga cukup banyak menambah amunisi untuk berperang argumen. Juga ketika perasaan mulai hambar dan bisikan setan menggoda untuk mencari sesuatu yang menantang di luar rumah. Ups….

Nyatanya, tak sedikit yang tergelincir karena hal-hal sepele yang tak terungkap dan terucap. Dalam sebuah hubungan (pertemanan, bisnis, atau pernikahan) kunci utama agar bisa langgeng bin awet adalah komunikasi dan kejujuran. Ada masalah sekecil apapun, bila menyangkut pasangan atau anak, utarakan. Diskusikan. Jujur sebenarnya mudah. Tetapi bagaimana kita menerima dan mencerna kejujuran pasangan itu yang penting. Jangan sampai suami baru bilang, “Ma, tadi Papa ketemu Vonny….” belum kelar itu kalimat, istri sudah menyambar dengan kekuatan seratus ribu mega watt. “Ooohh… Pantas hape gak bisa dihubungin!” Weslah, negara api menyerang! Padahal mungkin bukan Vonny itu yang dimaksud. Kalau pun Vonny mantan pacar suaminya, lantas mengapa tak sabar menunggu sampai kalimatnya selesai? Atau ketika istri baru saja pulang dari reuni teman sekolah, suami nyamber sinis, “Ketemu lagi dong ya, sama Toni?” Waduh, istri yang capek baru buka pintu rumah sudah dicurigai demikian. Ribut yuk?😀

Ketika suami berada dalam titik terendahnya, bisakah istri menjadi pilar utama penyanggahnya? Dipecat? Bisnis bangkrut? Divonis kanker prostat? Bisakah istri menguatkan diri, mengalihkan pikiran buruk dan rasa takutnya, untuk menguatkan suaminya? Ada yang tidak bisa.

Ketika istri gagal mencoba resep masakan baru, bisakah suami memaklumi dan menenangkannya? Saat divonis tak bisa hamil, digosipkan berselingkuh dengan suami orang, atau meributkan masalah sepele seperti rambut rontok. Bisakah suami bersabar dan menjadi kekasih terhebat baginya?

Ketika suami kehilangan kepercayaan dirinya dan saat istri merasa tak lagi dicintai, ujian itu nyata adanya. Bisakah kita memahami pasangan dengan baik? Menikah artinya belajar mengenal pasanganmu dari hari ke hari, seumur hidup. Bullshit kalau ada yang berkoar ketika masih pacaran, “Gue udah kenal Tina luar dalam. Gimana keluarganya juga gue tau banget.” Aku bahkan masih belajar memahami adik kandungku sendiri hingga detik ini. Bagaimana dengan orang lain yang baru kutemui kemarin sore?

Ketika aku ditanya, “Kamu siap gak, nerima aku kayak gitu?” Tanpa berpikir panjang, aku mengatakan siap. Karena sejatinya, menerima utuh pasangan kita adalah dengan cara belajar memahami kondisi terburuknya atau kebiasaan jeleknya.

Tak peduli kamu mengenal calon pasanganmu sebelum menikah itu sepuluh tahun silam atau baru bulan lalu, kamu akan tetap terkejut dengan hal baru setiap harinya setelah kalian resmi menjadi suami istri. Aku sotoy ya, bicara tentang pernikahan di posisi sebagai single fighter? Hihihi… Well, setidaknya aku belajar dari pengalaman.🙂

Mencintaimu, caraku mengenalmu seumur hidup, S.

Catatan tambahan: Sebuah benang merah 🙂

(tulisan ke empat dari beberapa tulisan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s