Akhir Dari Sebuah Petualangan

Percayakah kamu bila kita bisa meminta jodoh sesuai keinginan kita? Aku percaya. Aku pernah mendapatkannya. Aku menginginkannya tetapi aku tak membutuhkannya. Kesalahan besar.

Makanya, ubahlah doamu dengan sebaik-baik permintaan. Aku melakukannya ketika hijrah ke Bandung pada bulan Mei 2012. “Allah, biarkan aku menata hatiku yang hancur, mentalku yang meradang, dan pikiranku yang terpecah belah. Beri aku kesempatan untuk bernapas sejenak.” Tetapi rupanya aku tak diberi kesempatan itu.šŸ™‚ Allah langsung menempaku dalam berbagai ujian. Allah tahu, jika aku diberi waktu untuk menenangkan diri, aku justru akan semakin terpuruk. Aku termasuk makhluk rapuh. Ohix.

Selepasnya dari Depok, Allah langsung menyuruhku masuk ke sebuah bus dan membekaliku sebuah peta. Sama sekali bukan peta dengan rute yang mudah untuk dilalui. Mengapa ada tempat transit yang menjebak seperti terminal bayangan yang menipu seolah seperti terminal akhir dan hotel berhantu, tikungan tajam, jurang, tanjakan curam, dan jalanan berlubang. Sungguh melelahkan.

Hm, aku lantas berpikir bahwa inilah cara Allah menghukumku karena kesalahan yang kulakukan di tahun 2002 kepada Bapak. Aku langsung menyadari hal ini dan bersyukur bahwa Allah memberi peringatan di dunia. Tak terbayangkan bila harus kujalani di kampung akhirat nanti. Tentu saja, Allah ingin aku menjadi lebih bersih setelah ditempa dan dihukum, agar aku bisa memantaskan diri dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Aku masih memiliki otak kriminal nih. Peta yang diberikan Allah tak selalu kuikuti. Tanda dilarang mendekat pun kuterabas dan menghasilkan hukuman tambahan. nyengir Keegoisanku membuat perjalananku agak berantakan. Aku lupa, peta perjalanan ini adalah bekalku untuk menuju impian akhirku.Ā “An, kalau kamu benar serius menginginkan terminal itu menjadi yang terakhir, nurut sama Aku. Kamu hanya tinggal mengikuti peta yang Kuberikan. Jangan lengah, jangan sekali-kali berhenti di tempat yang tak ada dalam peta.” Apa yang kulakukan? Melanggar!

Itulah. Sekali lagi sebuah pertanyaan terngiang.Ā “An, percayakah kamu bahwa Aku sedang menyiapkan sesorang yang kauminta dalam setiap doamu?” Aku merasa AllahĀ berulang kali bertanya itu padaku setiap aku berpikir bahwa aku sebaiknya menyerah dan berhenti di tengah jalan.

“Allah, berjanjilah padaku bahwa terminal terakhirku adalah benar yang kuangankan dan memang sesuai dengan kebutuhanku.” Suaraku rasanya tercekat.

“Asalkan kau kembali pada peta yang sudah Kuberikan. Kemarin mampir di taman rekreasi sama sekali tidak Kusuka. Sudah menikmati hukuman-Ku, bukan?”

Aku tak sanggup lagi menjawab. Lama, aku diam. Tetiba hatiku terasa hangat.

“An, Aku sudah menjanjikan padamu, yang kaubutuhkan sudah Kusiapkan. Aku masih ingin melihat kesungguhanmu dalam memperjuangkan apa yang pantas menjadi milikmu. Oh ya, jangan lupa untuk terus menyebut dengan rinci apa saja kebutuhanmu. Mungkin nanti bisa Kutambah atau Kuperbaiki lagi. Syarat dan ketentuanĀ berlaku ya?”

Kurasakan Allah tersenyum. Aku sudah tahu apa yang kubutuhkan. Sekarang aku sudah yakin, aku tak membutuhkan apapun lagi di terminal terakhirku itu. Aku tak lagi memikirkan yang lain. Dan ketika aku tiba nanti, aku membayangkan satu sosok sedang menungguku dengan senyum termanis dan pelukan terhangatnya.

.

.

.

.

.

#MyS.

(tulisan ketiga dari beberapa tulisan)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s