Still There When Everything Goes Wrong

Membaca sebuah artikel tentang bedanya Jatuh Cinta dan Mencintai. Aku terpana membaca poin nomer 6.

Cinta yang sungguh-sungguh biasanya sudah melewati berbagai ujian. Kamu dan pasanganmu mungkin sudah menjalin hubungan selama beberapa tahun. Melewati momen bahagia, sedih, hingga perasaan kecewa lantaran kepercayaan yang pernah dikhianati. Namun, cinta yang kuat menjadikan kalian bisa bertahan — bukan memilih menyerah lalu mencari cinta yang lain.

Aku berulang kali membacanya. Butuh pembuktian dengan bantuan sang waktu.

Aku menulis sebuah status di BBM subuh tadi:

Every relationship has its problems, but what makes it perfect is when you still want to be there when everything sucks. Oh, well.

Temanku menimpali, “Berat amat statusnya.” Kubilang bahwa bagian paling berat adalah ketika menjalani episode jeleknya. Paling menyakitkan ketika satu orang ingin berjuang dan seorang yang lain ingin menyerah. Dia bilang, “It takes two to tango.” Yeah…

Aku mencoba mencernanya. Aku tahu, tak selamanya seorang pria bersikap menyenangkan. Dia pasti akan ada di saat terburuknya. Begitu menyebalkan dan terkadang memperburuk suasana. Iya, aku sudah tahu beberapa kebiasaan jeleknya yang membuat kaget dan jengkel. Tapi ya begitulah manusia. Gak selalu menjadi pribadi yang menarik. Masalahnya, bisa gak sih kita menerima jelek adatnya pasangan?

Ketika dia menanyakan hal itu, “Kamu bisa gak terima aku kayak gitu?” Aku dengan tenang menjawab, “Tentu saja bisa.” Untuk apa aku bereaksi negatif juga ketika dia sedang meledak emosi atau bertingkah ajaib? Justru aku harus bisa dengan tenang menghadapinya dan memberinya ruang untuk sendiri. Men Are From Mars. Mereka harus mundur sejenak dari sebuah hubungan untuk menenangkan diri. Pria memiliki gua pribadi untuk mengurai apa yang membebaninya. Hangout dengan teman, mengutak-atik hobinya, atau semakin tenggelam dengan pekerjaannya. Apa saja. Pria butuh ruang menyendiri yang tak bisa diganggu oleh wanitanya.

Makanya kenapa jika ada yang tidak biasa darinya, aku paham kalau dia sedang masuk ke dalam guanya. Aku tak menganggunya dengan pertanyaan murahan, “Kamu kenapa sih berubah?” Terlalu alay dan lebay. Cinta dewasa tak akan mengeluarkan pertanyaan seperti itu. tsaaaaahh

Ketika dia menjadi begitu menjengkelkan, sebaiknya mundur teratur. Tetap mengawasinya dari jauh. Tetap mendoakannya. Ketika dia selesai bersemedi dalam guanya, dia akan kembali dengan cintanya yang baru, hangat, dan menjadi pribadinya yang selama ini mengalihkan duniaku. Ihiy.

Makanya, mencintai berbeda dengan jatuh cinta. Jatuh cinta seperti bermain kembang api, sementara mencintai seperti menyalakan lilin. Aku gak pernah menganggap sebuah hubungan hanya selintas lalu. Aku memang mudah jatuh cinta. “Eh, cakep. Eh, ganteng. Eh, pinter.” Tetapi untuk mencintai, aku pemilih. Karena aku memilih bertahan ketika pasanganku berada dalam kondisi terburuknya, bukan dengan meninggalkannya sendiri.

Baik-baiklah kamu selama di gua ya, S. ♥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s