Ketika Semesta Mendukung, Maka Terjadilah!

Doa yang terpanjat ke langit Cinta, mencoba untuk mengikuti skenario yang sudah tertulis jauh sebelum bumi terbentuk.

Memasrahkan diri, jika memang pantas, maka mudahkan segalanya hingga semua rencana-Mu sempurna.

Ridho sayap bidadari menyempurnakan ikhtiar. Semesta membuka langit agar hujan restu menyirami hati yang berserah ikhlas.

—————–dan dalam hening, aku mengingat kisah seorang teman————————

“An, gue pisah dari suami pertama karena sejak awal gak dapet restu Bapak. Gue malah lempeng aja jalan. Baru sadar saat gue cerai. Trus ya, gue sih pasrah aja mau dapet suami lagi ya alhamdulillah, kalo gak juga gak papa. Udah terbiasa mandiri selama empat tahun. Tau-tau doa Ramadhan gue diaminin orangtua. Lebaran taun depan gue gak akan sendiri lagi. Nah, sebulan kemudian temen SD gue nelepon setelah sekian lama gak ketemu. Berjam-jam dia nelepon gue. Tau gak? Besoknya dia ngelamar gue dong! Gue tanya ke ibu gue. Ya namanya udah direstuin bakalan dapet lagi, jadi nikah lagi bukan rencana gue tahun depan. Tuh kan kalo Allah udah punya rencana, kita bisa apa?”

Aku tersenyum sambil bingung mau komentar apaan. Ada rasa tergelitik yang membuatku kehilangan kata-kata.

Aku terenyak dan menyadari sesuatu…. Bukan suatu kebetulan bila saat ini aku mengenalmu. Bukan tanpa rencana Tuhan jika aku harus merasa seperti mengenalmu seumur hidupku.

Tetapi, jika aku merasa hal ini garis Tuhan, bagaimana bila semesta sama sekali tidak mendukungku? Tidak. bukan semesta. Tetapi kamu. Kamulah kunci dari segala doa yang melangit. Kamulah yang selama ini ada dalam setiap sujudku. Karena aku tak pernah meminta seorang pendamping hidup yang ala kadarnya. Aku membutuhkan seseorang yang akan senantiasa melindungiku. Membantuku menyembuhkan lukamu yang begitu dalam.

Pertanyaanku sejak awal berkenalan denganmu sudah terdengar gila di telinga malaikat dan penghuni langit, “Tuhan, apakah dia akan melamar dan memintaku menjadi ibu dari anak-anaknya pada pertemuan pertama kami, tanpa harus menunda lebih lama lagi?”

Kemudian doa itu pun terkirim ke langit. Setiap hari. Minimal lima kali. Di ujung gelisah, di tengah rasa takut, dan di sudut hati yang bersimpuh luluh pada-Mu…

Kalau bicara siap tak siap, aku pun akan berkata bahwa aku tak siap sama sekali. Tetapi beribadah kepada-Nya, tak pernah bisa ditunda.

*dan doa pun tetap terpanjat dalam ketidakberdayaan*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s