Alasan yang Semakin Menguat Untuk Memantaskan Diri

Setahun terakhir, selalu berseliweran kalimat yang cukup “mengganggu” di hampir semua media sosial. Agak tidak nyaman untukku pribadi. Meski memang menohok luar bi(n)asa.

“Kamu sudah memantaskan diri untuk mendapatkan jodoh yang sesuai keinginanmu?” Meski tulisan sederhana itu bukan untukku, tetapi aku merasa Allah sedang bertanya kepadaku melalui tulisan orang lain itu. Aku hanya bisa menggeleng pasrah.

Dalam dua tahun, aku seperti bukan diriku sendiri. Hancurnya rasa percaya diri dan keberanian yang lenyap nyaris tanpa sisa itu membuatku menikmati rasa bersalah selama dua kali 12 bulan itu. Aku berusaha mencari perhatian Allah dengan melakukan hal-hal yang sangat tidak elok. Marah, menangis, berpikiran buruk, apatis, egois, dan entah apa lagi.

Kemudian, di akhir tahun 2013, aku mulai merasa bahwa jika terus-menerus berkelakuan seperti anak kecil yang meminta permen begitu, apakah pantas aku mendapatkan pendamping yang kuimpikan? Bagaimana dengan pertanyaan polos si bungsu yang menanyakan kapan aku akan memberinya ayah. Uh oh…

Awal tahun 2014, aku masih belum menemukan jati diriku yang dulu. Aku masih rapuh dan tak berdaya menghadapi bujuk rayu duniawi. Tetapi sudah mulai ada perasaan bahwa ada seseorang yang menungguku entah di mana, ingin agar aku mengubah kelakuan minusku. Demi dirinya. Entah siapa.

Setelah lebaran Idul Fitri 1435 H., aku masih belum tahu bagaimana caranya aku memulai untuk memantaskan diri. Malahan, aku merasa percuma dengan puasa, shalat, dan sedekahku. Ada yang salah. Niatku masih kotor.

Setahun ini, Allah mulai langsung menunjukkan hukuman-Nya kepadaku bila aku menguji kekuatan-Nya. Sepertinya itu kode tingkat nirwana. Biasanya, aku merasakan Allah kadang ‘menunda’ hukuman sampai pada saat aku dibuat-Nya menangis sampai memukul tembok. Drama kan?šŸ˜€ Tetapi tidak setahun terakhir ini. Allah, tanpa basa-basi selalu langsung memberikan kartu kuning kepadaku. Teguran-Nya maha nyelekit. Humor-Nya tak pernah tertebak. Aku hanya bisa terpana…

Terakhir, adalah tanggal 23 Oktober. Tamparan telak dari Allah kuterima tak sampai 30 menit dari dosa yang kulakukan. Melawan perintah-Nya dengan sadar… Hukumannya kuterima sejak saat itu hingga 29 Oktober. Nyaris tanpa celah yang bisa membuatku mencari alasan agar bisa dimaafkan segera.

Ah… Kemudian aku sadar, bukankah aku sedang meminta untuk dipertemukan dengan seseorang dalam cinta-Nya? Lantas mengapa aku justru bertingkah dengan membuat-Nya jengkel? Seolah Dia hendak berkata, “Kamu masih mau mendapatkan pria itu sebagai imammu, seperti permintaanmu selama ini? Atau sudah gak mau?” Aaaaaaaaahhh…. Salah lagi!

Semalam, aku merenungkan rekam jejakku selama dua tahun dan yang Allah lakukan dalam setahun ini. Betapa Dia mencintai kedua anakku dan menempaku dalam berbagai kesempatan dengan selipan humor-humor cadas-Nya. Karena Dia tahu, pria yang kuminta pada-Nya sebagai imam adalah pria misterius dengan kejutan-kejutan unik setiap harinya. Aku dipersiapkan untuk itu.

Benarkah? Wish me luck!šŸ˜‰

(tulisan kedua dari beberapa tulisan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s