Kita, Makhluk Sosial Sok Tahu dan Sok Hebat

Diberi akal, namun malas mencari tahu dan bertanya kepada yang lebih paham.

Diberi napsu, noraknya melebihi binatang sehingga rasanya tak pantas disebut beretika.

Kadang, memang manusia seperti itu.

“Wuw, si A blagunya maksimal! Kayak yang bisa aja!”

“Buset dah si B, playing victim mulu, dasar drama queen! Cocok deh jadi pemenang Oscar sebagai tukang cuci!”

“Itu ye si C, jahat banget! Fitnahnya keterlaluan!”

Dan semua sumpah serapah tumpah ruah di lautan caci maki.

Keburukan yang disampaikan pada orang lain, dikhawatirkan akan berbalik kepada diri sendiri. Inilah yang kutakutkan setiap saat jika terjadi kepada diri sendiri.

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Tidaklah seorang hamba menutupi aib hamba lainnya di dunia kecuali Allah akan menutupi aibnya pada hari hari kiamat.” (HR. Muslim)

Bisakah kita menahan diri untuk tidak mencela saudara sendiri?

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَلِيمٌ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِر

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla maha lembut maha pemurah, malu dan suka menutupi. Dia mencintai rasa malu dan tertutup, maka apabila salah seorang kalian mandi hendaknya memasang penutup.” (HR. al-Nasai)

Tertutup secara maknawi adalah menutupi aib dan perbuatan dosa dengan tidak menceritakan dan menyebarkannya kepada orang lain. Ini juga berlaku atas orang yang melihat saudara muslimnya telah melakukan perbuatan dosa atau melakukan tindakan hina maka janganlah ia menyebarkannya kepada msyarakat, tapi hendaknya ia mencegahnya dari perbuatan maksiat dan menyuruhnya bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karenanya Islam melarang keras umatnya dari mencari-cari kesalahan kaum muslimin yang tersembunyi untuk dia sebarkan ke tengah-tengah manusia. Perbuatan tersebut dapat mengundang murka Allah kepadanya dan menyebabkannya mengerjakan perbuatan buruk saudaranya tadi. Karena balasan sesuai dengan jenis amal. Maka siapa yang mencari-cari aib orang lain dan menyebarkannya di tengah-tengah manusia maka Allah akan menyingkap aibnya dan menyebarkannya di tengah-tengah makhluk-Nya. Bahkan dosa dan maksiat yang dikerjakannya di dalam kamarnya di tengah malam akan juga diketahui orang. Wallahu Ta’ala A’lam. (sumber VoaIslam)

Bila memang kita mengaku bersaudara seiman, marilah saling menutupi aib dan menasihati dalam keadaan yang hanif dan ma’ruf. Ya, ini juga sebagai bahan pelajaran bagiku untuk bisa memperbaiki diri. Tahan emosi agar tak menggosip. Makanya aku lebih suka konfirmasi langsung ke orangnya. Bertanya ke teman terdekatnya /  saudaranya. Sebisa mungkin mencari sumber yang dapat dipercaya dan diyakini kebenarannya.

Kalau mengenai seorang selebtwit atau pesohor, bagaimana? Aku tipe yang senang bermain gelombang dan suka heboh. Aku memang dikenal tukang rusuh😛 Jadi untuk bagian ini aku sudah mulai selektif. Hanya untuk meramaikan suasana, bukan yang masih praduga.

Kembali kepada topik utama, bagaimana kita bisa dengan mudah menilai orang lain buruk dengan segala caci maki, tak pernah disadari. Namanya makhluk sosial yang senang berinteraksi dengan orang lain, hewan, dan tumbuhan, maka sejatinya yang bernama perbedaan pastilah ada. Kita tak suka dengan pribadi seseorang, itu juga bisa terjadi.

Itu bila kita melakukannya kepada orang lain. Bagaimana bila ternyata aib kita yang dibeberkan oleh orang lain? Hukumnya sama. Berkaca kembali. Apakah ada kesalahan kita mengumbar aib orang lain? Karma does shit happen, dear. Hukum bumerang itu memang berlaku adil. Aku pribadi termasuk yang mudah merasakan bahwa aku sedang menjadi perbincangan orang lain. (cieeeeee, sok seleb lu, An! iya, selebetis!😀 ) Kalau perasaan dan insting udah gak enak, buru-buru istighfar dan mohon ampun pada Allah. Meminta-Nya agar menutup semua aib-aibku. Perbanyak sedekah dan meminta maaf pada banyak orang. (Umur juga gak ada yang tahu kan?)

Aku masih sok tahu. Aku masih sok benar. Aku masih sok bersih. Aku masih sok hebat. Untuk itu, tulisan ini kutulis sebagai refleksi mulut dan jemariku.

Demikianlah.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s