Bad Boy yang Direstui Bapak

Kania mengaduk es campurnya dengan wajah merengut. Felicia meliriknya sebal. “Abisin tuh es. Bentar lagi kelasnya Pak Iwan, lho.”

Kania tak mendengarnya. Pikirannya sibuk mengingat kejadian tadi pagi di gerbang kampus. Ave, cowok paling beken di Fakultas Ekonomi itu menatapnya tajam dan nyaris tak berkedip dari dalam mobil Mitsubishi Strada hitamnya. Kania merasa seolah ditelanjangi di depan teman-temannya. “Ini yang namanya Kania Larasati?” tanya Ave dengan intonasi interogasi.

“Ada yang bisa saya bantu?” Kania belum sadar dari bingungnya.

“Ternyata kamu? Denger-denger gosip, kamu selalu dapat IPK sempurna 4,00 karena bisa dipesan sama dosen ya?” Ave menatap Kania jijik. Bagai tersengat listrik puluhan megawatt, Kania melotot dan menutup mulutnya karena kaget.

“AVE!” Bentak Felicia sambil mendekat. “Eh, bajingan! Denger ya! Sekali lagi lu ngomong begitu, bersiap berakhir di penjara!”

Ave bersiul dan mencibir. “Bisa apa lu, Fel?”

“Bisa apa? Bisa membuat lu menderita karena fitnah keji lu itu! Bangke lu!” Felicia menarik tangan Kania yang mulai menangis karena malu.

“KANIA!” Felicia mencubit lengan sahabatnya dan melotot. “Lupain drama tadi pagi. Lu kayak kagak tau Ave aja. Biang onar seantero Ekonomi. Tajir melintir, pintar, tapi bad boy kelas kakap. Basa basi busuk banget dia nanyain siapa elu dan cari masalah bikin fitnah gitu. Dia itu gak bego. Dia bisa cari tahu soal elu via BEM. Koplak!” Felicia berapi-api. Kania, mau tak mau, terkekeh.

Sebulan setelah peristiwa menggegerkan itu, Kania mulai lupa. Hari ini dia harus pulang ke Solo. Bapak memanggilnya tanpa bilang kenapa. Sesampainya di teras rumah, ia melihat Ave sedang menyesap kopi dengan santainya.

Sejam kemudian, “Kania, Nak Ave ini ternyata pengagummu dari semester pertama ya?” Bapak tersenyum penuh arti.

“Memfitnah saya di depan teman-teman itu termasuk mengagumi?” tanya Kania retorik.

Anger management kamu bagus. Aku suka,” senyum Ave tengil banget.

Kania menelan ludah. Felicia bisa pingsan kalau tahu hal ini.

—————

diikutsertakan dalam flash fiction PIPET.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s